RIBUAN PERANTAU GUNUNGKIDUL PULANG BERSAMA IKATAN KELUARGA GUNUNGKIDUL
Gunungkidul TV – Sore kemarin, Ahad (15/03/2026) /angit di wilayah Semin, timur Kabupaten Gunungkidul, tampak indah. Namun yang membuat suasana berbeda bukan hanya cuaca, melainkan deretan bus yang perlahan memasuki Terminal Tipe C Semin.
Satu per satu pintu bus terbuka. Dari dalamnya turun para penumpang dengan wajah lelah, tetapi mata mereka menyimpan sesuatu yang sulit disembunyikan: kegembiraan karena akhirnya pulang. Inilah rombongan Mudik Bebarengan 2026 yang diinisiasi oleh Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG), komunitas warga Gunungkidul di perantauan. Setelah menempuh perjalanan panjang dari wilayah Jabodetabek, sekitar 1.570 orang akhirnya kembali menginjak tanah kelahiran.

Terminal yang biasanya sederhana itu mendadak menjadi panggung pertemuan penuh haru. Ada yang langsung menyalami kerabat yang menunggu di pinggir terminal, ada pula yang memeluk orang tua dengan mata berkaca-kaca.
Pulang kampung memang selalu punya cerita
Di tengah keramaian itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih berdiri menyambut kedatangan para pemudik. Ia hadir bersama jajaran pejabat daerah—anggota DPRD, Asisten II Setda, serta Kepala Dinas Perhubungan. Bagi pemerintah daerah, kedatangan para perantau bukan sekadar mobilitas musiman. Ia adalah pertemuan kembali antara kampung halaman dengan warganya yang selama ini mencari nafkah di kota besar. “Selamat datang kembali di Gunungkidul,” kata Endah membuka sambutannya, disambut tepuk tangan para pemudik.
Nada suaranya hangat, seperti tuan rumah yang menyambut keluarga jauh pulang ke rumah. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada pengurus IKG yang telah mengorganisasi perjalanan mudik secara kolektif. Program ini, menurutnya, bukan hanya memudahkan perjalanan warga, tetapi juga menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Gunungkidul.
Ucapan khusus ia sampaikan kepada Suyanto, ketua panitia Mudik Bebarengan 2026 yang mewakili pengurus pusat IKG. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Yanto yang telah diberi amanah untuk menyambut keluarga besar IKG yang pulang kampung melalui Terminal Semin ini,” ujarnya.
Di hadapan para pemudik, Endah juga menyampaikan harapannya. Ia membayangkan suatu masa ketika warga Gunungkidul tidak hanya pulang saat Lebaran, tetapi juga bisa kembali dengan rasa bangga karena daerahnya semakin maju. “Semoga di tahun-tahun mendatang suasana semakin akrab dan rukun, sehingga Gunungkidul menjadi semakin ramai karena masyarakatnya sejahtera dan bisa pulang menengok keluarga,” katanya.
Bagi Ikatan Keluarga Gunungkidul, program mudik bersama bukan sekadar agenda tahunan. Ia lahir dari kesadaran sederhana: tidak semua perantau memiliki kemampuan pulang kampung dengan mudah. Ketua panitia Suyanto, menjelaskan bahwa tahun ini sebanyak 31 armada bus diberangkatkan dari Jabodetabek menuju berbagai wilayah di Gunungkidul.
Total sekitar 1.570 orang ikut dalam rombongan tersebut. Yang menarik, seluruh kegiatan ini berjalan berkat dukungan para donatur dan anggota komunitas sendiri. Dana dikumpulkan secara swadaya, sebagai bentuk solidaritas antarperantau. “Ke depan IKG harus semakin fokus pada kegiatan sosial,” kata Suyanto.
Menurutnya, kegiatan sosial merupakan identitas organisasi yang harus terus dijaga. “Bagi IKG, kegiatan sosial adalah prioritas nomor satu,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah daerah melihat program ini juga membawa manfaat dari sudut pandang transportasi. Kepala Dinas Perhubungan Gunungkidul Irawan Jatmiko mengatakan bahwa mudik bersama membantu pemerintah mengelola arus lalu lintas menjelang Lebaran. Ketika perjalanan dilakukan secara kolektif dengan bus, potensi kepadatan kendaraan pribadi dapat ditekan. Selain itu, faktor keselamatan juga lebih terjamin. “Kegiatan ini jauh lebih efisien, lebih murah, dan tentu saja lebih aman bagi para pemudik,” kata Irawan.
Pemerintah bahkan berharap jumlah peserta program ini terus meningkat. Targetnya, pada tahun mendatang peserta mudik bersama bisa mencapai 2.500 orang. Jika tercapai, tradisi ini akan semakin memperkuat hubungan antara masyarakat perantauan dan kampung halaman.

Bagi para pemudik, perjalanan pulang bukan hanya soal jarak yang ditempuh. Ia adalah perjalanan emosional. Ada yang sudah setahun tidak pulang. Ada pula yang bertahun-tahun merantau demi pekerjaan. Terminal Semin hari itu menjadi saksi pertemuan kembali antara rindu dan kenyataan. Menjelang perayaan Nyepi pada 19 Maret 2026 dan Idul Fitri pada 20–21 Maret 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan toleransi.
Mudik bukan sekadar tradisi tahunan. Ia juga menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang, kehidupan sosial di kampung halaman tetap bertumpu pada kerukunan. Sementara itu, bus terakhir perlahan meninggalkan terminal. Para pemudik sudah dijemput keluarga masing-masing, menuju desa-desa di berbagai sudut Gunungkidul.
Terminal kembali tenang
Namun bagi ribuan orang yang baru saja turun dari bus itu, perjalanan mereka sebenarnya baru saja dimulai perjalanan pulang ke rumah. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.