BUPATI GUNUNGKIDUL TEBAR BENIH LELE DI KARANGREJEK, PERKUAT KETAHANAN PANGAN DAN DUKUNG PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS

Gunungkidul TV – Pagi di Padukuhan  Karangsari, Kalurahan Karangrejek, Wonosari, Senin (19/1/2026), terasa berbeda. Deretan kolam budidaya ikan tematik yang biasanya sunyi, pagi itu dipenuhi aktivitas dan percakapan penuh harap.

Tepat pukul 08.00 WIB, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menebarkan ribuan benih lele ke dalam kolam bioflok sebuah simbol kecil dari ikhtiar besar menjaga ketahanan pangan sekaligus mendukung Program Makan Bergizi Gratis.

Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB tersebut dihadiri sekitar 50 orang, mulai dari jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, unsur TNI-Polri, perangkat kalurahan, hingga pengurus Koperasi Desa Merah Putih. Hadir di antaranya Kepala DKP Gunungkidul M. Johan Wijayanto, Danramil 01 Wonosari Kapten Cba Tri Ajilaga, Kanit Lantas Polres Gunungkidul AKP Sunardi, Lurah Karangrejek Marjana beserta perangkat, Ketua Koperasi Desa Merah Putih Sujarwanto, serta Ketua Bamuskal Karangrejek Sutrisno.

Dalam sambutannya, Bupati Endah menegaskan bahwa penebaran benih lele ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari skema besar sinergi ketahanan pangan daerah. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kelompok budidaya dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar hasil panen lele dapat terserap secara pasti sebagai menu Makan Bergizi Gratis. “Kalau tidak ada kepastian penjualan, justru bisa menjadi beban bagi kelompok. Kerja sama dengan SPPG inilah yang akan menjamin hasil panen lele terserap,” ujar Bupati.

Tak hanya berbicara soal hilir, Bupati juga memberi perhatian serius pada proses hulu. Ia mengibaratkan perawatan benih lele seperti merawat bayi manusia membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan perhatian penuh. Mulai dari menjaga kestabilan pH air, memastikan suplai oksigen melalui aliran listrik yang aman, hingga kewaspadaan tinggi pada masa kritis dua hingga tiga hari pertama pasca-penebaran agar benih tidak stres akibat perubahan lingkungan.

Menariknya, sistem budidaya ini juga diarahkan untuk terintegrasi dengan sektor pertanian. Limbah kolam bioflok, menurut Bupati, sangat potensial dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman sayuran seperti kangkung di sekitar lokasi. Dengan demikian, satu ekosistem pangan dapat saling menopang ikan tumbuh, sayuran subur, dan gizi masyarakat pun tercukupi. “Dengan manajemen yang baik, termasuk penyortiran ikan secara rutin berdasarkan ukuran, pasokan lele untuk SPPG bisa berkelanjutan, setidaknya dua hari sekali,” harapnya. Ia juga mendorong para pengelola untuk aktif belajar, bahkan melakukan studi banding ke tempat budidaya lele lain yang telah berhasil, agar pengetahuan dan keterampilan terus berkembang.

Sementara itu, Ketua Koperasi Desa Merah Putih Karangrejek, Sujarwanto, mengungkapkan bahwa bantuan budidaya ini diperoleh setelah melalui proses pengajuan proposal ke DKP Gunungkidul. Pihak koperasi pun tidak tinggal diam. Persiapan lahan telah dilakukan selama kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya siap menerima benih lele hari ini. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Harapan kami, pendampingan dan pengawalan dari dinas tetap berlanjut pasca-penebaran agar usaha budidaya ini sukses dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dari kolam-kolam lele di Karangsari, harapan itu kini mulai berenang. Bukan hanya tentang panen ikan, tetapi tentang sinergi antara pemerintah, koperasi, dan masyarakat yang bersama-sama menyiapkan masa depan pangan Gunungkidul yang lebih bergizi, mandiri, dan berdaya. (Red)

__Terbit pada
Januari 20, 2026
__Kategori
News