DARI DARURAT KE PEMULIHAN SUMATERA, MDMC DAMPINGI 600 GURU DAN SISWA TERDAMPAK BENCANA

Gunungkidul TV – Bencana tidak selalu meninggalkan luka yang tampak di permukaan. Di balik rumah yang terendam banjir dan ruang kelas yang porak-poranda, ada trauma, kecemasan, dan rasa takut yang diam-diam menetap terutama pada anak-anak dan para pendidik. Memasuki masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Sumatera, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mengambil peran penting untuk merawat luka-luka tak kasatmata tersebut.

Selama 5-7 Januari 2026, MDMC menyelenggarakan Pelatihan Dukungan Psikososial bagi 600 guru dan siswa terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Kegiatan ini digelar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, sebagai bagian dari respons lanjutan Muhammadiyah untuk memastikan pemulihan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga kesehatan mental dan keberlanjutan pendidikan.

Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi antara Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah (LRB) / MDMC dengan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (PKPLK Kemendikdasmen). Dukungan juga datang dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, serta sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah seperti Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, UMSU Medan, UMAHA Bireuen, Fakultas Psikologi UNMUHA, hingga Dinas Pendidikan di tiga provinsi terdampak.

Koordinator Layanan Dukungan Psikososial Posko Nasional Muhammadiyah Respons Bencana Sumatera, Natta Hendriatti, menuturkan bahwa fase transisi menuju pemulihan menjadi masa krusial bagi anak-anak dan pendidik. Pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah, banyak siswa mengalami kecemasan, sulit berkonsentrasi, bahkan kehilangan rasa aman. “Anak-anak dan guru membutuhkan ruang aman untuk memulihkan kondisi psikososial mereka. Tanpa itu, proses belajar sulit kembali berjalan secara utuh,” ujarnya.

Dalam pelatihan ini, murid diajak mengenali perasaan yang muncul setelah bencana takut, sedih, cemas serta dibekali teknik sederhana untuk meredakan stres. Mereka juga diberi ruang untuk berbagi pengalaman, membangun kembali rasa aman, dan menyusun rencana pemulihan pribadi yang dapat diterapkan di sekolah maupun hunian sementara.

Sementara itu, bagi para guru, pelatihan difokuskan pada penguatan peran pendidik sebagai garda terdepan pemulihan anak. Guru dibekali pemahaman tentang dukungan psikososial dalam situasi darurat, keterampilan mendeteksi gejala psikologis pada murid, hingga kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan suportif. Tak hanya berhenti pada teori, para guru juga diajak menyusun rencana aksi pemulihan, agar layanan pendidikan di sekolah terdampak dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dan fasilitator dari MDMC serta kalangan profesional, di antaranya Budi Santoso, S.Psi., M.K.M., Zakarija Achmat, M.Si., Psikolog, Dr. Elisa Kurniadewi, Psikolog, dan Natta Hendriatti, S.Psi., M.Si. Sebanyak 600 peserta terlibat aktif, terdiri dari 200 siswa dan 400 guru dari satuan pendidikan negeri maupun swasta di wilayah terdampak bencana.

Melalui pelatihan dukungan psikososial ini, MDMC berharap pemulihan pascabencana tidak hanya mengembalikan bangunan dan fasilitas pendidikan, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa aman, harapan, dan ketangguhan mental. Bagi anak-anak, ini adalah langkah awal untuk kembali belajar tanpa rasa takut. Bagi guru, ini adalah penguatan peran sebagai pendamping pemulihan generasi masa depan menuju sekolah yang aman, ramah, dan berdaya di tengah proses bangkit dari bencana. (Red)

__Terbit pada
Januari 7, 2026
__Kategori
News