
KABUPATEN GUNUNGKIDUL SAMBUT PERALIHAN MUSIM, DARI TERIK PANAS MENUJU RINTIK HUJAN
Gunungkidul TV – Siang yang terik, langit biru membentang tanpa awan dan udara panas yang menyengat kulit itulah suasana khas Gunungkidul selama puncak musim kemarau di bulan Agustus. Namun, dalam beberapa hari terakhir, perubahan kecil mulai terasa. Awan mendung kerap menggantung di sore hari, disusul rintik hujan yang jatuh tiba-tiba.
Fenomena ini menjadi pertanda bahwa Bumi Handayani mulai memasuki masa transisi dari kemarau menuju musim hujan. Meskipun secara iklim hujan deras baru akan benar-benar rutin turun pada akhir Oktober atau November, kehadiran hujan lokal di bulan September memberi warna baru di tengah keringnya perbukitan kapur.
Menurut keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, Gunungkidul saat ini berada pada fase pancaroba. “Memasuki September, peluang hujan lokal meningkat. Sifatnya masih sporadis, bisa deras di satu titik tetapi kering di titik lain. Pola ini akan berlangsung hingga menjelang Oktober,” jelas seorang prakirawan BMKG. Bagi warga, datangnya hujan meski sesaat saja sudah membawa rasa syukur. Siti Maryam (43), warga Kapanewon Playen, mengaku senang saat gerimis pertama turun di pekarangan rumahnya. “Rasanya adem sekali, tanah yang kering jadi harum, anak-anak langsung keluar main air hujan. Walaupun sebentar, cukup membuat hati lega,” tuturnya.
Kehadiran hujan di masa transisi ini juga ditunggu oleh para petani. Mereka mulai bersiap menata lahan, menunggu saat yang tepat untuk menanam padi. “Kalau sudah ada tanda-tanda begini, kami biasanya mulai menyiapkan sawah. Hujan pertama itu jadi semacam aba-aba dari alam,” ujar Sarjono (56), petani asal Semanu.
Namun, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Pada masa pancaroba, hujan sering disertai angin kencang, petir, bahkan puting beliung skala kecil. Karena itu, warga dianjurkan selalu memperhatikan prakiraan cuaca harian sebelum beraktivitas di luar rumah. Peralihan musim memang selalu membawa cerita tersendiri bagi Gunungkidul. Dari langit cerah penuh debu kemarau, kini mulai hadir rintik hujan yang menyegarkan. Dan sebagaimana siklus alam, perubahan ini menjadi pengingat bahwa setelah panas terik yang panjang, kesejukan akan selalu datang membawa harapan baru.
Tren Cuaca 7 Hari ke Depan
Hujan Lokal dan Gerimis di Beberapa Hari. Beberapa hari mendekati akhir pekan diprediksi membawa hujan ringan hingga sedang terutama di sore hari. Ini menjadi sinyal bahwa musim baru mulai mendekati. Pola Pancaroba yang Khas. Banyak hari akan dimulai dengan cerah, namun langit bisa berubah mendung saat sore fenomena khas masa peralihan musim.
Persiapan Bagi Warga. Meski intensitas hujan belum dominan, membawa payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar rumah tetap disarankan. Waspadai juga cuaca berubah tiba-tiba, termasuk potensi petir atau angin kencang.
Suara Alam dan Warga: Hujan Kecil, Harapan Besar
Bagi warga Gunungkidul setiap tetes hujan terasa membawa makna lebih dari sekadar perubahan cuaca. Sementara itu, anak-anak di kampung seperti seakan merayakan hubungan pertama mereka dengan rintik hujan. Tak jarang terlihat mereka berlari keluar sambil tertawa, menjadikan setiap gerimis sebagai permainan yang menyenangkan.
Gunungkidul kini berada di ambang musim baru. Agustus yang penuh terik mulai berganti dengan September yang mengantar hujan lokal tanda bahwa musim hujan semakin dekat. Narasi ini menjadi catatan indah tentang bagaimana perubahan cuaca membawa kehidupan baru bagi tanah, tanaman, dan warga daerah. (Red)