PERUBAHAN PANTAI SEPANJANG GUNUNGKIDUL, DARI JALAN MULUS KIOS BARU, HINGGA PANTAI BEBAS KAPLING

Gunungkidul TV– Angin laut Pantai Sepanjang pagi berembus pelan, membawa aroma asin khas pesisir selatan. Hamparan pasir putih yang selama ini menjadi magnet wisatawan seharusnya menjadi ruang bebas tempat siapa pun bisa duduk, berjalan, atau sekadar menikmati debur ombak tanpa sekat. Inilah semangat yang kini ditegaskan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Pantai Sepanjang adalah milik publik, bukan ruang yang boleh dikapling atas nama kepentingan pribadi.

Komitmen itu disampaikan tegas oleh Pemkab Gunungkidul dengan melarang praktik pengkaplingan di area bibir pantai, termasuk penyewaan tikar dan payung yang kerap memesan ruang secara sepihak. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah besar menata ulang wajah Pantai Sepanjang agar lebih ramah, adil, dan berkelas sebagai destinasi wisata.

Bibir Pantai Bukan Milik Pribadi

Kepala Dinas PUPRKP Kabupaten Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, menegaskan bahwa Pantai Sepanjang merupakan ruang publik yang harus dapat diakses bebas oleh seluruh pengunjung. “Pantai ini milik publik. Pinggir pantainya harus menjadi area terbuka, tidak boleh dikapling atau dikuasai secara pribadi. Yang dikuasai hanya warungnya saja,” ujar Rakhmadian saat dikonfirmasi, Kamis (2/1/2026).

Penegasan ini bukan tanpa alasan. Praktik penguasaan ruang di bibir pantai dinilai berpotensi menurunkan kenyamanan wisatawan, menimbulkan kesan eksklusif yang semu, bahkan merusak citra pariwisata daerah. Pemkab ingin memastikan bahwa setiap orang yang datang ke Pantai Sepanjang merasakan kebebasan yang sama tanpa tekanan biaya sewa yang tidak jelas.

Infrastruktur Dibangun, Kawasan Ditata

Ketegasan regulasi itu berjalan seiring dengan pembenahan infrastruktur. Dari sisi akses, Pemkab Gunungkidul telah merampungkan rekonstruksi jalan kabupaten ruas 1712 atau lingkar Pantai Sepanjang. Proyek senilai Rp1,5 miliar dari APBD Perubahan 2025 tersebut menghasilkan jalan aspal sepanjang 552 meter dengan lebar 5 meter, yang diselesaikan dalam waktu 63 hari kalender.

Tak berhenti di situ, penataan kawasan juga diwujudkan melalui pembangunan 109 kios sebagai lokasi relokasi pedagang. Dengan total investasi mencapai Rp399,7 juta, kios-kios ini disiapkan agar aktivitas ekonomi tetap hidup, namun lebih tertib dan nyaman. “Penataan akan kami lanjutkan pada 2026 dengan melengkapi fasilitas pendukung seperti wastafel, saluran air bersih bekerja sama dengan PDAM, serta bangunan bernuansa merah putih,” imbuh Rakhmadian.

Wajah Baru Pariwisata: The Vibes of Paradise

Sementara itu, dari sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tak sekadar menata fisik, tetapi juga membangun citra. Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Eko Nur Cahyo, menyebut momentum malam Tahun Baru dimanfaatkan untuk meluncurkan branding baru pariwisata Gunungkidul bertajuk The Vibes of Paradise.

Peluncuran ini menandai selesainya tahap awal pembangunan sarana fisik di kawasan Pantai Sepanjang sebuah simbol dimulainya babak baru pengelolaan destinasi. “Pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi upaya strategis untuk meningkatkan keterhubungan akses ekonomi sekaligus kenyamanan wisatawan,” jelas Eko.

Penataan kawasan ditargetkan dilakukan secara bertahap. Per 7 Januari, area bibir pantai diharapkan sudah bersih dari kios, dengan seluruh pedagang menempati lapak baru yang lebih layak dan tertata. Peresmian kios ini diharapkan menjadi ruang tumbuh baru bagi UMKM lokal agar berkembang secara berkelanjutan.

Menuju Pantai yang Berkelas dan Berkeadilan

Lebih jauh, The Vibes of Paradise merepresentasikan harmoni antara alam, budaya, dan kenyamanan tiga elemen utama yang ingin ditawarkan Gunungkidul kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pantai Sepanjang diproyeksikan menjadi contoh kawasan pantai yang tertata baik, ramah wisatawan, dan bebas dari praktik pungutan liar maupun biaya sewa yang tidak transparan. “Di era digital, citra wisata sangat bergantung pada kenyamanan pengunjung. Karena itu, pemerintah berkomitmen menghapus praktik-praktik yang bisa merusak reputasi daerah,” tegas Eko.

Ketika pasir kembali menjadi ruang bebas, ombak terdengar tanpa sekat, dan UMKM tumbuh di tempat yang tertata, Pantai Sepanjang tak hanya menawarkan pemandangan. Ia menghadirkan pengalaman tentang pantai yang adil untuk semua, dan pariwisata yang dikelola dengan visi jangka panjang. (Red)

__Terbit pada
Januari 3, 2026
__Kategori
News