PUTING BELIUNG SAPU BENDUNG SEMIN GUNUNGKIDUL, 8 RUMAH WIDOROKIDUL TERTIMPA POHON

Gunungkidul TV – Langit di wilayah Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, semula tampak biasa saja pada Selasa siang (03/03/2026). Namun sekitar pukul 14.30 WIB, angin berputar kencang tiba-tiba menerjang, menyapu pepohonan dan membuat warga berlarian menyelamatkan diri.

Dalam hitungan menit, angin puting beliung meninggalkan jejak kerusakan di sejumlah rumah, terutama di Padukuhan Widorokidul. Laporan resmi yang disampaikan Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, kepada Bupati Gunungkidul melalui BPBD Kabupaten Gunungkidul menyebutkan sedikitnya delapan warga terdampak akibat rumah tertimpa pohon tumbang.

Di RT 001/003 Widorokidul, rumah milik Sarjono menjadi salah satu yang mengalami kerusakan cukup signifikan dengan taksiran kerugian sekitar Rp3 juta. Sementara itu, rumah milik Arif Wibowo, Sugiyanti, Wasilah, Wasini, dan Sri Rubiyati yang berada di RT yang sama juga terdampak, masing-masing dengan estimasi kerugian sekitar Rp1 juta.

Kerusakan serupa dialami Rahmad Widiyanto di RT 003/003 Widorokidul, serta Joko Hariyanto di Bendung RT 002/001. Beruntung, dalam peristiwa ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa. Namun suara genting pecah, kayu patah, dan dahan besar yang menghantam atap rumah menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan warga.

Detik-Detik Angin Mengamuk

Sejumlah warga menuturkan, angin datang dengan suara gemuruh, berputar cepat, lalu merobohkan pohon-pohon yang berada di sekitar rumah. Beberapa pohon berukuran cukup besar tak mampu menahan terjangan angin, lalu tumbang menimpa bagian atap dan teras rumah warga.

Situasi sempat membuat panik. Namun, tak lama setelah angin mereda, suasana berubah menjadi potret gotong royong khas pedesaan. Warga bahu-membahu mengevakuasi batang dan ranting pohon, membersihkan puing-puing, serta memastikan kondisi tetangga dalam keadaan selamat.

Respons dan Harapan Pemulihan

Pemerintah Kalurahan Bendung segera melakukan pendataan dan melaporkan kejadian tersebut sebagai langkah awal penanganan. Koordinasi dengan pihak terkait di tingkat kabupaten diharapkan dapat mempercepat proses asesmen dan bantuan bagi warga terdampak.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi, terutama di masa peralihan musim. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada, memangkas ranting pohon yang rawan tumbang, serta memastikan struktur atap rumah dalam kondisi aman.

Di tengah kerusakan yang ada, semangat warga Bendung justru menguat. Di balik genting yang pecah dan kayu yang patah, terselip solidaritas yang tumbuh. Angin boleh saja merobohkan pohon, tetapi tidak dengan kebersamaan. Musibah ini menjadi catatan penting bagi semua pihak bahwa kesiapsiagaan, respons cepat, dan budaya gotong royong adalah kunci agar setiap bencana bisa dilalui dengan lebih tangguh dan penuh harapan. (Red)

__Terbit pada
Maret 4, 2026
__Kategori
News