BUPATI GUNUNGKIDUL PIMPIN PEMBANGUNAN RUMAH IBU SAMINEM, GOTONG ROYONG WARGA RONGKOP JADI INSPIRASI

Gunungkidul TV – Di sebuah sudut perbukitan Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, suasana pagi Senin (9/3/2026) terasa berbeda. Di Padukuhan Ngampiran, Kalurahan Melikan, puluhan warga tampak berkumpul sejak pagi. Ada yang mengangkat batu, ada yang mengaduk semen, sementara yang lain meratakan tanah. Suara cangkul beradu dengan tanah berpadu dengan tawa dan obrolan hangat warga.

Di tengah aktivitas itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih hadir langsung memimpin prosesi peletakan batu pertama pembangunan rumah bagi Ibu Saminem, seorang kepala keluarga perempuan yang masuk dalam kategori miskin ekstrem. Rumah yang akan dibangun itu merupakan bagian dari program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Beberapa waktu lalu, rumah sederhana milik Ibu Saminem rusak parah setelah diterjang hujan deras disertai angin kencang. Atap yang tak lagi mampu menahan cuaca serta dinding yang rapuh membuat rumah itu tak lagi aman dihuni. Bagi keluarga kecilnya, musibah itu bukan sekadar kerusakan bangunan, melainkan kehilangan tempat berlindung yang layak.

Namun dari peristiwa itulah lahir sebuah gerakan kepedulian. Pembangunan rumah baru ini sepenuhnya didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul. Kolaborasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana berbagai pihak dapat bersatu membantu masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.

Yang membuat momen ini terasa istimewa adalah keterlibatan warga sekitar. Pembangunan tidak hanya dilakukan oleh pekerja bangunan, tetapi oleh masyarakat sendiri melalui kerja bakti gotong royong. Ratusan tangan saling membantu—mengangkat material, menyiapkan pondasi, hingga membersihkan lahan. Pemandangan tersebut menjadi gambaran hidupnya kembali nilai luhur yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa: gotong royong.

Dalam sambutannya, Bupati Endah menegaskan bahwa pembangunan desa tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah semata. Menurutnya, kekuatan utama justru terletak pada solidaritas masyarakat. “Pokoke masyarakat kudu gotong royong bareng TNI mbangun deso,” ujarnya dengan logat Jawa yang akrab di telinga warga. Kalimat sederhana itu langsung disambut anggukan dan senyum dari masyarakat yang hadir.

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Gunungkidul tersebut juga memberikan kesan mendalam bagi warga. Bagi mereka, kehadiran bupati di tengah aktivitas kerja bakti bukan sekadar simbolis. Ia datang, menyapa warga, berdialog, dan menyaksikan langsung kondisi masyarakat di lapangan.

Acara tersebut turut dihadiri jajaran Kapanewon Rongkop, termasuk Panewu Anom beserta staf, pemerintah Kalurahan Melikian, lurah, perangkat desa, para dukuh, serta puluhan warga yang ikut menyaksikan prosesi peletakan batu pertama. Di sela kegiatan, suasana menjadi lebih hangat ketika terjadi dialog singkat dengan Ibu Saminem. Dalam kesempatan itu, Kardiono, S.I.P., M.M., menyampaikan pesan penyemangat kepada perempuan tangguh tersebut. “Kami berharap Ibu Saminem tetap tabah menerima musibah ini. Semoga ke depan kehidupan akan lebih baik dan rumah yang dibangun ini dapat memberikan kenyamanan serta keamanan bagi keluarga,” ujarnya.

Bagi Ibu Saminem, rumah baru yang akan berdiri di atas tanah sederhana itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol harapan tempat memulai kembali kehidupan setelah diterpa kesulitan.

Program RTLH sendiri merupakan salah satu langkah nyata Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem. Terutama bagi keluarga rentan seperti kepala keluarga perempuan yang sering kali menghadapi tantangan berlapis, baik secara ekonomi maupun sosial.

Dengan rumah yang lebih kokoh dan layak huni, diharapkan keluarga Ibu Saminem dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman dan nyaman, tanpa lagi dihantui kekhawatiran akan atap bocor atau dinding yang rapuh. Lebih dari sekadar membangun rumah, kegiatan ini juga menegaskan bahwa nilai gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat pedesaan Gunungkidul. Di era modern yang serba cepat, kebersamaan seperti yang terlihat di Padukuhan Ngampiran menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar masyarakat sering kali lahir dari kepedulian satu sama lain.

Dan di lereng perbukitan Rongkop hari itu, sebuah rumah baru mulai dibangun bukan hanya dari batu dan semen, tetapi juga dari solidaritas, kepedulian, dan harapan. (Red)

__Terbit pada
Maret 9, 2026
__Kategori
News