ICAS 2026 DARI YOGYAKARTA UNTUK DUNIA, SAAT PEREMPUAN MUSLIM MENYALAKAN HARAPAN PERADABAN GLOBAL
Gunungkidul TV – Di tengah dunia yang menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari krisis lingkungan, ketimpangan sosial, konflik kemanusiaan, hingga melemahnya solidaritas antarbangsa, secercah harapan hadir dari Kota Pelajar.
Ratusan akademisi, peneliti, aktivis, dan pemimpin masyarakat dari berbagai negara berkumpul dalam International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 yang digelar di Kampus Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Kamis (11/06/2026). Mengusung tema ’Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization”, konferensi internasional ini menjadi panggung dunia bagi perempuan Muslim untuk menunjukkan peran strategisnya dalam membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.
Apa Itu ICAS 2026?
ICAS 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan berbagai pemikir, peneliti, aktivis, dan tokoh masyarakat dari berbagai negara untuk mendiskusikan isu-isu penting terkait kepemimpinan perempuan Muslim, solidaritas sosial, keadilan, serta keberlanjutan lingkungan. Namun konferensi ini bukan sekadar ajang presentasi hasil penelitian. Lebih dari itu, ICAS menjadi ruang kolaborasi global yang mempertemukan gagasan dan pengalaman nyata dalam menjawab tantangan zaman.
Siapa Saja yang Terlibat?Sejumlah tokoh dan akademisi internasional hadir memberikan pandangan dan inspirasi, di antaranya Siti Ruhaini Dzuhayatin, Ezra Chitando, Mark Woodward, Nelly van Doorn-Harder, serta Mitsuo Nakamura. Kehadiran mereka memperkaya diskusi lintas budaya dan memperlihatkan bahwa isu perempuan Muslim kini menjadi perhatian masyarakat global.
Konferensi ICAS Ini Penting mengingat di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan berbagai persoalan sosial, ICAS 2026 menawarkan perspektif yang unik. Konferensi ini menegaskan bahwa krisis lingkungan dan krisis kemanusiaan sesungguhnya saling berkaitan. Kerusakan alam memperbesar kemiskinan, memperlebar kesenjangan sosial, dan meningkatkan kerentanan kelompok masyarakat yang paling lemah. Karena itu, solusi tidak cukup hanya melalui teknologi atau kebijakan ekonomi, tetapi juga membutuhkan kepemimpinan yang berlandaskan nilai kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab moral.
Pesan inilah yang menjadi benang merah seluruh rangkaian diskusi selama konferensi berlangsung.
Perempuan Muslim Menjadi Agen Perubahan
Salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam ICAS 2026 adalah pentingnya menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai pelaku utama perubahan. Melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, advokasi sosial, hingga gerakan pelestarian lingkungan, perempuan Muslim dinilai memiliki posisi strategis dalam menciptakan transformasi sosial yang berkelanjutan.
Selama lebih dari satu abad, gerakan ‘Aisyiyah telah membuktikan peran tersebut melalui berbagai program yang menjangkau jutaan masyarakat di Indonesia.
Momentum Bersejarah Bagi ‘Aisyiyah
Penyelenggaraan ICAS 2026 juga memiliki makna historis yang sangat kuat. Konferensi ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 109 Tahun ‘Aisyiyah, 100 Tahun Majalah Suara ‘Aisyiyah, sekaligus momentum menuju Muktamar ‘Aisyiyah ke-49. Karena itu, ICAS tidak hanya menjadi forum ilmiah internasional, tetapi juga tonggak penting dalam perjalanan gerakan perempuan Muslim berkemajuan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan bangsa.
Dari Yogyakarta untuk Dunia
Ketika sesi demi sesi berakhir dan para peserta kembali ke negara masing-masing, yang tersisa bukan hanya kumpulan makalah, dokumentasi kegiatan, atau foto-foto konferensi. Lebih dari itu, ICAS 2026 meninggalkan sebuah pesan yang kuat: dunia membutuhkan solidaritas yang lebih luas, kepedulian yang lebih dalam terhadap bumi, dan kepemimpinan yang inklusif untuk menghadapi masa depan.
Dari Yogyakarta, sebuah suara bergema ke berbagai penjuru dunia. Suara yang mengingatkan bahwa membangun peradaban tidak cukup hanya dengan kecerdasan dan teknologi. Dunia juga membutuhkan kepedulian, keberanian, dan semangat gotong royong yang mampu merawat manusia sekaligus menjaga bumi. Dan melalui ICAS 2026, perempuan Muslim menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar bagian dari masa depan dunia mereka adalah salah satu cahaya yang menerangi jalan menuju peradaban yang lebih baik. (Red)

