INNALILLAHI… INDONESIA KEHILANGAN CENDEKIA PEREMPUAN MUHAMMADIYAH, PROF. DR. CHAMAMAH SOERATNO TUTUP USIA, WARISKAN JEJAK KEILMUAN DAN PENGABDIAN MENDUNIA
Gunungkidul TV – Duka menyelimuti keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Seorang tokoh perempuan yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, dakwah, dan pemberdayaan perempuan, almarhum meninggal pada semalam, Selasa (07/07/2026) sekira pukul 20.13 WIB.
Kabar berpulangnya mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010 itu membawa duka mendalam bagi jutaan warga Muhammadiyah. Persyarikatan kehilangan sosok intelektual, pendidik, sekaligus pemimpin perempuan yang sepanjang hidupnya dikenal memiliki keluasan wawasan, keteguhan prinsip, serta dedikasi tanpa henti dalam membangun peradaban. Bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Prof. Chamamah bukan sekadar pemimpin organisasi. Beliau adalah guru, pemikir, sekaligus inspirasi yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam berkemajuan dengan dinamika masyarakat modern hingga tingkat internasional.
Sebagai Guru Besar senior di UGM, almarhumah dikenal luas sebagai akademisi yang produktif dan berpengaruh. Keilmuan yang dimilikinya tidak hanya memberikan kontribusi di lingkungan kampus, tetapi juga memperkuat gerakan dakwah intelektual Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di berbagai forum nasional maupun dunia. Jejak pengabdiannya bahkan melampaui batas negara. Prof. Chamamah pernah mewakili ‘Aisyiyah menyampaikan pidato membawa suara perempuan Indonesia dan nilai-nilai Islam yang moderat ke panggung global. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak penting yang menunjukkan kiprah ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam yang diperhitungkan di tingkat internasional.
Di balik reputasi akademiknya, Prof. Chamamah dikenal sebagai pribadi yang hangat dan rendah hati. Banyak kolega mengenangnya sebagai sosok yang terbuka terhadap perbedaan pandangan. Dalam setiap forum diskusi, beliau selalu memberi ruang bagi siapa pun untuk menyampaikan gagasan, termasuk generasi muda, tanpa kehilangan keteguhan pada prinsip-prinsip yang diyakininya. Karakter kepemimpinannya dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan, keluasan jejaring, dan semangat berkhidmat yang tidak pernah padam. Keteladanan itulah yang kini diwariskan kepada generasi penerus ‘Aisyiyah agar terus memperluas wawasan, menguatkan tradisi intelektual, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Kepergian Prof. Chamamah menjadi kehilangan besar, namun warisan pemikiran, karya, dan pengabdiannya akan terus hidup dalam perjalanan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Jejak perjuangannya menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipadukan dengan keikhlasan akan melahirkan pengaruh yang melampaui ruang dan waktu.
Allahummaghfirlaha Warhamha Wa’afii Wafuanha. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhumah, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, keikhlasan, dan kekuatan untuk melanjutkan semangat perjuangan yang telah beliau wariskan. (Red)

