KALURAHAN BENDUNG TEMBUS TRISAKTI TOURISM AWARD 2025, DESA WISATA GUNUNGKIDUL CURI PERHATIAN NASIONAL

Gunungkidul TV – Mentari pagi baru saja menyinari hamparan sawah di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Embun masih menggantung di pucuk-pucuk padi, sementara aktivitas warga mulai menggeliat. Di sudut desa, aroma masakan tradisional dari kawasan Lumbung Mataraman menguar, menyambut para tamu yang datang menikmati suasana pedesaan yang asri.

Pemandangan sederhana itulah yang kini menjadi wajah baru pariwisata Kalurahan Bendung. Sebuah desa yang perlahan tetapi pasti berhasil mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hingga mengantarkannya tampil dalam Trisakti Tourism Award (Desa Wisata) 2025, salah satu ajang penghargaan desa wisata paling bergengsi di Indonesia.

Keikutsertaan Kalurahan Bendung bukan sekadar menjadi peserta. Lebih dari itu, pencapaian ini menjadi simbol bahwa desa-desa di Gunungkidul memiliki daya saing nasional melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, budaya, dan kearifan lokal.

Desa yang Tumbuh Bersama Warganya

Di Bendung, pembangunan pariwisata tidak dimulai dari bangunan megah ataupun investasi bernilai miliaran rupiah. Semua berawal dari semangat gotong royong masyarakat yang percaya bahwa potensi desa harus memberikan manfaat langsung bagi warganya. Melalui Desa Wisata Among Kisma, masyarakat mengembangkan konsep wisata edukasi yang memadukan pertanian, kuliner tradisional, budaya Jawa, konservasi lingkungan, hingga pemberdayaan UMKM. Ikon utamanya, Lumbung Mataraman, menjadi ruang bertemunya tradisi dan inovasi dalam satu kawasan wisata yang ramah keluarga.

Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati panorama pedesaan, tetapi juga diajak merasakan pengalaman bertani, mengenal pangan lokal, menikmati sajian khas Gunungkidul, belajar seni budaya, hingga menyaksikan kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai kebersamaan.

Pengakuan di Tingkat Nasional

Trisakti Tourism Award 2025 merupakan ajang penghargaan nasional yang diikuti 232 desa wisata dari berbagai provinsi di Indonesia. Kompetisi ini menjadi wadah apresiasi terhadap desa-desa yang berhasil mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan melalui konsep pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, inovasi, dan ekonomi kerakyatan. Keikutsertaan Kalurahan Bendung membuktikan bahwa desa di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta mampu berdiri sejajar dengan desa-desa wisata unggulan dari seluruh Nusantara.

Sebelumnya, Desa Wisata Bendung juga telah mencatat prestasi dengan meraih Juara III Lomba Desa Wisata Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus menjadi lokasi berbagai program pembinaan dan pengembangan desa wisata oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Pariwisata yang Menggerakkan Ekonomi Desa

Pariwisata di Bendung bukan hanya soal menghadirkan destinasi yang menarik. Kehadirannya telah membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pelaku UMKM memperoleh ruang pemasaran produk lokal. Kelompok seni mendapatkan panggung untuk menampilkan budaya daerah. Petani memperoleh nilai tambah melalui wisata edukasi pertanian. Sementara generasi muda diberi kesempatan menjadi pemandu wisata, pengelola media digital, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Model pembangunan seperti inilah yang kini menjadi contoh bagaimana desa mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif tanpa meninggalkan identitas budayanya.

Lurah Kalurahan Bendung Didik Rubiyanto mengatakan bahwa keikutsertaan dalam Trisakti Tourism Award merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat. “Prestasi ini bukan milik pemerintah kalurahan semata, tetapi merupakan hasil gotong royong seluruh warga. Kami ingin membangun pariwisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga budaya dan kelestarian lingkungan.“

Sementara itu, Ketua Desa Wisata Among Kisma Kalurahan Bendung Semin Hanik Nurhayati menilai bahwa wisata berbasis masyarakat memiliki keunggulan tersendiri. “Wisatawan sekarang tidak hanya mencari tempat yang indah, tetapi juga pengalaman yang autentik. Mereka ingin mengenal kehidupan desa, menikmati kuliner tradisional, belajar budaya, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.“

Menjadi Inspirasi Desa-Desa Lain

Keberhasilan Kalurahan Bendung menunjukkan bahwa kemajuan desa tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran, melainkan pada kemampuan mengelola potensi lokal secara kreatif dan berkelanjutan. Dengan mengedepankan gotong royong, inovasi, serta pelestarian budaya, Bendung telah membuktikan bahwa desa mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sekaligus penjaga warisan budaya bangsa.

Perjalanan menuju Trisakti Tourism Award 2025 menjadi bukti bahwa ketika masyarakat, pemerintah, pelaku wisata, dan UMKM berjalan bersama, sebuah desa dapat menembus panggung nasional bahkan berpeluang menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia. Kalurahan Bendung hari ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah gambaran bagaimana desa membangun masa depan melalui budaya, alam, kreativitas, dan semangat kebersamaan. (Red)

__Terbit pada
Juli 10, 2026
__Kategori
News