106 TAHUN NGIPAK GUNUNGKIDUL DARI BALAI KALURAHAN HINGGA BOCAH 11 TAHUN MENYALAKAN KEMBALI API WAYANG
Saat Generasi Digital Memilih Memegang Wayang: ’Wahyu Kemakmuran’ Jadi Doa Warga Kalurahan Ngipak Karangmojo untuk Masa Depan
Gunungkidul TV — Malam itu, sebuah kelir putih terbentang di tengah Kalurahan Ngipak. Lampu panggung menyala. Suara gamelan perlahan memenuhi udara. Di hadapan masyarakat yang datang merayakan 106 tahun perjalanan kalurahan, bayang-bayang wayang bergerak satu demi satu. Namun ada satu hal yang membuat malam itu terasa berbeda.
Di tengah derasnya dunia digital, ketika anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel daripada kelir wayang, seorang bocah berusia 11 tahun justru berdiri di belakang panggung. Tangannya memegang wayang. Namanya Rajendra Azzam Arundaya. Siswa kelas V SD itu menjadi salah satu wajah muda yang seolah mengatakan kepada zaman: Wayang belum selesai. Dan dari panggung sederhana di Kalurahan Ngipak, pesan itu menggema bersamaan dengan perayaan Hari Jadi ke-106, Senin (5/10/2026).
Dari “Wahyu Kemakmuran”, Ngipak Menulis Harapan Baru
Hari Jadi Ngipak bukan sekadar pesta ulang tahun sebuah kalurahan. Usia 106 tahun adalah perjalanan panjang yang mempertemukan begitu banyak generasi. Generasi yang dahulu berjalan tanpa internet. Generasi yang tumbuh bersama radio dan televisi.
Hingga generasi hari ini yang hampir tidak pernah jauh dari gawai. Zaman berubah. Cara manusia berkomunikasi berubah. Cara mencari hiburan pun berubah. Tetapi di Kalurahan Ngipak, sebuah tradisi lama justru kembali dinyalakan. Wayang kulit dipilih menjadi bagian penting dari rangkaian Hari Jadi ke-106. Lakon ’Wahyu Kemakmuran’ dimainkan oleh Ki Sumarno Purbo Carito.
Judulnya bukan tanpa makna. Kemakmuran adalah sesuatu yang tentu diharapkan setiap masyarakat. Namun kemakmuran tidak hanya berarti pembangunan fisik, jalan yang semakin baik atau fasilitas yang semakin lengkap. Kemakmuran juga berarti masyarakat yang guyub. Mandiri. Mampu mengembangkan potensi. Dan tetap mengenali akar budayanya. Maka ketika wayang dimainkan malam itu, yang sebenarnya sedang dipertontonkan bukan hanya sebuah cerita. Tetapi juga sebuah harapan.
106 Tahun, Kalurahan Ngipak Tidak Ingin Sekadar Bertambah Tua
Lurah Ngipak, Bambang Setiawan, mengungkapkan Hari Jadi Kalurahan Ngipak genap berusia 106 tahun pada Senin (05/10/2026). Rangkaian perayaan telah dimulai sejak 30 September. Beragam kegiatan digelar, mulai olahraga, seni budaya hingga puncaknya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
Menariknya, kemeriahan tersebut lahir dari semangat gotong royong. Bambang menyebut dukungan masyarakat melalui para donatur di Kalurahan Ngipak ikut menjadi bagian penting dalam menyukseskan rangkaian acara. Selain itu, kegiatan juga mendapat dukungan Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.
Bagi Bambang, momentum 106 tahun bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia ingin usia panjang tersebut menjadi pijakan untuk membuat Ngipak semakin maju dan mandiri. Potensi masyarakat harus terus dikembangkan. Sebab masa depan sebuah kalurahan tidak hanya dibangun oleh pemerintah. Tetapi juga oleh masyarakat yang mau bergerak bersama. Dan malam itu, semangat tersebut bertemu dengan kekuatan budaya.
Lalu Muncullah Bocah 11 Tahun di Balik Kelir
Ketika pertunjukan berlangsung, perhatian kemudian tertuju kepada seorang anak. Rajendra Azzam Arundaya. Usianya baru 11 tahun. Tetapi kecintaannya kepada wayang telah tumbuh sejak ia berusia tiga tahun. Bukan karena kewajiban. Bukan karena sekadar mengikuti tren. Ia memang menyukai dunia pedalangan. Kini Azam mengikuti Sanggar Pengalasan untuk memperdalam kemampuannya.
Pada perayaan Hari Jadi Ngipak, ia tampil sebagai dalang cilik membawakan lakon Aji Wantoko. Di antara tokoh pewayangan yang menjadi idolanya terdapat Gatotkaca, Werkudara dan Anoman.bSementara untuk dunia pedalangan, ia mengagumi sejumlah dalang seperti Seno, Mas Bayu dan Ki Manteb.
Ketika ditanya tentang masa depannya, jawabannya justru sederhana. Ia ingin menjadi dalang yang lebih baik dan sukses. Sebuah cita-cita seorang anak.vNamun di baliknya terdapat harapan besar bagi keberlangsungan kesenian tradisional.
Ayahnya Lurah, Anaknya Dalang: Sebuah Cerita yang Tidak Biasa
Ada kisah menarik di balik perjalanan Azam. Ayahnya adalah Bambang Setiawan, Lurah Ngipak. Bambang menceritakan, kecintaan Azam terhadap seni pedalangan sudah terlihat sejak usia dini. Dari sekadar menyukai wayang, ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi proses belajar. Hingga akhirnya, anak berusia 11 tahun tersebut berani tampil sebagai dalang.
Bagi Bambang, kemampuan Azam bukan hanya kebanggaan keluarga. Ada pesan kebudayaan yang ingin terus dijaga. Ia berharap kelak Azam dapat menjadi dalang yang kondang dan ikut meneruskan kesenian wayang. Tidak hanya di Ngipak. Tetapi juga di Gunungkidul dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika harapan itu terwujud, maka sebuah pertunjukan kecil di balai kalurahan hari ini bisa saja menjadi awal dari perjalanan panjang seorang dalang di masa depan.
Ketika Anak Zaman Digital Memilih Wayang
Di sinilah cerita Ngipak menjadi menarik. Sebab pelestarian budaya sering kali berhenti pada kalimat: budaya harus dilestarikan. Tetapi Azam memberikan jawaban yang jauh lebih konkret. Ia memegang wayang. Ia belajar mendalang. Ia tampil di depan masyarakat. Ia memilih untuk mengenal kesenian yang lahir jauh sebelum dirinya mengenal teknologi digital. Dan itulah cara sebuah tradisi bertahan. Bukan hanya melalui slogan. Tetapi melalui generasi yang mau meneruskannya.
Di panggung yang sama, hadir pula Rajendra Azzam Arundaya dan Mbah Baut & Niken S sebagai bintang tamu. Dua generasi berbeda bertemu dalam satu ruang budaya. Yang satu membawa pengalaman. Yang lain membawa masa depan. Dan wayang menjadi jembatannya.
Kelir Putih Itu Sesungguhnya Cermin
Wayang memiliki satu keunikan. Dari depan, penonton melihat bayangan. Tetapi justru dari bayangan itulah berbagai karakter kehidupan manusia ditampilkan. Ada keberanian. Ada pengorbanan. Ada kesetiaan. Ada keserakahan. Ada kekuasaan. Dan ada konsekuensi dari setiap pilihan. Karena itu, wayang sesungguhnya bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin.
Masyarakat melihat kisah di balik kelir, tetapi pada saat yang sama sedang diajak melihat dirinya sendiri. Dan ketika ’Wahyu Kemakmuran’ dimainkan pada malam puncak perayaan 106 tahun Ngipak, cermin itu seolah diarahkan kepada masa depan. Ngipak ingin menjadi apa setelah 106 tahun? Pertanyaan itulah yang jauh lebih penting daripada sekadar merayakan angka.
Ke Depannya, Dari Ngipak untuk Generasi yang Belum Lahir
Sebuah kalurahan boleh berubah. Rumah-rumah boleh semakin modern. Teknologi boleh semakin cepat. Anak-anak boleh tumbuh dengan dunia yang sama sekali berbeda dari orang tua mereka. Tetapi identitas tidak boleh ikut hilang. Sebab masyarakat yang tahu dari mana mereka berasal akan lebih mudah menentukan ke mana mereka akan pergi.
Malam itu, di Kalurahan Ngipak, wayang seolah menjadi pengingat. Bahwa pembangunan dan kebudayaan tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan bersama. Kemajuan bisa berdampingan dengan tradisi. Teknologi bisa berjalan beriringan dengan gamelan. Dan generasi digital pun bisa mencintai wayang. Buktinya ada di atas panggung. Namanya Rajendra Azzam Arundaya. Bocah 11 tahun yang mungkin belum tahu sejauh apa perjalanan hidupnya nanti. Tetapi malam itu ia sudah melakukan satu hal penting: ikut menjaga agar cahaya wayang tidak padam.
’Wahyu Kemakmuran’ Bukan Akhir Pertunjukan
Ketika malam semakin larut, pertunjukan terus berjalan. Bayang-bayang wayang menari di balik kelir. Gamelan mengiringi cerita. Masyarakat tetap menyaksikan. Dan 106 tahun perjalanan Ngipak pun mendapatkan sebuah simbol yang kuat. Bahwa kemakmuran bukan hanya sesuatu yang ditunggu. Ia harus diperjuangkan. Dibangun bersama. Dan diwariskan. Begitu pula kebudayaan. Ia tidak akan bertahan hanya karena pernah ada. Ia akan bertahan ketika ada anak-anak yang mau mempelajarinya. Ada orang tua yang mau mengenalkannya.bAda masyarakat yang mau menggelarnya.
Dan ada pemerintah kalurahan yang memberi ruang untuknya tetap hidup. Maka ’Wahyu Kemakmuran’ malam itu sesungguhnya bukan hanya lakon.bIa adalah doa. Doa agar Ngipak semakin maju. Semakin mandiri. Semakin mampu menggali potensi masyarakat. Dan tetap menjadi rumah bagi kebudayaan yang diwariskan para leluhur. Sebab pada akhirnya, kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Kadang-kadang, untuk melangkah jauh ke depan, kita justru harus sesekali menoleh ke belakang. Melihat akar. Mengenali sejarah. Kemudian berjalan lagi.
Dan malam itu, dari balik kelir Kalurahan Ngipak, sebuah pesan sederhana kembali dikirim kepada zaman “Boleh menjadi generasi digital. Boleh mengejar masa depan. Tetapi jangan sampai lupa bagaimana leluhur kita pernah bercerita.”
Selamat Hari Jadi ke-106 Kalurahan Ngipak. Semoga ’Wahyu Kemakmuran’ tidak berhenti sebagai cerita semalam suntuk, tetapi benar-benar menjadi kenyataan yang tumbuh bersama masyarakat Ngipak. (Red)





