WISATA BLORA HITS NOYO GIMBAL VIEW, KETIKA SEMANGAT NOYO SENTIKO MENJELMA MENJADI GERAKAN ANAK MUDA MEMBANGUN DESA

Di Desa Bangsri salah satu desa di Kabupaten Blora Jawa Tengah, perjuangan tidak lagi dilakukan dengan senjata. Ia menjelma menjadi keberanian menciptakan lapangan kerja, mengembangkan wisata, menghidupkan UMKM, menjaga sejarah, dan membuktikan bahwa desa mampu menciptakan masa depannya sendiri.

Gunungkidul TV — Sebuah monumen setinggi sekitar delapan meter berdiri tegak di Desa Bangsri, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sosok yang diabadikan bukan sekadar patung penghias kawasan wisata. Ia membawa pesan tentang perjuangan, keteladanan, dan bagaimana semangat masa lalu diteruskan oleh generasi masa kini.

Sosok itu adalah Noyo Sentiko

Pada monumen tersebut terpahat pesan yang menjadi napas pembangunan Desa Bangsri. “Meneladani semangat juang Noyo Sentiko dalam mengusir penjajah menjadi inspirasi para pemuda untuk berpihak, ambil peran membangun desa.”

Kalimat itu seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Sebab perjuangan hari ini tidak selalu harus dimaknai dengan mengangkat senjata. Perjuangan bisa hadir dalam bentuk menciptakan lapangan pekerjaan, membuka ruang usaha, mengembangkan potensi desa, menghidupkan pariwisata, hingga meyakinkan anak-anak muda bahwa masa depan juga bisa dibangun dari kampung halaman. Dari semangat itulah kisah Noyo Gimbal View bermula.

Dari Pandemi, Muncul Keberanian untuk Bergerak

Cerita Noyo Gimbal View tidak lahir secara tiba-tiba. Sekitar tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 membatasi berbagai aktivitas masyarakat, Desa Bangsri justru mencoba menyalakan kreativitas. Berbagai gagasan berbasis potensi lokal dikembangkan, di antaranya Kampoeng Pelangi dan Kampoeng Lele. Dari proses tersebut tumbuh sebuah kesadaran sederhana: desa tidak boleh hanya menunggu keadaan berubah. Desa harus bergerak. Anak muda harus diberi ruang. Dan potensi lokal yang selama ini dianggap biasa harus dilihat dengan sudut pandang berbeda agar memiliki nilai ekonomi. Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan besar Bangsri Maju dan Mapan.

Pada periode 2022–2023, kreativitas para pemuda Desa Bangsri melahirkan Desa Wisata Noyo Gimbal View. Destinasi ini kemudian berkembang bukan sekadar sebagai tempat rekreasi, melainkan sebagai ruang pertemuan antara wisata, pemberdayaan masyarakat, pertanian, UMKM, sejarah, dan kreativitas generasi muda.

Patung Noyo Sentiko, Sejarah yang Dihidupkan Kembali

Salah satu ikon utama Noyo Gimbal View adalah patung Noyo Gimbal setinggi sekitar delapan meter. Patung tersebut dibuat oleh seniman lokal Derry Gudhadharma, sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat terhadap keteladanan Noyo Sentiko. Kehadiran monumen tersebut membuat kawasan wisata memiliki cerita yang lebih dalam.

Wisatawan tidak hanya datang untuk berswafoto atau menikmati wahana. Mereka juga diajak mengenal sosok dan semangat perjuangan yang menjadi bagian dari identitas Desa Bangsri. Sejarah pun tidak berhenti sebagai cerita di buku. Sejarah ditempatkan di ruang publik dan dipertemukan dengan kehidupan generasi sekarang.

Pada monumen tersebut juga tercantum nama-nama yang terlibat dalam gagasan dan pembangunan Noyo Gimbal View, antara lain Ali Kundori, Derry Gudha Dharma, dan Yannanta Laga Kusuma. Nama-nama itu menjadi bagian dari perjalanan sebuah gagasan desa hingga berkembang menjadi destinasi yang memiliki dampak sosial dan ekonomi.

Bukan Sekadar Tempat Berfoto

Untuk menjawab kebutuhan wisatawan, Noyo Gimbal View terus melakukan inovasi. Beragam wahana hadir, mulai dari Kereta Sawah, Rainbow Slide, Keranjang Sultan, ATV, Sepeda Listrik, Mobil Listrik, Kolam Terapi Ikan, Wahana Air Noyo Sentiko, Rabbit House, Istana Balon, Kereta Hias, hingga berbagai spot foto. Sejumlah wahana juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan investor, seperti Kereta Sawah, Wahana Air atau Waterboom, Rainbow Slide, Keranjang Sultan, Sepeda Listrik, Mobil Listrik, Kereta Hias, Pemancingan Ikan, Trampolin dan Game, Istana Balon, Terapi Ikan, hingga wahana mewarnai celengan karakter.

Konsepnya dibuat beragam agar dapat dinikmati berbagai kelompok usia. Anak-anak mendapatkan ruang bermain. Orang tua memperoleh pilihan rekreasi keluarga. Generasi muda mendapatkan wahana dan spot yang lebih kekinian. Sementara lanskap persawahan tetap menjadi karakter penting kawasan. Di sinilah kekuatan Noyo Gimbal View: suasana desa tidak dihilangkan, tetapi justru menjadi bagian dari pengalaman wisata modern.

27 Wahana, Mulai Rp2.000 hingga Rp25.000

Daya tarik Noyo Gimbal View semakin lengkap dengan puluhan wahana yang dapat dipilih sesuai usia, minat, dan anggaran. Dalam daftar harga yang dipublikasikan pengelola, terdapat 27 pilihan wahana dan aktivitas, dengan tarif mulai Rp2.000 hingga Rp25.000. Tarif tersebut merupakan harga masing-masing wahana dan berbeda dengan tiket masuk kawasan wisata. Aktivitas paling murah adalah memberi makan ikan, dengan harga Rp2.000 per bungkus pelet. Pengunjung juga dapat memberi makan kelinci dan menikmati terapi ikan dengan tarif masing-masing Rp5.000.

Bagi yang ingin mencoba memancing, tersedia wahana mancing ikan seharga Rp5.000 per orang. Ikan yang diperoleh dihargai Rp40.000 per kilogram, sedangkan sewa alat pancing tercantum Rp5.000. Ada pula wahana tangkap ikan seharga Rp10.000 per orang. Untuk wisata keluarga tersedia Kereta Sawah, Kereta Buaya Darat, dan Kereta Koi Darat, masing-masing Rp10.000 per orang untuk dua kali putaran. Bebek Darat juga tersedia dengan tarif Rp10.000 per bebek untuk dua kali putaran. Anak-anak dapat mencoba Dinosaurus Rp10.000 selama lima menit, mewarnai celengan Rp10.000 per celengan dengan hasil yang bisa dibawa pulang, Keranjang Sultan Rp10.000, Rainbow Slide Rp10.000 sekali seluncur, Kora-Kora Rp10.000 selama lima menit, serta Kereta Hias Rp10.000 untuk dua kali putaran.

Bagi pengunjung yang ingin bersantai, tersedia Kursi Pijat Rp10.000 selama 10 menit dan Perahu Tangan Rp20.000 per perahu selama 15 menit. Ada pula Mandi Bola & Trampolin, Istana Balon, Balon Bahaya, dan Sepeda Listrik yang masing-masing memiliki tarif Rp10.000 dengan ketentuan penggunaan berbeda. Untuk kendaraan rekreasi, tersedia Mobil Listrik Rp15.000 per mobil untuk dua kali putaran dan ATV Rp20.000 per mobil untuk dua kali putaran.

Pengunjung juga dapat bermain di Play Ground seharga Rp20.000, mengabadikan momen melalui Photobox Rp20.000 termasuk file dan cetak, serta mencoba pengalaman berkuda Rp25.000 per kuda untuk satu kali putaran. Sementara itu, Kolam Renang Anak memiliki tarif berbeda antara hari biasa dan akhir pekan. Pada weekday, tarifnya Rp10.000 untuk paket satu anak dan satu orang tua. Saat weekend, tarifnya Rp15.000 untuk paket yang sama. Dengan pilihan tersebut, pengunjung tidak harus mencoba seluruh wahana. Liburan dapat disusun sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran.

Sawah yang Berubah Menjadi Ruang Edukasi

Di balik hiruk-pikuk berbagai wahana, terdapat inovasi yang tidak kalah menarik: Pertanian Mina Padi atau Mina Tani. Sistem tersebut menggabungkan budidaya ikan dengan pertanian padi di lahan milik desa yang dikelola BUMDes Maju Mapan 5758. Sawah tidak hanya menjadi tempat produksi pangan. Sawah juga menjadi ruang belajar. Persawahan di sekitar destinasi dimanfaatkan untuk menanam sayuran, palawija, dan padi dengan sistem organik. Hasil pertanian tersebut kemudian dibeli oleh BUMDes. Dari sini terbentuk rantai ekonomi yang saling terhubung. Petani mendapatkan pasar. BUMDes mendapatkan bahan pangan. Wisatawan memperoleh pengalaman menikmati lanskap pertanian. Dan desa mendapatkan nilai tambah dari sektor pariwisata. Sawah yang sebelumnya mungkin terlihat biasa, berubah menjadi bagian dari cerita besar pembangunan ekonomi desa.

BUMDes Menjadi Mesin Penggerak

Perjalanan Noyo Gimbal View tidak bisa dilepaskan dari peran BUMDes Maju Mapan 5758. Ketika sebagian pihak sempat pesimis terhadap prospek wisata di Desa Bangsri karena keterbatasan sumber daya alam, para pemuda justru memilih membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. BUMDes tidak hanya menjadi pengelola destinasi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator dan inkubator bagi usaha masyarakat.

Di dalam kawasan wisata terdapat sekitar 12 unit usaha masyarakat, sementara 15 unit usaha lainnya berada di luar kawasan. Artinya, dampak pariwisata tidak berhenti di pintu masuk destinasi. Geliat ekonomi menyebar ke lingkungan masyarakat. BUMDes juga menyediakan kios dan kedai bagi pelaku usaha lokal, di antaranya Kedai 5758, Griya Seafood, Kios Es Cemot, Kios Es Dawet, Kedai Cilok Mang Odeng, Kedai Siomay Ann, Degan Noyo, Warung Gimbal, Warung Mie Jenggelek, Kedai Pondok Bambu, Warung Gacoan, Warung Pojok Noyo, dan Kedai Terapi Ikan.

Ekosistem tersebut bahkan membuka ruang bagi kelompok masyarakat difabel melalui stand UMKM yang dikelola Komunitas Difabel Blora Mustika.bPariwisata akhirnya tidak hanya berbicara tentang berapa banyak wisatawan yang datang. Lebih jauh, ia berbicara tentang berapa banyak masyarakat yang ikut mendapatkan manfaat.

Sekitar 100 Warga Mendapat Pekerjaan

Dampak ekonomi Noyo Gimbal View terlihat dari keterlibatan masyarakat. Data yang dihimpun pada periode tersebut mencatat sekitar 100 warga lokal bekerja aktif di kawasan wisata. Mayoritas merupakan pemuda yang sebelumnya berada dalam kondisi menganggur atau setengah menganggur. Sementara keberadaan 27 unit usaha masyarakat terdiri dari 12 unit di dalam kawasan dan 15 unit di luar kawasan ikut menciptakan aktivitas ekonomi baru. Ada pengelola. Ada pekerja. Ada pedagang. Ada petani. Ada pelaku UMKM. Ada jasa transportasi wisata. Ada pemasok kebutuhan. Semua bergerak dalam satu ekosistem. Bahkan kereta wisata yang mengantarkan pengunjung dari area parkir menuju lokasi wisata menjadi contoh sederhana bagaimana pergerakan wisatawan dapat menciptakan peluang ekonomi baru.

Fasilitas Dibuat Agar Wisatawan Betah

Agar wisatawan tidak sekadar datang lalu pulang, fasilitas pendukung juga terus diperhatikan. Noyo Gimbal View dilengkapi toilet dan kamar mandi, penginapan atau homestay, area parkir, warung makan dan minuman, gazebo, pos kesehatan, ruang laktasi, fasilitas sarana keuangan atau ATM, tempat ibadah, hingga jalur khusus disabilitas.

Kelengkapan tersebut memperkuat konsep wisata keluarga sekaligus membuat kawasan lebih ramah bagi berbagai kelompok pengunjung. Sebab destinasi wisata yang menarik bukan hanya tentang wahana. Wisatawan juga membutuhkan kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan fasilitas yang memadai.

Enam Paket Outing Class, Mulai Rp48 Ribu

Noyo Gimbal View juga memperluas fungsi kawasan melalui program outing class bagi pelajar jenjang KB/TK/SD/SMP. Konsepnya sederhana tetapi menarik: membawa proses belajar keluar dari ruang kelas, kemudian mempertemukannya dengan permainan, rekreasi, kreativitas, dan pengalaman langsung. Pengelola menyediakan enam pilihan paket dengan harga mulai Rp48.000 hingga Rp73.000.

  • Paket 1 Rp48.000 mencakup tiket masuk, makan, playground, tangkap ikan, Kereta Buaya, mewarnai celengan, serta memberi makan ikan.
  • Paket 2 Rp51.000 terdiri atas tiket masuk dan makan, Kereta Sawah, Rainbow Slide, Kereta Buaya, mewarnai celengan, serta renang.
  • Paket 3 Rp56.000 menghadirkan tiket masuk dan makan, Kereta Sawah, tangkap ikan, Kereta Buaya, playground, Dinosaurus, serta mewarnai celengan.
  • Paket 4 Rp61.000 menawarkan tiket masuk, makan, tangkap ikan, Rainbow Slide, Dinosaurus, Kereta Sawah, Kereta Buaya, mewarnai celengan, dan renang.
  • Paket 5 Rp68.000 mencakup tiket masuk dan makan, tangkap ikan, Rainbow Slide, playground, Kereta Sawah, Dinosaurus, mewarnai celengan, memberi makan ikan, serta renang.
  • Sedangkan Paket 6 Rp73.000 menjadi pilihan terlengkap, dengan tiket masuk dan makan serta rangkaian aktivitas berupa tangkap ikan, Rainbow Slide, Dinosaurus, Kereta Sawah, Kereta Buaya, playground, mewarnai celengan, memberi makan ikan, dan renang.

Melalui konsep ini, aktivitas seperti tangkap ikan dan memberi makan ikan dapat menjadi pengalaman interaksi langsung dengan lingkungan. Mewarnai celengan menjadi ruang kreativitas, sementara berbagai wahana memberikan pengalaman rekreatif sekaligus membangun interaksi antar siswa. Enam paket tersebut membuat sekolah dapat menyesuaikan kegiatan dengan anggaran, usia peserta, serta tujuan outing class. Karena terkadang, pelajaran yang paling mudah diingat bukan hanya yang tertulis di buku melainkan yang dialami secara langsung.

Ratusan Ribu Wisatawan Datang

Besarnya daya tarik Noyo Gimbal View juga tercermin dari jumlah kunjungan. Data periode Januari hingga Juli 2024 mencatat sebanyak 281.155 wisatawan berkunjung. Dalam perkembangan berikutnya, rata-rata kunjungan disebut mencapai sekitar 40 ribu wisatawan per bulan pada 2024. Sementara pada 2025 dan 2026, rata-rata kunjungan berada di kisaran 29 ribu wisatawan per bulan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Noyo Gimbal View memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata berbasis desa. Namun lebih dari sekadar statistik, setiap wisatawan membawa pergerakan ekonomi. Ada tiket yang dibeli. Ada makanan yang disantap. Ada produk UMKM yang dibawa pulang. Ada jasa yang digunakan. Dan ada masyarakat yang mendapatkan manfaat.

Tantangan Tak Membuat Langkah Berhenti

Perjalanan membangun desa wisata tentu tidak selalu mulus. Permodalan, pemasaran, sumber daya manusia, hingga pengelolaan masing-masing unit usaha menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun dukungan Pemerintah Desa, lembaga desa, masyarakat, pengurus, serta karyawan BUMDes menjadi modal penting untuk terus bergerak.

Diversifikasi produk dan layanan, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta berkembangnya pendapatan BUMDes menjadi bagian dari capaian yang menunjukkan bahwa proses panjang tersebut mulai membuahkan hasil.

Dari Noyo Sentiko untuk Generasi Jama Now

Pada akhirnya, kisah Noyo Gimbal View bukan semata cerita tentang sebuah objek wisata di Desa Bangsri. Ini adalah cerita tentang bagaimana sejarah diterjemahkan menjadi energi pembangunan. Jika dahulu Noyo Sentiko dikenang karena semangat perjuangannya menghadapi penjajahan, generasi hari ini memiliki medan perjuangan yang berbeda. Memerangi keterbatasan. Menciptakan lapangan pekerjaan. Membuka peluang ekonomi. Mengembangkan potensi desa. Menjaga identitas lokal.

Dan membuat anak-anak muda percaya bahwa membangun masa depan tidak harus selalu dimulai dari kota. Bisa dimulai dari desa. Bisa dimulai dari sawah. Bisa dimulai dari sebuah ide sederhana. Bahkan bisa dimulai dari keberanian beberapa anak muda untuk berkata: desa kami juga bisa.

Monumen Noyo Sentiko akhirnya bukan sekadar patung setinggi delapan meter. Ia seperti pesan dari masa lalu untuk masa depan. Dulu perjuangan dilakukan untuk merebut kemerdekaan. Hari ini, perjuangan dilakukan untuk mengisi kemerdekaan dengan karya. Dan Desa Bangsri telah memilih jalannya: bergerak, berinovasi, memberdayakan masyarakat, menjaga sejarah, sekaligus membangun ekonomi desa melalui kreativitas generasi mudanya.

Dari Noyo Sentiko, semangat perjuangan diwariskan. Dari anak-anak muda Bangsri, semangat itu diteruskan menjadi karya. Noyo Gimbal View pun menjadi bukti bahwa desa yang memiliki keterbatasan bukan berarti tidak memiliki masa depan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk melihat potensi yang selama ini ada di depan mata. Karena dari sebuah desa, sebuah gerakan bisa dimulai. Dan dari keberanian anak muda, masa depan desa bisa dibangun.

Catatan: harga wahana dan paket outing class dalam naskah ini mengikuti informasi pada materi promosi yang diberikan. Tarif, komposisi paket, ketentuan penggunaan, serta ketersediaan wahana dapat berubah sewaktu-waktu. Pengunjung maupun rombongan sekolah disarankan melakukan konfirmasi terlebih dahulu kepada pengelola Noyo Gimbal View. Kontak yang tercantum dalam materi: 0821-4254-6660.

__Terbit pada
Agustus 24, 2026
__Kategori
Wisata