PERSAINGAN KETAT SELEKSI PAMONG KALURAHAN KARANGMOJO GUNUNGKIDUL 2026, EMPAT JABATAN DUKUH DIPEREBUTKAN 13 PESERTA
Empat jabatan dukuh yang kosong menjadi peluang bagi 13 kandidat untuk mengabdi kepada masyarakat. Seleksi dilakukan melalui ujian praktik komputer dan ujian tertulis guna menjaring calon pamong yang kompeten, berintegritas, serta memahami tata kelola pemerintahan kalurahan.
Gunungkidul TV – Menjadi seorang dukuh bukan sekadar menduduki jabatan di pemerintahan kalurahan. Ada tanggung jawab besar yang menanti, mulai dari melayani masyarakat, menjembatani aspirasi warga, hingga menjadi garda terdepan dalam menggerakkan pembangunan di tingkat padukuhan. Semangat itulah yang mewarnai pelaksanaan seleksi calon pamong Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (31/10/2026).
Sebanyak 13 peserta mengikuti proses seleksi untuk memperebutkan empat formasi jabatan dukuh yang saat ini masih kosong di lingkungan Pemerintah Kalurahan Karangmojo. Menariknya, seluruh formasi yang dibuka merupakan jabatan dukuh. Persaingan pun terbagi dalam empat wilayah padukuhan, yakni Dukuh Sumberejo dengan tiga peserta, Dukuh Ngrombo II tiga peserta, Dukuh Karangduwet II tiga peserta, serta Dukuh Ngagel yang diikuti empat peserta. Dengan demikian, setiap peserta harus menunjukkan kemampuan terbaiknya untuk memperoleh kepercayaan menjadi bagian dari pemerintahan kalurahan.
Dua Tahapan Ujian, Menguji Kemampuan dan Wawasan Peserta
Pelaksanaan seleksi dipusatkan di Kantor Kalurahan Karangmojo, sementara lokasi ujian praktik komputer bertempat di SMP Negeri 1 Ponjong. Lurah Karangmojo, Agus Budiyono, menjelaskan bahwa seleksi pamong kalurahan tahun 2026 ini diikuti 13 peserta yang memperebutkan empat formasi jabatan dukuh. Menurutnya, proses seleksi dirancang melalui dua tahapan pengujian, yakni ujian praktik dan ujian tertulis. Kedua tahapan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai kemampuan teknis sekaligus wawasan para calon pamong.
Tahapan awal dimulai dengan ujian praktik komputer yang meliputi pengoperasian Microsoft Word dan Microsoft Excel. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi seorang pamong dalam menjalankan tugas administrasi pemerintahan, menyusun dokumen, mengolah data, hingga mendukung pelayanan masyarakat. Setelah ujian praktik selesai, hasilnya akan langsung diumumkan berdasarkan peringkat peserta.
Sementara itu, ujian tertulis dirancang untuk mengukur pemahaman peserta mengenai tata kelola pemerintahan, kemampuan mendorong pemberdayaan masyarakat, serta pemahaman terhadap nilai-nilai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Artinya, calon dukuh tidak cukup hanya menguasai pekerjaan administratif. Mereka juga dituntut memiliki wawasan pemerintahan, kepedulian sosial, serta pemahaman terhadap karakter dan nilai-nilai budaya Yogyakarta.
Lima Penguji Terlibat dalam Seleksi
Untuk menjaga proses pengujian berjalan secara terstruktur, seleksi calon pamong Kalurahan Karangmojo melibatkan tim penguji yang memiliki latar belakang keilmuan dan kompetensi masing-masing. Tim penguji tersebut terdiri atas:
- Ahmad Darmadi, S.Pd., M.Eng., sebagai Ketua merangkap Anggota.
- Agung Susilo, A.Md., sebagai Sekretaris merangkap Anggota.
- Budi Haryanto, S.Pd., MAP., CHT., sebagai Anggota.
- Karjiyadi, S.Pd., M.Pd., sebagai Anggota.
- Mardiana Firdaus Sri Widiyawati, S.Psi., Psikolog, sebagai Anggota.
Keterlibatan tim penguji ini menjadi bagian penting dalam proses seleksi untuk mengukur kemampuan peserta sesuai dengan materi dan tahapan ujian yang telah ditentukan.
Bukan Sekadar Mencari Jabatan, tetapi Menemukan Pengabdi Masyarakat
Empat kursi dukuh yang diperebutkan dalam seleksi ini bukan sekadar posisi dalam struktur pemerintahan kalurahan. Di balik jabatan tersebut terdapat tanggung jawab pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Seorang dukuh harus mampu membangun komunikasi dengan warga, memahami persoalan sosial, menggerakkan semangat gotong royong, serta menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah kalurahan. Karena itu, proses seleksi pamong memiliki arti strategis. Kualitas sumber daya manusia yang terpilih nantinya turut menentukan bagaimana pelayanan pemerintahan dan pembangunan di tingkat padukuhan berjalan.
Bagi 13 peserta yang mengikuti seleksi, kesempatan ini tentu menjadi momentum untuk membuktikan kompetensi, kesiapan, dan komitmen mereka dalam mengabdi. Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan seorang dukuh yang mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga sosok yang hadir, mendengar, memahami, dan bekerja bersama warga.
Siapa pun yang nantinya terpilih mengisi empat formasi tersebut, harapannya adalah lahir pamong yang benar-benar mampu menjadi pelayan masyarakat sekaligus penggerak kemajuan di wilayahnya. Sebab, kemajuan sebuah kalurahan tidak hanya dibangun dari kebijakan di kantor pemerintahan, tetapi juga dari pengabdian nyata para pamong yang bekerja dekat dengan masyarakat. (Red)





