GKR BENDARA TANTANG DESA WISATA PUCUNG GUNUNGKIDUL, JANGAN CUMA ANDALKAN GAMELAN !!

Dewi Purbo – Desa Wisata Kalurahan Pucung Girisubo didorong naik kelas dari Desa Wisata Berkembang menjadi Desa Wisata Maju. Inovasi paket wisata, promosi, branding, hingga kolaborasi dengan travel agent dinilai menjadi kunci.

Gunungkidul TV – Sebuah desa wisata tidak cukup hanya memiliki pemandangan indah. Di tengah persaingan destinasi yang semakin ramai, wisatawan kini mencari sesuatu yang lebih: pengalaman yang berbeda, cerita yang kuat, serta alasan khusus mengapa mereka harus datang. Pesan itulah yang mengemuka saat Dewi Purbo, Desa Wisata Pucung, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, menjalani evaluasi dan klasifikasi desa wisata oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (Dispar DIY).

Kunjungan tersebut bukan sekadar untuk menentukan predikat. Lebih jauh, evaluasi menjadi kesempatan bagi Dewi Purbo untuk bercermin: apa yang sudah dimiliki, apa yang masih kurang, dan apa yang harus dilakukan agar mampu melompat dari Desa Wisata Berkembang menuju Desa Wisata Maju. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, selaku Ketua Pokja Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, memimpin langsung proses evaluasi.

Tim yang datang pun tidak hanya berasal dari unsur pemerintah. Akademisi, praktisi pariwisata, pengelola desa wisata hingga perwakilan industri pariwisata ikut melihat secara langsung kesiapan Dewi Purbo. Penilaian mencakup berbagai aspek. Mulai dari kelembagaan, atraksi, amenitas, pelayanan, hingga bagaimana sebuah desa wisata menjual dan mempromosikan dirinya kepada calon wisatawan. Sebab, desa wisata yang bagus tetapi tidak dikenal pasar akan menghadapi persoalan yang sama: potensi besar, tetapi kunjungan belum maksimal.

Jangan Sekadar Menunggu Wisatawan Datang

Dalam evaluasi tersebut, GKR Bendara memberikan perhatian khusus pada persoalan marketing, promosi, dan branding. Menurutnya, pengelola desa wisata perlu lebih aktif menjemput pasar. Produk wisata yang dimiliki harus dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dikenali, menarik untuk dibeli, dan memiliki alasan kuat untuk dikunjungi.

Salah satu strategi yang disarankan adalah membangun hubungan lebih erat dengan biro perjalanan atau travel agent. Bukan sekadar mengirim proposal, tetapi memperkenalkan produk secara langsung.

GKR Bendara mendorong Dewi Purbo membuat program promosi melalui Familiarization Trip (Famtrip). Pengelola dapat mengundang perwakilan travel agent untuk datang, melihat, mencoba, dan merasakan sendiri pengalaman wisata yang ditawarkan. Misalnya, setiap tahun lima orang dari lima travel agent berbeda diundang secara khusus.

Dari sinilah jejaring dapat terbentuk. Travel agent mengenal produknya, pengelola mengenal pasarnya, dan wisatawan mendapat lebih banyak pilihan destinasi. Strategi sederhana tersebut berpotensi membuka pintu pasar yang lebih besar.

Brosur Belum Mati di Era Digital

Di tengah gempuran media sosial dan pemasaran digital, GKR Bendara juga mengingatkan bahwa media promosi konvensional seperti brosur belum sepenuhnya kehilangan fungsi. Justru, materi promosi fisik yang dirancang dengan baik dapat menjadi alat bantu ketika pengelola bertemu wisatawan, biro perjalanan, komunitas, maupun calon mitra.

Pengelola Dewi Purbo bahkan disarankan mempelajari desain brosur yang digunakan Desa Wisata Jatimulyo sebagai salah satu referensi. Namun, promosi tidak boleh berhenti pada pembuatan materi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan kegiatan marketing memiliki anggaran yang berkelanjutan.

Promosi, kata GKR Bendara, jangan hanya muncul ketika ada momentum atau ketika desa wisata membutuhkan peningkatan kunjungan. Marketing harus menjadi bagian dari program kerja yang dilakukan secara konsisten. Karena wisatawan tidak datang hanya karena sebuah destinasi bagus. Mereka datang karena tahu destinasi itu ada, tertarik dengan apa yang ditawarkan, dan merasa pengalaman yang dijanjikan layak untuk dicoba.

“Jangan Hanya Gamelan”

Di sinilah tantangan berikutnya muncul. Dewi Purbo harus memiliki produk wisata yang tidak sekadar menarik, tetapi juga berbeda. GKR Bendara mendorong pengelola lebih berani melakukan inovasi paket wisata. Atraksi yang sudah umum di banyak desa wisata dinilai belum cukup untuk membangun identitas yang kuat.

Salah satunya adalah pertunjukan atau aktivitas bermain gamelan yang kini relatif mudah ditemukan di berbagai desa wisata. “Siapkan paket-paket wisata yang unik. Kalau sekadar atraksi bermain gamelan, di desa wisata lain sudah sangat banyak,” pesan GKR Bendara.

Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna besar. Dewi Purbo tidak harus menjadi desa wisata yang memiliki semuanya. Namun, harus memiliki sesuatu yang membuat wisatawan berkata “Kalau ke Gunungkidul, saya harus mencoba yang ada di Pucung.”

Keunikan itulah yang nantinya dapat menjadi identitas sekaligus fondasi branding Dewi Purbo. Produk wisata juga perlu dikemas dalam bentuk paket yang jelas. Wisatawan tidak hanya diberi daftar atraksi, tetapi ditawarkan sebuah pengalaman utuh apa yang dilakukan, berapa lama waktunya, apa yang didapat, dan berapa biaya yang harus disiapkan. Dengan cara itu, potensi lokal dapat berubah menjadi produk wisata yang memiliki nilai jual.

Destinasi Baru Jangan Terburu-buru Dibuka

GKR Bendara juga memberikan catatan terkait rencana pembukaan destinasi wisata baru. Menurutnya, sebuah destinasi tidak harus langsung dibuka besar-besaran. Tahapan soft opening justru penting dilakukan terlebih dahulu.

Pada tahap ini, pengelola dapat mengundang wisatawan dalam jumlah terbatas untuk menguji kesiapan berbagai aspek. Mulai dari pelayanan, fasilitas, alur kunjungan, keamanan, hingga pengalaman wisatawan. Setelah berbagai kekurangan ditemukan dan diperbaiki, barulah destinasi siap melangkah menuju grand opening. “Jika ingin membuka destinasi, sebaiknya dilakukan bertahap, misalnya soft opening terlebih dahulu. Setelah semuanya dievaluasi dan benar-benar oke, barulah grand opening,” tuturnya.

Dengan pola tersebut, pengelola memiliki kesempatan untuk belajar sebelum menghadapi jumlah wisatawan yang lebih besar.

Naik Kelas Bukan Sekadar Ganti Predikat

Kehadiran Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY mendapat sambutan dari Pemerintah Kalurahan Pucung dan Kapanewon Girisubo. Panewu Anom Kapanewon Girisubo, Hari Susanto mengapresiasi evaluasi yang dilakukan secara langsung. Ia berharap Dewi Purbo mampu meningkatkan kualitas pengelolaan sehingga dapat naik kelas dari Desa Wisata Berkembang menjadi Desa Wisata Maju. Namun, bagi Hari, predikat bukanlah tujuan akhir.

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah keberadaan desa wisata benar-benar membuat masyarakat ikut merasakan manfaatnya? “Jangan hanya di atas kertas, hitam di atas putih. Predikat desa wisata ini harus benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Harapannya, perputaran ekonomi di wilayah ini meningkat dan masyarakat sekitar makin sejahtera,” tegas Hari.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pariwisata pada akhirnya bukan hanya tentang jumlah wisatawan. Pariwisata juga berbicara tentang warung yang semakin ramai, produk UMKM yang semakin laku, homestay yang terisi, pemandu wisata yang mendapatkan pekerjaan, serta masyarakat yang memiliki peluang ekonomi baru.

Mimpi Besar Girisubo

Harapan yang dibangun bahkan tidak berhenti di Pucung. Hari Susanto memproyeksikan pengembangan pariwisata yang lebih luas di Kapanewon Girisubo. Ia berharap seluruh kalurahan di wilayah tersebut pada akhirnya mampu memenuhi standar dan berkembang menjadi desa wisata.

Jika hal itu terwujud, masing-masing kalurahan tidak perlu berjalan sendiri-sendiri. Potensi antar kalurahan dapat dirangkai menjadi satu ekosistem wisata yang saling melengkapi. Satu kalurahan menawarkan atraksi alam. Kalurahan lain menghadirkan budaya. Kalurahan berikutnya mengembangkan kuliner, kerajinan, aktivitas masyarakat, atau pengalaman khas lainnya.

Wisatawan pun tidak hanya datang untuk satu titik. Mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, dan menjelajahi lebih banyak sudut Girisubo.

Dari Pucung untuk Ekonomi Masyarakat

Pada akhirnya, evaluasi Dewi Purbo menjadi lebih dari sekadar proses klasifikasi. Ini adalah momentum untuk membenahi cara desa wisata melihat dirinya sendiri. Potensi harus diubah menjadi produk. Produk harus dikemas menjadi paket. Paket harus dipasarkan. Dan promosi harus berujung pada kunjungan serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Catatan Tim Klasifikasi Desa Wisata DIY memberikan pekerjaan rumah yang cukup jelas bagi Dewi Purbo: memperkuat kelembagaan, menciptakan atraksi yang khas, meningkatkan pelayanan, membangun branding, memperluas jaringan pemasaran, menggandeng travel agent, serta menyusun paket wisata yang tidak pasaran.bSebab, naik kelas bukan sekadar mendapatkan predikat Desa Wisata Maju.

Naik kelas berarti ketika wisatawan mulai mengenal Pucung, ketika paket wisata mulai diburu, ketika destinasi mulai ramai dikunjungi, dan ketika denyut ekonomi masyarakat ikut bergerak. Jika itu yang terjadi, maka label ’Maju’ bukan lagi sekadar tulisan di atas kertas.

Ia akan terlihat dari kehidupan masyarakat yang semakin hidup. Dan dari Pucung, cerita tentang pariwisata Gunungkidul bagian timur bisa saja sedang memulai babak barunya. (Red)

__Terbit pada
Oktober 6, 2026
__Kategori
News