DI BALIK LONJAKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH GUNUNGKIDUL, ADA DUGAAN KEBOCORAN YANG KIAN MASIF

Gunungkidul TV – Awal tahun 2026 menjadi periode yang menggembirakan sekaligus mengundang tanda tanya bagi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi wisata melonjak tajam, seiring membludaknya kunjungan wisatawan ke deretan pantai selatan yang kian populer. Namun di balik angka yang tampak menjanjikan, muncul suara kritis yang mengingatkan agar euforia ini tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar.

Salah satunya datang dari Ratno Pintoyo. Politisi senior ini menilai, lonjakan PAD tidak bisa serta-merta diklaim sebagai hasil keberhasilan administratif, terutama dari kebijakan perombakan personel petugas di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR). Menurutnya, narasi tersebut terlalu sederhana untuk menjelaskan realitas di lapangan yang jauh lebih kompleks. “Kalau hanya mengganti petugas lalu dianggap sebagai kunci sukses, itu terlalu gegabah,” ujarnya. “Masalahnya bukan sekadar siapa yang berjaga, tapi bagaimana sistemnya bekerja.”

Antara Angka dan Fakta di Lapangan

Di tengah arus wisatawan yang terus berdatangan, temuan di lapangan justru menunjukkan masih adanya celah dalam sistem pemungutan retribusi. Laporan pengunjung hingga pengamatan anggota dewan mengindikasikan ketidaksesuaian antara nominal yang dibayarkan dengan angka yang tercetak pada tiket. Fenomena ini bukan hal baru, namun disebut masih terus berulang bahkan dengan pola yang kian beragam.

Bagi Ratno, kondisi ini menjadi sinyal bahwa persoalan utama belum tersentuh. Perombakan personel, menurutnya, hanya menyentuh permukaan, sementara akar masalah tetap dibiarkan tumbuh. “Kalau sistemnya masih sama, siapa pun petugasnya, potensi kebocoran akan tetap ada,” tegasnya.

Efek “Destinasi Viral” yang Tak Terbendung

Di sisi lain, lonjakan PAD justru lebih masuk akal jika dikaitkan dengan fenomena menjamurnya destinasi wisata baru yang viral di media sosial. Nama-nama seperti Drini Park, On The Rock, dan Pantai Jungwok kini menjadi magnet baru yang menyedot ribuan wisatawan setiap pekan. Pantai-pantai yang dulu relatif sepi kini berubah menjadi pusat keramaian. Jalanan menuju kawasan pesisir dipadati kendaraan, warung-warung tumbuh, dan geliat ekonomi lokal pun ikut terdongkrak.

Lonjakan kunjungan inilah yang secara langsung berdampak pada peningkatan retribusi. “Ini bukan semata hasil kebijakan administratif, tapi efek dari daya tarik destinasi baru yang luar biasa,” jelas Ratno.

Saatnya Beralih ke Sistem yang Lebih Cerdas

Di tengah dinamika tersebut, muncul kebutuhan mendesak untuk membenahi tata kelola retribusi secara lebih modern dan transparan. Ratno menekankan pentingnya digitalisasi sebagai langkah strategis untuk menutup celah kebocoran.

Sistem berbasis teknologi dinilai mampu menciptakan transparansi, akuntabilitas, sekaligus efisiensi. Dengan digitalisasi, setiap transaksi dapat tercatat secara real time, meminimalisasi praktik manipulasi, dan meningkatkan kepercayaan publik. Tanpa langkah ini, menurutnya, pergantian personel hanya akan menjadi siklus tanpa akhir berganti wajah, namun dengan persoalan yang sama.

Menjaga Ekosistem Wisata, Bukan Sekadar Menarik Retribusi

Lebih jauh, sorotan ini juga membuka perspektif baru tentang bagaimana pemerintah seharusnya memandang sektor pariwisata. Bukan sekadar sebagai sumber pendapatan, tetapi sebagai ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya. Destinasi-destinasi baru yang tumbuh secara kreatif dan inovatif merupakan aset penting bagi daerah. Mereka bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan membangun identitas baru pariwisata Gunungkidul.

Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi krusial bukan hanya di pintu masuk retribusi, tetapi juga dalam memastikan kenyamanan wisatawan, kualitas layanan, serta integritas sistem yang berlaku. “Wisatawan datang karena pengalaman, bukan sekadar tiket masuk,” kata Ratno. “Kalau sistemnya tidak jujur, itu bisa merusak kepercayaan.”

Antara Optimisme dan Evaluasi

Lonjakan PAD tentu menjadi kabar baik bagi pembangunan daerah. Namun di saat yang sama, ia juga menjadi cermin untuk melihat lebih dalam: apakah sistem yang ada sudah benar-benar kuat, atau justru masih menyimpan celah? Gunungkidul kini berada di persimpangan antara melanjutkan euforia pertumbuhan, atau mengambil momentum untuk berbenah secara fundamental.

Satu hal yang pasti, di balik ramainya pantai dan panjangnya antrean wisatawan, ada pekerjaan rumah besar yang menunggu untuk diselesaikan. Bukan hanya tentang angka yang naik, tetapi tentang bagaimana memastikan setiap rupiah yang masuk benar-benar memberi manfaat bagi daerah dan masyarakatnya. (Red)

__Terbit pada
April 15, 2026
__Kategori
News