MAHASISWA UNY KAMPUS SEMANU SULAP SAYURAN DAUN JADI KULINER KEKINIAN, LEAFESTIVA GUNUNGKIDUL CURI PERHATIAN
Gunungkidul TV – Aroma masakan tradisional bercampur kreasi kuliner modern memenuhi halaman Kampus UNY Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (5/5/2026).
Di tengah semangat generasi muda yang terus mencari inovasi baru, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Tata Boga Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta menghadirkan sebuah festival unik bertajuk Food Festival Leafestiva. Festival ini bukan sekadar ajang pamer makanan. Leafestiva menjelma menjadi ruang kreativitas, edukasi, sekaligus perayaan pangan lokal yang dikemas dengan sentuhan modern dan kekinian.

Mengusung tema Inovasi Pangan dari Sayuran Daun, mahasiswa mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap bahan pangan sederhana yang selama ini sering dianggap biasa. Bayam, daun kelor, daun singkong, hingga aneka sayuran hijau lainnya disulap menjadi sajian kreatif yang tampil menggoda, sehat, dan bernilai ekonomi tinggi. Dari hidangan tradisional hingga sajian modern ala kafe, semuanya hadir dengan warna, aroma, dan cita rasa yang memancing rasa penasaran pengunjung.
Sekitar 100 mahasiswa angkatan 2023 Prodi Tata Boga UNY terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya memasak, tetapi juga merancang konsep produk, tampilan sajian, hingga strategi promosi agar makanan lokal mampu bersaing di era industri kreatif. Suasana festival terasa semakin hidup dengan berbagai rangkaian kegiatan menarik. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah lomba olahan tradisional Tumpeng Tiwul. Makanan khas Gunungkidul yang dahulu identik dengan kesederhanaan, kini tampil lebih modern tanpa kehilangan identitas budaya lokalnya.
Tidak berhenti di situ, festival juga menghadirkan seminar kuliner dan lomba fotografi bertema pangan berbasis tumbuhan. Menariknya, kegiatan seminar turut diikuti sekitar 100 siswa SMA/SMK dari berbagai sekolah di Gunungkidul. Kehadiran para pelajar ini menjadi simbol bahwa dunia kuliner kini semakin dilihat sebagai peluang masa depan yang menjanjikan. Di era media sosial seperti sekarang, makanan bukan lagi sekadar soal rasa. Tampilan visual, cerita di balik produk, hingga nilai kesehatan menjadi daya tarik tersendiri. Hal inilah yang coba ditangkap oleh para mahasiswa melalui Leafestiva.
Ketua panitia, Diva Dwi Budi Utomo Adi, mengatakan bahwa inovasi pangan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan dukungan dari banyak pihak, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga generasi muda kreatif yang berani bereksperimen. “Festival ini ingin menunjukkan bahwa sayuran daun yang sederhana bisa menjadi produk kuliner yang menarik, sehat, bahkan memiliki peluang bisnis besar jika dikembangkan secara kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, tren gaya hidup sehat yang terus berkembang membuka peluang besar bagi kuliner berbasis tumbuhan untuk semakin diminati masyarakat.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang diwakili Staf Ahli Perekonomian dan Pembangunan, Wibawanti Wulandari. Dalam sambutannya, ia menilai kegiatan seperti Leafestiva sangat penting untuk membangun semangat inovasi dan kewirausahaan generasi muda. “Kegiatan seperti ini sangat baik untuk mendorong inovasi di bidang kuliner, khususnya dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan daya saing,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Vokasi UNY, Dr. Andeng Pustikaningsih, S.E., M.Si., menyebut Leafestiva sebagai wadah nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus pola pikir kreatif. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mampu memasak. Mereka juga harus mampu membaca tren pasar, memahami kebutuhan masyarakat, dan menciptakan produk yang relevan dengan perkembangan zaman. “Kami berharap mahasiswa mampu menjadi pelopor pengembangan kuliner sehat berbasis potensi daerah,” ujarnya.
Lebih dari sekadar festival kampus, Leafestiva menjadi gambaran bagaimana generasi muda mulai memandang pangan lokal dengan perspektif baru. Apa yang dahulu dianggap sederhana, kini mampu tampil modern, bernilai jual, dan berpotensi viral di tengah budaya digital. Di tangan anak-anak muda kreatif, daun-daunan bukan lagi sekadar pelengkap sayur di dapur rumah. Ia berubah menjadi simbol inovasi, peluang usaha, sekaligus masa depan industri kuliner lokal.
Leafestiva pun menjadi bukti bahwa dari sebuah kampus di kawasan Semanu, semangat besar untuk membangun kuliner sehat, kreatif, dan berkelas bisa tumbuh dan menginspirasi banyak orang. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.