MUHAMMADIYAH DIY WARNING KRISIS LINGKUNGAN, GUNUNGKIDUL JADI TITIK AWAL GERAKAN BESAR

Gunungkidul TV – “Lingkungan hidup hari ini bukan lagi isu sampingan. Ini soal masa depan anak cucu kita. Kalau gerakan lingkungan tidak dibangun dari sekarang, kita sedang mewariskan krisis,” ujar Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY, Ahmad Ahid Mudayana saat membuka Rapat Koordinasi Majelis Lingkungan Hidup se-DIY di SMP Al-Mujahidin Playen, Gunungkidul, Sabtu (23/5/2026).

Kalimat itu menjadi pembuka yang menggugah suasana pagi di kawasan Playen. Di tengah udara yang masih segar dan suasana sekolah yang sederhana namun hangat, puluhan pegiat lingkungan Muhammadiyah dari seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul dalam satu semangat: menjaga bumi dengan gerakan nyata.

Bukan sekadar rapat biasa, forum ini terasa seperti titik temu antara idealisme, kegelisahan, dan harapan tentang masa depan lingkungan hidup DIY yang semakin menghadapi tekanan pembangunan, pertumbuhan penduduk, hingga ancaman kerusakan alam. Dengan mengusung tema “Sinergi Gerakan Lingkungan Hidup untuk Mewujudkan Daerah Istimewa Yogyakarta yang Berkelanjutan dan Berkemajuan”, kegiatan ini mempertemukan unsur Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dari Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Bantul, Kulon Progo, hingga Sleman.

Di ruang pertemuan yang dipenuhi semangat kolaborasi itu, satu pesan terus menguat: gerakan lingkungan tidak bisa dilakukan sendirian.

Krisis Lingkungan Sudah Ada di Depan Mata

Dalam sesi wawancara khusus usai kegiatan, Ahmad Ahid Mudayana menegaskan bahwa persoalan lingkungan saat ini sudah memasuki tahap yang mengkhawatirkan dan harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, perubahan iklim kini tidak lagi sekadar teori atau isu global yang jauh dari kehidupan masyarakat. “Kita sudah mulai merasakan dampaknya. Cuaca makin sulit diprediksi, sumber air mulai tertekan, persoalan sampah semakin besar, termasuk ancaman kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak terkendali,” ungkapnya.

Ia menilai DIY sebagai daerah pendidikan dan pariwisata memiliki tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam. Karena itu, Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup ingin mengambil peran lebih aktif dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat berbasis dakwah dan pendidikan. “Kalau dulu dakwah banyak fokus pada persoalan ibadah mahdhah, sekarang menjaga lingkungan juga menjadi bagian penting dari dakwah kemanusiaan. Menjaga alam itu menjaga kehidupan,” katanya.

Muhammadiyah Ingin Gerakan Lingkungan Menjadi Budaya

Ahmad Ahid Mudayana juga menegaskan bahwa gerakan lingkungan tidak boleh berhenti pada kegiatan simbolik semata. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini justru bagaimana membangun budaya hidup ramah lingkungan yang tumbuh dari keluarga, sekolah, masjid, hingga masyarakat luas. “Kita ingin gerakan ini menjadi kebiasaan. Mulai dari mengurangi sampah plastik, hemat air, penghijauan, sampai membangun kesadaran bahwa bumi ini titipan generasi mendatang,” jelasnya.

Ia berharap seluruh MLH PDM se-DIY bisa menjadi pusat penggerak perubahan di daerah masing-masing. Dalam rakor tersebut, lanjutnya, masing-masing daerah membawa praktik baik dan program unggulan yang nantinya akan disinergikan agar gerakan lingkungan Muhammadiyah lebih masif dan terukur. “Gunungkidul punya kekuatan di konservasi air dan gerakan masyarakat, Sleman punya edukasi lingkungan, daerah lain juga punya inovasi masing-masing. Kalau ini disatukan, dampaknya akan luar biasa,” ujarnya.

Dari Playen Gunungkidul untuk Masa Depan DIY

Dipilihnya SMP Al-Mujahidin Playen sebagai lokasi kegiatan dinilai memiliki makna simbolis yang kuat. Dari wilayah yang dulu dikenal tandus dan kekurangan air, kini tumbuh semangat baru tentang pentingnya menjaga alam. Suasana rapat pun terasa hidup ketika para peserta saling bertukar gagasan tentang pengelolaan sampah, penghijauan, ketahanan air, hingga pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

Di akhir acara kegiatan, Ahmad Ahid Mudayana mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menunggu terlambat dalam menjaga lingkungan. “Kalau kita ingin masa depan DIY tetap nyaman dihuni, sumber air tetap ada, udara tetap bersih, maka gerakan menjaga lingkungan harus dimulai hari ini. Tidak bisa ditunda lagi,” tegasnya. Langkah kecil dari ruang sekolah di Playen itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari tempat itulah, semangat menjaga bumi kembali disuarakan bahwa masa depan lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama seluruh masyarakat. (Red)

__Terbit pada
Mei 23, 2026
__Kategori
News