BAJANGAN FOOD ECOPARK GUNUNGKIDUL, MIMPI BESAR BALEHARJO BANGUN PERADABAN EKONOMI BARU

Gunungkidul TV – Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan Wonosari, ada satu hamparan lahan di Kalurahan Baleharjo yang mulai dipandang sebagai titik masa depan baru masyarakat. Kawasan itu bernama Bajangan.

Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kalurahan Baleharjo, Gregorius Oon Rahmat Sukaryono, menyebut kawasan seluas kurang lebih tujuh hektar tersebut memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat modern di Kabupaten Gunungkidul apabila dikelola dengan visi jangka panjang dan konsep pembangunan yang matang. “Bajangan ini bukan sekadar tanah kosong. Letaknya sangat strategis dan punya potensi besar untuk masa depan Baleharjo. Kalau dibangun dengan visi besar, kawasan ini bisa menjadi kebanggaan masyarakat,” ujar Oon dalam wawancara liputan khusus.

Sekilas kawasan Bajangan memang masih tampak sederhana. Hamparan lahan di sisi Ring Road Timur Wonosari itu belum dipenuhi bangunan megah maupun pusat aktivitas modern sebagaimana kawasan perkotaan lainnya. Namun justru di tempat itulah sebagian masyarakat mulai melihat peluang lahirnya wajah baru ekonomi rakyat di Gunungkidul.

Lokasi Bajangan dinilai sangat potensial karena berada dekat Terminal Dhaksinarga Wonosari, berada di jalur pertumbuhan ekonomi kawasan timur kota, memiliki bentang sungai alami, sekaligus berada di pusat denyut perkembangan ibu kota Kabupaten Gunungkidul. Kini denyut kawasan tersebut perlahan mulai hidup melalui aktivitas ekonomi yang dijalankan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Baleharjo.

Koperasi itu nantinya akan mengelola berbagai layanan kebutuhan masyarakat mulai dari gerai sembako, klinik kesehatan, apotek, distribusi pupuk subsidi, gas elpiji, hingga pusat kebutuhan pangan masyarakat. Artinya, perputaran ekonomi mulai terbentuk.

Masyarakat diperkirakan akan datang setiap hari. Aktivitas jual beli akan tumbuh. Kawasan Bajangan perlahan diproyeksikan hidup dari pagi hingga malam. Dari titik inilah muncul gagasan agar Bajangan tidak berhenti hanya menjadi aset yang dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat.

Menurut Oon, kawasan tersebut terlalu strategis jika hanya dipikir untuk pemasukan jangka pendek tanpa arah pembangunan yang jelas. “Ke depan Wonosari pasti terus berkembang. Ruang strategis akan semakin terbatas. Karena itu Bajangan harus dijaga sebagai investasi masa depan masyarakat Baleharjo,” katanya.

Di tengah semakin berkembangnya kawasan perkotaan Wonosari, sebagian masyarakat kini mulai membayangkan masa depan Bajangan sebagai kawasan ekonomi rakyat modern berbasis koperasi desa. Konsep itu kemudian melahirkan sebuah gagasan besar bernama Bajangan Food Ecopark Gunungkidul.

Sebuah kawasan ekonomi pangan modern yang mengintegrasikan perdagangan rakyat, pertanian modern, sentra UMKM, distribusi pangan, ruang publik, kawasan hijau, hingga pusat aktivitas masyarakat yang hidup dan produktif. Bukan hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga ruang hidup baru masyarakat Baleharjo.

Dalam konsep pengembangannya, kawasan itu dibayangkan memiliki agro market modern, greenhouse pertanian, plaza rakyat, pusat UMKM, sentra distribusi pangan, riverwalk di tepian sungai alami, hingga ruang festival kuliner dan pangan lokal khas Gunungkidul. Jika suatu hari gagasan tersebut benar-benar terwujud, masyarakat yang melintas di Ring Road Timur Wonosari tidak lagi melihat hamparan kosong yang sepi.

Mereka akan melihat kawasan hijau produktif yang tertata modern, hidup dari pagi hingga malam, sekaligus menjadi wajah baru Baleharjo. Bahkan bukan tidak mungkin Bajangan kelak tumbuh menjadi ikon ekonomi rakyat modern di Gunungkidul.

Meski terdengar besar, gagasan tersebut dinilai bukan sesuatu yang mustahil. Banyak kawasan maju di berbagai daerah lahir dari keberanian membangun mimpi jangka panjang ketika orang lain masih sibuk memikirkan kebutuhan sesaat. Sebaliknya, tidak sedikit daerah kehilangan aset strategisnya karena pembangunan tanpa arah dan visi besar. Tanah-tanah potensial habis sedikit demi sedikit, kawasan tumbuh tanpa konsep, lalu generasi berikutnya hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Kekhawatiran itulah yang kini mulai muncul di tengah masyarakat Baleharjo. Karena itu Oon berharap pemerintah kalurahan bersama masyarakat mampu menjaga Bajangan sebagai aset masa depan desa. “Pembangunan desa hari ini tidak cukup hanya membangun fisik. Desa harus punya arah masa depan. Bajangan ini peluang besar kalau benar-benar dipikir serius,” tegasnya.

Di tengah perubahan wajah Wonosari yang terus berkembang, Bajangan kini perlahan mulai dipandang bukan hanya sebagai tanah desa biasa. Lebih dari itu, kawasan tersebut dianggap sebagai peluang lahirnya peradaban ekonomi baru masyarakat Baleharjo di masa depan. (Red)

__Terbit pada
Mei 22, 2026
__Kategori
News