MISI DAMAI BERUJUNG DUKA, PRAJURIT TNI ASAL KULON PROGO YOGYAKARTA GUGUR DI LEBANON, TINGGALKAN ISTRI DAN ANAK
Gunungkidul TV – Langit malam di Lebanon Selatan tak selalu tenang. Di antara sunyi yang menggantung di perbatasan, dentuman artileri kerap memecah harap mengingatkan dunia bahwa damai masih menjadi perjuangan panjang.
Di sanalah, jauh dari tanah kelahirannya, seorang prajurit muda Indonesia berdiri tegak menjalankan amanah. Namanya Farizal Romadhon.

Ahad malam (29/03/2026) menjadi penanda duka. Sekira pukul 20.44 waktu setempat, kawasan Indobatt UNP 7-1 di Desa Achid Alqusayr diguncang serangan artileri Israel. Dalam hitungan detik, suasana yang sebelumnya hening berubah menjadi kepanikan. Farizal, yang tengah bertugas sebagai bagian dari Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S, menjadi salah satu korban dalam insiden tersebut.
Ia gugur bukan di tanah air, melainkan di garis depan misi perdamaian dunia di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon.
Jejak Pengabdian dari Kulon Progo ke Dunia
Farizal lahir di Kulon Progo, 3 Januari 1998. Dari tanah sederhana di selatan Yogyakarta, ia menapaki jalan pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia. Dalam setiap langkahnya, ia dikenal sebagai sosok disiplin, tenang, dan penuh tanggung jawab.
Sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima di kesatuannya, Farizal bukan hanya menjalankan tugas, tetapi juga menjaga kehormatan korps. Dedikasinya terpatri dalam dua tanda kehormatan negara yang ia terima: Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun simbol kesetiaan yang tak sekadar disematkan, tetapi dijalani.
Namun, di balik seragam dan pangkatnya, Farizal adalah seorang suami dan ayah. Ia meninggalkan seorang istri, Fafa Nur Azila, serta putri kecilnya, Shanaya Almahyra Elshanu, yang baru berusia dua tahun—usia di mana dunia masih dipenuhi tawa polos dan pelukan hangat.
Di Garis Tipis Antara Damai dan Konflik
Misi perdamaian bukanlah tugas tanpa risiko. Di wilayah Lebanon Selatan, ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata setempat kerap memicu eskalasi yang tak terduga. Pasukan penjaga perdamaian seperti UNIFIL hadir sebagai penyeimbang menjaga stabilitas di tengah konflik yang tak kunjung reda.
Namun realitas di lapangan seringkali jauh dari kata aman. Serangan yang merenggut nyawa Farizal menjadi pengingat bahwa para penjaga damai pun berada dalam bayang-bayang bahaya. Mereka bukan hanya saksi konflik, tetapi juga bagian dari garis pertahanan terakhir bagi kemanusiaan.
Duka yang Menjadi Doa, Pengorbanan yang Menjadi Warisan
Kepergian Farizal meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga, rekan satu tugas, dan bangsa yang ia wakili. Namun di balik duka itu, tersimpan kebanggaan: bahwa seorang anak bangsa telah menunaikan tugasnya hingga akhir, tanpa ragu. Sebagai bentuk penghormatan, negara hadir melalui berbagai hak yang diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan mulai dari gaji terusan, beasiswa pendidikan bagi sang putri, hingga santunan dan pembiayaan pemakaman. Lebih dari itu, ada sesuatu yang tak ternilai: kehormatan.
Karena pada akhirnya, pengabdian seorang prajurit tak diukur dari panjang usia, melainkan dari seberapa tulus ia menjaga amanah.

Dari Jauh, Indonesia Menundukkan Kepala
Di tanah air, kabar ini menjalar cepat membawa rasa kehilangan yang sama. Dari desa di Kulon Progo hingga sudut-sudut negeri, doa mengalir untuk Farizal. Namanya kini bukan hanya tercatat dalam arsip militer, tetapi juga dalam ingatan kolektif bangsa sebagai simbol keberanian, pengorbanan, dan cinta pada tanah air.
Di bawah langit Lebanon yang pernah menjadi saksi langkahnya, Farizal mungkin telah pergi. Namun jejaknya tetap tinggal dalam sunyi, dalam doa, dan dalam harapan bahwa suatu hari nanti, dunia benar-benar mengenal arti damai. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.