PEMILIHAN LURAH GUNUNGKIDUL 2026 MAKIN MEMANAS, 24 LURAH PETAHANA KEMBALI BERTARUNG REBUT KEPERCAYAAN WARGA

Gunungkidul TV – Suasana politik di kalurahan (desa-red) di Kabupaten Gunungkidul mulai menghangat. Di balik rutinitas pelayanan pemerintahan kalurahan, kini muncul dinamika baru yang menjadi perhatian masyarakat. Pemilihan Lurah (Pilur) Serentak 2026 resmi memasuki tahapan pendaftaran bakal calon, membuka peluang lahirnya pemimpin-pemimpin baru sekaligus menjadi panggung pembuktian bagi para lurah yang ingin kembali mengabdi.

Hingga tahapan pendaftaran yang masih berlangsung sampai 23 Juli 2026, sebanyak 24 lurah petahana dikabarkan siap kembali mengikuti kontestasi. Mereka bertekad meminta mandat baru dari masyarakat untuk memimpin kalurahannya selama delapan tahun ke depan. Fenomena ini menunjukkan bahwa jabatan lurah bukan sekadar posisi administratif, tetapi juga amanah yang dinilai langsung oleh masyarakat melalui rekam jejak pelayanan, pembangunan, hingga kemampuan menjaga keharmonisan sosial di tingkat desa.

Kepala Bidang Bina Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Kalurahan DPMKP2KB Gunungkidul, Kriswantoro, menjelaskan bahwa tahapan pendaftaran bakal calon telah dimulai sejak pertengahan Juli dan hingga kini masih terus berlangsung. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan pemerintah daerah, sebagian besar lurah yang masih aktif dinilai memiliki peluang untuk kembali memperoleh kepercayaan masyarakat. Namun demikian, tidak semua memilih melanjutkan perjalanan politiknya.

Ada pula yang memutuskan stop atah berhenti di akhir masa pengabdian

Empat lurah diketahui memilih tidak kembali mencalonkan diri. Diantaranya .ereka adalah Lurah Ngunut di Kapanewon Playen, Siraman di Wonosari, Botodayaan di Rongkop, dan Watusigar di Ngawen. Keputusan tersebut menjadi bukti bahwa menjadi lurah bukan sekadar soal menang dalam pemilihan, melainkan juga kesiapan fisik, mental, dan komitmen untuk terus melayani masyarakat. “Keputusan itu merupakan hak masing-masing. Ada yang merasa sudah cukup mengabdi, ada pula yang mengaku tidak lagi sanggup menjalankan tugas sebagai lurah,“ ungkap Kriswantoro.

Menariknya, dinamika Pilur tahun ini juga menghadirkan sejumlah nama lama yang ingin kembali ke panggung pemerintahan desa.

Misalkan di Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari, serta Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, dua mantan lurah disebut bersiap mengikuti pemilihan. Namun karena saat ini mereka tidak lagi menjabat, keduanya tidak masuk kategori petahana. Sementara itu, terdapat kisah unik dari Lurah Jurangjero, Kapanewon Ngawen. Meski disebut akan kembali maju dalam Pilur di tahun 2026 ini, ia justru memilih mencalonkan diri di Kalurahan Kampung, yang masih berada di wilayah Kapanewon Ngawen. Dengan demikian, statusnya juga tidak dihitung sebagai lurah petahana. Situasi tersebut membuat jumlah petahana yang benar-benar kembali bertarung tercatat sebanyak 24 orang. Meski wajah-wajah lama masih mendominasi, kesempatan menjadi pemimpin kalurahan tetap terbuka lebar bagi masyarakat umum yang memenuhi seluruh persyaratan administrasi.

Pilur Serentak 2026 pun diprediksi menjadi arena persaingan yang semakin kompetitif. Tidak hanya mengandalkan popularitas, para calon juga dituntut mampu menawarkan gagasan, inovasi, dan visi pembangunan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat desa.

Gambaran persaingan itu mulai terlihat di Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen.

Ketua Panitia Pemilihan Lurah Ngawu, Miyardi, mengungkapkan bahwa hingga Kamis siang baru satu bakal calon yang telah resmi menyerahkan berkas pendaftaran, yakni Sugiyanto. Meski demikian, panitia meyakini jumlah peserta akan bertambah menjelang penutupan pendaftaran. Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, diperkirakan akan ada tiga bakal calon yang ikut bertarung di Ngawu. Salah satunya merupakan lurah petahana yang telah berkonsultasi mengenai kelengkapan administrasi, meskipun hingga kini belum menyerahkan dokumen pendaftaran secara resmi.

Tahapan yang masih berlangsung membuat peta politik desa di Gunungkidul belum sepenuhnya terbentuk. Nama-nama baru masih berpeluang muncul hingga hari terakhir pendaftaran. Pemilihan lurah Serentak 2026 ini bukan hanya menjadi ajang memilih kepala pemerintahan kalurahan, tetapi juga momentum penting bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa selama delapan tahun ke depan.

Di tangan para pemilihlah masa depan setiap kalurahan akan ditentukan. Apakah masyarakat akan kembali mempercayakan kepemimpinan kepada petahana yang dinilai berhasil, atau justru memberikan kesempatan kepada wajah baru dengan gagasan yang lebih segar? Jawabannya akan mulai terlihat setelah tahapan pendaftaran berakhir dan seluruh bakal calon resmi ditetapkan. Satu hal yang pasti, kontestasi Pilur Gunungkidul 2026 diprediksi menjadi salah satu pesta demokrasi desa paling menarik, karena mempertemukan pengalaman para petahana dengan semangat perubahan dari para penantang baru. (Red)

__Terbit pada
Juli 18, 2026
__Kategori
News