VIRAL !! LAHAN TIDUR 35 HEKTARE DI LANUD ADISUTJIPTO DISULAP JADI KEBUN TEBU PRODUKTIF UNTUK INDONESIA
Gunungkidul TV – Hamparan hijau tanaman tebu yang tumbuh rapi di kawasan Lanud Adisutjipto, Sleman, menjadi saksi bagaimana sebuah lahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini menjelma menjadi bagian dari gerakan besar menjaga ketahanan pangan Indonesia.
Jumat (17/7/2026), suasana di kompleks Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto tampak berbeda. Deretan batang tebu siap panen berdiri tegak menyambut dimulainya Panen Raya Serentak Nasional, sebuah agenda yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto melalui sambungan daring dari Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Momentum ini bukan sekadar seremoni panen. Di balik setiap batang tebu yang dipotong, tersimpan semangat kolaborasi antara pemerintah, TNI, BUMN, aparat keamanan, dan para petani dalam membangun kemandirian pangan Indonesia. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, turut hadir menyaksikan langsung kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi simbol dukungan Pemerintah Kabupaten Sleman terhadap langkah nyata memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan bangsa.
Panen raya yang berlangsung serentak di berbagai daerah Indonesia mencakup panen tebu yang didampingi TNI Angkatan Udara di delapan lokasi, panen padi oleh TNI Angkatan Darat di 31 titik, serta panen kedelai bersama TNI Angkatan Laut di empat lokasi. Seluruh kegiatan itu menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat ketersediaan pangan di tengah berbagai tantangan global.
Di Lanud Adisutjipto sendiri, semangat itu diwujudkan melalui pemanfaatan lahan tidur seluas sekitar 30 hingga 35 hektare. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini ditanami varietas tebu Bululawang, salah satu jenis tebu unggulan dengan produktivitas tinggi. Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI Toto Ginanto, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bentuk nyata komitmen TNI Angkatan Udara dalam mendukung kebijakan pemerintah. Menurutnya, keberhasilan menjaga ketahanan pangan tidak mungkin dicapai oleh satu institusi saja. Karena itu, Lanud Adisutjipto menggandeng pemerintah daerah, BUMN, kepolisian, unsur TNI lainnya, hingga masyarakat untuk membangun sinergi yang berkelanjutan. Yang menarik, pengelolaan lahan tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Para petani lokal dilibatkan secara langsung melalui sistem kemitraan dan bagi hasil sehingga manfaat program dapat dirasakan bersama.
Konsep tersebut menjadi contoh bagaimana aset negara mampu memberikan nilai tambah, bukan hanya bagi ketahanan pangan nasional, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Pendampingan ketahanan pangan yang dilakukan TNI Angkatan Udara bahkan disebut telah berkontribusi terhadap sekitar 43 persen pemenuhan kebutuhan gula nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian yang dikelola secara kolaboratif mampu menjadi kekuatan strategis bagi Indonesia. Ke depan, Lanud Adisutjipto juga membuka peluang memperluas pemanfaatan lahan untuk berbagai komoditas pertanian lainnya. Langkah ini diharapkan semakin memperkokoh kedaulatan pangan sekaligus menciptakan pusat-pusat produksi baru yang produktif.
Bagi Wakil Bupati Sleman, keberhasilan panen raya ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih menjadi modal terbesar bangsa. “Pemenuhan kedaulatan pangan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi, kolaborasi, dan semangat kebersamaan dari seluruh elemen,“ ungkap Danang Maharsa.
Di tengah isu perubahan iklim, ancaman krisis pangan, hingga meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat, hamparan tebu di Lanud Adisutjipto menghadirkan optimisme. Lahan yang dahulu terbengkalai kini menjadi simbol harapan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan pangan hasil kerja bersama. Panen raya ini pun menjadi pesan kuat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal hasil panen, melainkan tentang membangun masa depan bangsa melalui kolaborasi, inovasi, dan kepedulian terhadap para petani yang menjadi garda terdepan penyedia pangan negeri. (Red)

