BELUM GENAP SEBULAN, JALAN PROYEK PSU DI NGESTIREJO TANJUNGSARI GUNUNGKIDUL RETAK DI BANYAK TITIK

Warga Mengeluh, Redaksi Gunungkidul TV Turun ke Lapangan; Kerusakan Sepanjang Sekitar 280 Meter Disebut Sudah Dilaporkan Sejak Agustus

Gunungkidul TV Papan proyek boleh saja berdiri kokoh. Angka nilai kontrak boleh terpampang jelas. Namun, kualitas sebuah pembangunan pada akhirnya akan diuji oleh satu hal bagaimana kondisi hasil pekerjaan ketika mulai digunakan masyarakat. Keluhan warga sekitar Padukuhan Kerjo, Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, membuat Redaksi Gunungkidul TV mengkroscek langsung ke lapangan pada Senin (07/09/2026).

Apa yang ditemukan di lapangan kemudian memunculkan pertanyaan. Di sepanjang ruas pekerjaan jalan yang berada di wilayah Padukuhan Kudu, Kerjo dan Mrico, terlihat retakan dan bagian permukaan yang pecah di sejumlah titik. Panjang keseluruhan ruas yang menjadi perhatian warga tersebut kurang lebih 280 meter. Kondisi ini menjadi sorotan karena pekerjaan tersebut tercantum sebagai bagian dari proyek Konstruksi PSU pada Kawasan Permukiman milik Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM).

Pada papan informasi proyek, pekerjaan tersebut tercantum memiliki nilai kontrak sekitar Rp2,78 miliar untuk 16 lokasi, dengan masa pelaksanaan 75 hari kalender, mulai 25 Mei hingga 7 Agustus 2026.

Pernah Diperbaiki, Tapi Hasilnya Tetap Masih Pecah- Pecah

Persoalan ini ternyata bukan baru diketahui setelah Redaksi Gunungkidul TV datang ke lokasi. Saat dikonfirmasi, Ulu-ulu Kalurahan Ngestirejo, Sukrismiyati, menyampaikan bahwa kondisi jalan yang mengalami pecah-pecah tersebut sudah pernah dilakukan pembenahan tapi hasilnya masih ada yang retak-retak dan terlihat jelas di bagian atas. Kondisi tersebut membuat warga bertanya-tanya. Sebab, pekerjaan yang masa pelaksanaannya tercantum berakhir pada 7 Agustus 2026, kini justru menjadi perhatian karena sejumlah bagian hasil pekerjaan dilaporkan mengalami keretakan.

Apakah retakan tersebut hanya persoalan permukaan? Apakah akan dilakukan perbaikan oleh pelaksana? Dan bagaimana tindak lanjut pengawasan terhadap pekerjaan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang layak mendapatkan jawaban secara terbuka.

Bukan Sekadar Retakan di Permukaan

Bagi warga, persoalannya bukan semata-mata melihat ada atau tidaknya retakan. Jalan dibangun menggunakan anggaran publik. Karena itu, masyarakat tentu berharap hasil pekerjaan memiliki kualitas yang baik dan dapat digunakan dalam jangka panjang. Terlebih, dari papan proyek diketahui terdapat nilai pekerjaan khusus untuk lokasi Dusun Kudu, Kerjo dan Mrico sebesar Rp181.726.182,91, dengan spesifikasi beton fc’ 20 MPa.

Angka tersebut tentu memiliki konsekuensi terhadap standar pekerjaan yang harus dipenuhi. Masyarakat tidak perlu memahami seluruh istilah teknis konstruksi untuk ikut mengawasi. Cukup melihat kondisi nyata di lapangan dan menyampaikan ketika terdapat sesuatu yang menurut mereka perlu mendapatkan perhatian. Dan itulah yang dilakukan warga sekitar Padukuhan Kerjo.

Warga Mengadu, Publik Menunggu Jawaban

Keluhan masyarakat akhirnya menjadi pintu masuk untuk melihat lebih dekat kondisi pembangunan tersebut. Redaksi Gunungkidul TV tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab keretakan. Apakah karena faktor teknis, kondisi tanah, proses pengerjaan, material, cuaca, atau faktor lainnya, tentu membutuhkan pemeriksaan teknis dari pihak yang berwenang. Namun satu hal yang terlihat di lapangan adalah adanya retakan dan bagian permukaan yang pecah di sejumlah titik pada ruas pekerjaan yang menjadi perhatian warga.

Dan karena persoalan tersebut, menurut keterangan Ulu-ulu Ngestirejo, telah disampaikan kepada rekanan sejak Agustus, publik tentu layak mengetahui bagaimana langkah tindak lanjutnya.

Rp2,78 Miliar dan Kepercayaan Publik

Pada akhirnya, proyek ini bukan hanya berbicara mengenai beton, jalan, angka kontrak ataupun batas waktu pengerjaan. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di belakangnya: kepercayaan masyarakat terhadap pembangunan yang dibiayai uang publik. Masyarakat tentu berharap setiap proyek pemerintah tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, sesuai spesifikasi, aman dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Jika memang terdapat bagian pekerjaan yang perlu diperbaiki, publik tentu berharap perbaikan dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan. Sebab, jalan sepanjang kurang lebih 280 meter itu bukan sekadar hamparan beton.

Di atasnya kelak roda kendaraan warga berjalan, aktivitas masyarakat berlangsung, dan manfaat pembangunan seharusnya dirasakan dalam waktu yang panjang.

Papan proyek telah memberikan angka.

Kini masyarakat menunggu satu hal yang lebih penting: Bagaimana kualitas hasil akhirnya?” Gunungkidul TV akan terus mengawal informasi ini secara berimbang, dengan memberikan ruang klarifikasi kepada pihak pelaksana, konsultan pengawas maupun instansi terkait mengenai kondisi pekerjaan tersebut. (Red)

__Terbit pada
September 7, 2026
__Kategori
News