GUNUNGKIDUL BERBANGGA !! PUTRI ELIS EBRIANTI, GADIS TEPUS YANG MENJADI MISS HIJAB ADVOKASI DIY 2026

Penghargaan yang diraih Putri Elis Ebrianti bukan sekadar gelar dalam ajang kecantikan berhijab. Di balik selempang Miss Hijab Advokasi DIY 2026, tersimpan kisah perjuangan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi ilmu yang tumbuh dari sebuah sudut pelosok Gunungkidul.

Gunungkidul TV – Di tengah hamparan perbukitan kawasan selatan Gunungkidul, tepatnya di Padukuhan Banjar, Kalurahan Giripanggung, Kapanewon Tepus, lahirlah seorang gadis muda yang kini membawa harum nama daerahnya di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia adalah Putri Elis Ebrianti, perempuan kelahiran 23 Februari 2006 yang berhasil meraih gelar Miss Hijab Advokasi DIY 2026. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gunungkidul. Tidak hanya karena gelar yang diraih, tetapi juga karena pesan dan perjuangan yang dibawa Elis selama mengikuti ajang tersebut.

Di balik senyum dan kepercayaan dirinya, Elis tumbuh dari keluarga sederhana. Ia merupakan putri dari pasangan petani yang tidak pernah merasakan pendidikan formal di bangku sekolah. Namun keterbatasan itu justru menjadi sumber kekuatan yang menempa tekadnya untuk terus belajar dan memberikan manfaat bagi sesama.

Advokasi untuk Pendidikan yang Lebih Inklusif

Dalam kompetisi Miss Hijab Advokasi DIY 2026, Elis memilih fokus pada isu pendidikan dan inklusivitas sosial, khususnya akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas. Melalui program advokasinya, ia menggagas penyebaran Al-Qur’an reguler sekaligus Al-Qur’an Isyarat bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama kalangan tuna rungu dan pelajar disabilitas. Baginya, setiap orang memiliki hak yang sama untuk memahami nilai-nilai agama dan memperoleh akses terhadap literasi Al-Qur’an.

Program tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap kelompok yang kerap menghadapi keterbatasan akses dalam memperoleh pendidikan keagamaan. Elis ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal hanya karena perbedaan kondisi fisik atau keterbatasan sarana belajar. “Setiap perempuan memiliki hak dan kewajiban untuk belajar, serta bertanggung jawab penuh untuk menyebarkan ilmu yang telah didapatkannya,” ujar Elis.

Pernyataan itu bukan sekadar slogan. Bagi Elis, ilmu harus menjadi cahaya yang menerangi lingkungan sekitar. Karena itulah ia terus berupaya menghadirkan manfaat nyata melalui berbagai kegiatan sosial dan pendidikan.

Perempuan Muda yang Membawa Perubahan

Langkah yang ditempuh Elis menunjukkan bahwa perempuan muda mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Melalui pendidikan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi, ia membuktikan bahwa advokasi bukan hanya tentang berbicara di atas panggung, melainkan tentang menghadirkan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kehadiran Al-Qur’an Isyarat yang diperjuangkannya menjadi simbol bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan nyata yang harus diperjuangkan bersama. Dari inisiatif sederhana tersebut, Elis berharap semakin banyak penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan belajar dan memahami ajaran agama secara lebih mudah.

Inspirasi dari Anak Petani Pelosok Gunungkidul

Kisah Elis menjadi pengingat bahwa asal-usul seseorang tidak pernah menentukan batas pencapaiannya. Dari keluarga petani sederhana di pelosok Tepus, ia mampu melangkah hingga tingkat provinsi dan membawa nama Gunungkidul bersinar di panggung prestasi. Perjalanannya membuktikan bahwa kerja keras, keimanan yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan menuju impian yang lebih besar. Lebih dari itu, keberhasilannya menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa prestasi terbaik bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Dari Banjar Giripanggung, sebuah pesan penting kini menggema ke seluruh penjuru Gunungkidul: bahwa mimpi besar bisa lahir dari desa kecil, dan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah prestasi yang nilainya jauh melampaui sebuah gelar. Putri Elis Ebrianti telah membuktikannya. Dari pelosok Tepus, ia tidak hanya meraih mahkota, tetapi juga membawa harapan, inspirasi, dan semangat inklusivitas bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. (Red)

__Terbit pada
Agustus 10, 2026
__Kategori
News