GUNUNGKIDUL BERDUKA !! ULAMA SEKALIGUS UMARO H. ISKANTO AR BERPULANG, JEJAK DAKWAH, PENDIDIKAN DAN PENGABDIAN YANG TAK LEKANG
Dari Panggung Teater Muslim hingga Muhammadiyah dan pelayanan publik, H. Iskanto AR meninggalkan warisan pengabdian yang panjang bagi masyarakat Gunungkidul.
Gunungkidul TV — Ada orang yang dikenang karena jabatan. Ada pula yang dikenang karena kata-katanya. Namun, ada sosok yang namanya tetap hidup karena jejak pengabdian yang ditinggalkannya. Gunungkidul kini kehilangan salah satu sosok tersebut.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. H. Iskanto, AR., S.Ag., berpulang ke rahmatullah pada Senin, 31 Agustus 2026, pukul 11.00 WIB, di RSU PKU Muhammadiyah Wonosari. Kepergian almarhum bukan sekadar meninggalkan duka bagi keluarga. Kabar tersebut juga menjadi kehilangan bagi keluarga besar Muhammadiyah, kalangan birokrasi, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat Gunungkidul yang selama ini mengenal sosoknya sebagai pribadi yang teduh, matang, rendah hati, sekaligus teguh dalam pengabdian.
Selasa (01/09/2026) suasana haru menyelimuti rumah duka di Bulurejo, Siraman. Pelayat berdatangan. Tokoh agama, pimpinan organisasi kemasyarakatan, pejabat pemerintahan, keluarga, sahabat, dan masyarakat umum hadir dalam satu suasana: memberikan penghormatan terakhir kepada seseorang yang selama hidupnya telah memberikan banyak hal bagi daerah ini. Jenazah kemudian dilepas menuju peristirahatan terakhir di Makam Kepek 1, Kepek, Wonosari.
Bukan hanya sebuah prosesi pemakaman, momen tersebut seakan menjadi titik temu berbagai generasi yang pernah bersinggungan dengan perjalanan panjang pengabdian H. Iskanto.
Sosok yang Dikenang Karena Keteladanan
Mantan Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, turut menyampaikan kenangan mendalam terhadap almarhum. Di mata Hj. Badingah sosok H. Iskanto merupakan sosok yang matang dalam bersikap, rendah hati dalam bergaul, serta bijaksana ketika memimpin dan mengayomi masyarakat. Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. H. Muhammad Ichwan Ahada, menegaskan bahwa kepergian H. Iskanto menjadi duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah dan masyarakat luas. Sebab, perjalanan hidup almarhum tidak pernah jauh dari tiga hal: dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Dari Aktivis Muda hingga Penggerak Dakwah
Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh masyarakat, perjalanan H. Iskanto telah dimulai sejak usia muda. Ia aktif dalam Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Pemuda Muhammadiyah. Dunia seni dan kebudayaan pun pernah menjadi ruang pengabdiannya melalui Teater Muslim. Dari sana terlihat satu karakter yang terus melekat sepanjang hidupnya: bahwa dakwah dan pengabdian tidak selalu harus berlangsung di mimbar. Ia bisa hadir melalui pendidikan. Ia bisa hadir melalui organisasi. Ia bisa hadir melalui kebudayaan. Dan ia juga hadir melalui pelayanan kepada masyarakat.
Puluhan Tahun Mengabdi di Persyarikatan Muhammadiyah
Dedikasinya di Muhammadiyah berlangsung panjang. Lebih dari 25 tahun, H. Iskanto aktif dalam perjalanan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunungkidul.
Ia juga berkiprah dalam sejumlah organisasi dan forum keagamaan, termasuk PDHI, IPHI, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Jejak tersebut menunjukkan bagaimana almarhum tidak hanya bergerak dalam ruang internal organisasi, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat secara lebih luas. Di tengah keberagaman masyarakat, pengabdian tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kerukunan sekaligus membangun karakter kehidupan sosial yang lebih baik.
Dari Guru Agama hingga Birokrat
Pengabdian H. Iskanto juga berlangsung melalui jalur pendidikan dan birokrasi. Ia pernah mengabdikan diri sebagai Guru Agama Islam sebelum kemudian menapaki perjalanan karier birokrasi hingga dipercaya menjadi Kasubag TU Kantor Departemen Agama, yang kini dikenal sebagai Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul.
Dunia birokrasi memberinya ruang untuk mengabdi dari sisi yang berbeda. Jika dakwah memberikan jalan untuk membangun nilai, pendidikan menanamkan pengetahuan, maka birokrasi menjadi ruang untuk menerjemahkan pengabdian tersebut dalam pelayanan publik.
Ada Nama Iskanto di Balik Perjalanan PKU Muhammadiyah Wonosari
Salah satu warisan pengabdian yang paling nyata juga berada di bidang kesehatan. H. Iskanto menjadi salah satu perintis dan pendiri RSU PKU Muhammadiyah Wonosari. Kini, rumah sakit tersebut menjadi salah satu fasilitas pelayanan kesehatan penting yang melayani masyarakat Gunungkidul.
Boleh jadi banyak orang datang ke rumah sakit itu tanpa pernah mengetahui siapa saja yang dahulu ikut merintisnya. Namun, di balik tumbuhnya sebuah lembaga besar, selalu ada orang-orang yang bekerja pada masa ketika hasilnya belum terlihat. H. Iskanto adalah salah satunya. Dan ketika hari ini layanan kesehatan tersebut telah menjangkau puluhan ribu warga, jejak para perintisnya menjadi bagian dari sejarah yang patut dikenang.
Doa Mengiringi Langkah Terakhir
Setelah rangkaian prosesi pemakaman, doa bersama dihaturkan untuk almarhum. Ketua MUI Gunungkidul, KH. Dr. Asrofi, memimpin doa, memohonkan ampunan kepada Allah SWT serta keberkahan atas seluruh amal dan kebaikan yang telah ditinggalkan H. Iskanto. Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Usia akan sampai pada batasnya. Tetapi kebaikan yang ditanamkan kepada manusia dan masyarakat dapat terus tumbuh jauh setelah seseorang meninggalkan dunia.
Itulah yang kini tersisa dari perjalanan panjang H. Iskanto. Bukan sekadar nama dalam sebuah daftar jabatan. Bukan sekadar tokoh yang pernah hadir dalam berbagai organisasi. Melainkan jejak pengabdian yang hidup melalui orang-orang yang pernah dididiknya, lembaga yang pernah dirintisnya, dakwah yang pernah diperjuangkannya, serta masyarakat yang pernah dilayaninya.
Gunungkidul berduka. Namun dari kepergian itu, masyarakat kembali diingatkan bahwa hidup yang paling berarti bukanlah tentang seberapa lama seseorang berada di dunia, melainkan seberapa banyak kebaikan yang mampu ditinggalkan untuk mereka yang datang setelahnya. Selamat jalan, H. Iskanto, AR., S.Ag.
Semoga seluruh amal ibadah, perjuangan, ilmu, dan pengabdian almarhum diterima Allah SWT sebagai amal jariyah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.







