USIA SENJA BUKAN ALASAN BERHENTI BERKARYA !! HW WREDA SEMANU BIKIN HEBOH DENGAN DRUMBAND, DARI 5 ORANG KINI TUMBUH JADI 40 ANGGOTA
Berawal dari latihan sederhana pada awal Mei, semangat para anggota Pandu Hizbul Wathan Wreda PRM dan PRA Semanu 3 menjelma menjadi grup drumband yang tampil kompak di berbagai ajang, membuktikan bahwa usia hanyalah angka dan semangat berkarya tak pernah mengenal batas.
Gunungkidul TV — Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk berkarya tak boleh ikut menua. Kalimat itu seolah menjadi gambaran paling tepat bagi para anggota Pandu Hizbul Wathan (HW) Wreda PRM dan PRA III Semanu. Di usia senja, mereka justru melahirkan sesuatu yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya: sebuah grup drumband yang kini mampu tampil kompak dan memukau di hadapan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Bapak Yoyok Surahyo dan Ibu Hj. Aminem, semangat para anggota HW Wreda ini tumbuh menjadi energi positif. Dari hanya segelintir orang yang berlatih, kini mereka memiliki sekitar 40 anggota, dengan 30 orang menjadi pasukan inti drumband.
Dari Lima Orang, Tumbuh Menjadi Pasukan yang Solid
Kisah ini bermula pada awal Mei. Saat itu, hanya lima orang anggota yang berinisiatif membentuk kelompok drumband. Latihan sederhana digelar di kediaman Bapak Pracoyo, Semanu, yang sekaligus menjadi pelatih pada bulan pertama. Namun perjalanan tidak selalu mulus. Karena alasan kesehatan, Bapak Pracoyo kemudian harus mengundurkan diri sebagai pelatih. Semangat para anggota ternyata tidak ikut surut. Latihan kemudian berpindah ke Kompleks Masjid Baiturrahman. Seorang pelatih baru, Bapak Iwan dari Playen, didatangkan untuk menggembleng para anggota.
Selama kurang lebih enam pekan, latihan dilakukan secara intensif. Langkah demi langkah, pukulan demi pukulan, hingga akhirnya terbentuk sebuah pasukan yang semakin kompak.bKini, tongkat kepelatihan berada di tangan Bapak Yoyok Surahyo, yang juga dipercaya sebagai ketua kelompok.
30 Personel, Satu Semangat
Pasukan inti drumband HW Wreda Semanu 3 terdiri dari berbagai formasi. Di barisan depan ada Mayoret Ibu Hj. Yanuasih yang memimpin jalannya pertunjukan. Sementara itu, formasi lainnya diperkuat oleh pemain belira sebanyak empat orang, snare drum delapan orang, tenor enam orang, bass drum dua orang, simbal dua orang, serta pasukan bendera empat orang. Mereka juga didukung tiga orang pendamping.
Bukan sekadar memainkan alat musik, setiap personel dituntut mampu menjaga kekompakan, ritme, gerakan, dan formasi.bDan di sinilah cerita menariknya. Mereka mungkin tidak lagi berada di usia muda. Namun ketika musik mulai dimainkan dan barisan mulai bergerak, semangat mereka seakan kembali muda.
Penampilan Perdana yang Mengundang Apresiasi
Kerja keras selama latihan akhirnya mendapatkan panggung pertama. Penampilan perdana digelar di halaman Masjid Baiturrahman, khusus untuk menyambut kunjungan Pandu HW Wreda Nglipar dalam agenda Rapat Koordinasi atau Rakor pertama menyongsong Silaturahmi Wilayah atau Silatwil. Rasa gugup tentu ada. Namun begitu alat musik mulai ditabuh, barisan bergerak, dan mayoret memimpin formasi, suasana berubah menjadi penuh semangat.
Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa latihan selama berminggu-minggu tidak sia-sia. Apresiasi pun berdatangan. Penampilan berikutnya digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kali ini, mereka kembali berhasil menarik perhatian masyarakat sekitar. Bagi para anggota HW Wreda Semanu 3, setiap penampilan bukan sekadar pertunjukan.
Ada pesan yang ingin mereka sampaikan: bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bergerak, belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi lingkungan.
Tua-Tua Keladi, Semangatnya Tak Pernah Padam
Apa yang dilakukan HW Wreda Semanu 3 menjadi potret sederhana tentang bagaimana sebuah aktivitas bersama mampu menjadi ruang silaturahmi sekaligus menjaga semangat hidup. Dari lima orang, berkembang menjadi puluhan anggota. Dari latihan sederhana, menjelma menjadi grup drumband yang berani tampil di depan publik. Dan dari usia yang sering dianggap sebagai masa untuk beristirahat, mereka justru menunjukkan bahwa masih banyak hal yang bisa dilakukan.
Mereka seperti ungkapan tua-tua keladi semakin berusia, justru semakin menjadi. Di balik setiap pukulan drum dan langkah barisan, ada semangat kebersamaan. Ada kegembiraan. Ada silaturahmi. Dan ada pesan inspiratif untuk generasi yang lebih muda. Bahwa hidup bukan tentang seberapa muda usia kita, tetapi tentang seberapa besar semangat kita untuk terus bergerak dan memberi arti. HW Wreda Semanu 3 telah membuktikannya. Usia boleh senja. Semangat tetap menyala.







