DARI WARTAWAN JADI CALON LURAH !! SUHARJONO SIAP SULAP NGAWU GUNUNGKIDUL MENJADI DESA DIGITAL
Gunungkidul TV – Pemilihan lurah serentak di Kabupaten Gunungkidul tahun ini dipastikan menghadirkan banyak cerita menarik. Sebanyak 31 kalurahan akan menggelar pesta demokrasi pada Sabtu, (26/09/2026), dengan berbagai latar belakang calon yang siap menawarkan gagasan terbaik bagi desanya.
Tak hanya petahana, pamong kalurahan, maupun aparatur sipil negara, kontestasi kali ini juga diramaikan oleh insan pers. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Suharjono, wartawan senior Gunungkidul yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pokja PWI Gunungkidul.
Sosok yang telah lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Lurah Kalurahan Ngawu, Kapanewon Playen. “Alhamdulillah kemarin saya sudah memasukkan berkas pendaftaran dan diterima oleh panitia pemilihan lurah Kalurahan Ngawu,“ ujar Suharjono.
Dari Mengabarkan Menjadi Mengabdi
Puluhan tahun mengawal berbagai dinamika pembangunan daerah membuat Harjono sapaan akrabnya merasa terpanggil untuk turun langsung membangun desa. Baginya, menjadi lurah bukan sekadar jabatan, tetapi kesempatan untuk menghadirkan solusi di tengah tantangan baru yang dihadapi pemerintah kalurahan.
Menurutnya, pemangkasan dana desa membuat setiap kalurahan dituntut lebih kreatif, inovatif, dan mampu mencari sumber-sumber kekuatan baru di luar ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. “Desa tidak bisa hanya menunggu. Kita harus mampu menggali potensi sendiri, membangun jejaring, dan menghadirkan inovasi agar pembangunan tetap berjalan,“ ungkapnya.
Desa Digital, Bukan Sekadar Mimpi
Salah satu gagasan yang diusung Suharjono adalah menjadikan Ngawu sebagai desa digital. Konsep tersebut tidak hanya berbicara soal internet atau teknologi, tetapi juga tentang bagaimana digitalisasi mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Ia ingin sektor pertanian mulai bertransformasi melalui pemanfaatan teknologi, sementara generasi muda didorong menjadi digital entrepreneur, kreator konten, hingga pelaku usaha berbasis teknologi yang mampu mempromosikan potensi desa ke tingkat yang lebih luas.
Menurutnya, masa depan desa berada di tangan anak muda yang kreatif dan masyarakat yang mau terus belajar mengikuti perkembangan zaman.
Gotong Royong Tetap Menjadi Pondasi
Meski membawa gagasan modern, Harjono menegaskan bahwa nilai-nilai tradisional seperti gotong royong tetap menjadi fondasi utama pembangunan. Kemajuan desa, menurutnya, tidak bisa dibangun hanya oleh pemerintah kalurahan, tetapi harus melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kolaborasi antara petani, pemuda, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, hingga berbagai mitra pembangunan diyakini menjadi kunci agar Ngawu mampu berkembang secara berkelanjutan.
Sesarengan Bangun Deso
Dengan mengusung tagline Sesarengan Bangun Deso Bareng Mas Harjono, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun Kalurahan Ngawu melalui semangat kebersamaan, inovasi, dan pemberdayaan warga. Bagi Harjono, desa bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang lahirnya berbagai gagasan besar yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan visi yang jelas dan semangat kolaborasi.
Pemilihan lurah memang baru akan berlangsung pada 26 September 2026, namun hadirnya sosok wartawan senior yang memilih beralih dari ruang redaksi menuju ruang pengabdian menjadi warna tersendiri dalam demokrasi tingkat kalurahan di Gunungkidul. Kini, masyarakat Ngawu akan menentukan pilihan: siapa yang dinilai paling siap membawa desa melangkah menuju masa depan yang lebih maju, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan zaman. (Red)

