PILUR KANIGORO GUNUNGKIDUL 2026 MEMANAS !! TIGA CALON BEREBUT KURSI LURAH, SUROSO UNGKAP KOMITMEN TAK AMBIL GAJI

Tiga kandidat siap bertarung pada 26 Oktober 2026. Saat kompetisi mulai menghangat, petahana Suroso justru mengajak warga menjaga persaudaraan “Kompetisi boleh panas, tapi hati harus tetap dingin.”

Gunungkidul TV – Pesta demokrasi di Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, mulai memasuki babak yang menentukan. Tiga nama kini resmi berada di garis start. Mereka bukan sekadar membawa nomor urut, tetapi juga membawa harapan, gagasan, serta kepercayaan warga untuk menentukan arah masa depan Kalurahan Kanigoro.

Panitia Pemilihan Lurah (Pilur) Kanigoro telah menetapkan tiga calon Lurah Kanigoro Tahun 2026 melalui Keputusan Panitia Pemilihan Lurah Kanigoro Nomor 10/KPTS/2026. Mereka adalah Ruslan, calon nomor urut 1, warga Gebang RT 001 RW 002. Kemudian Siswo Kasmiyanto, calon nomor urut 2, warga Kranon RT 001 RW 006.

Dan Suroso, calon nomor urut 3, warga Kranon RT 002 RW 006, sekaligus Lurah petahana (incumbent). Tiga calon. Satu kursi. Pertarungan menuju kursi Lurah Kanigoro pun dipastikan bakal menarik perhatian warga.

Tagline “Suara Anda Tentukan Masa Depan, Kalurahan Kanigoro Lebih Maju” mulai menggema

Dari Gebang hingga Kranon, suhu politik desa perlahan menghangat seiring warga mulai menimbang siapa yang dianggap paling layak memimpin Kanigoro untuk periode mendatang.

Namun di tengah kompetisi yang mulai menghangat itu, ada satu pernyataan dari calon nomor urut 3, Suroso, yang kembali menjadi sorotan. Bukan soal program besar. Bukan pula soal janji pembangunan yang muluk-muluk. Melainkan soal honor seorang lurah. “Saya Tidak Akan Mengambil Gaji”

Suroso menegaskan, jika kembali mendapat amanah dari masyarakat Kanigoro, dirinya akan tetap memegang prinsip yang pernah ia jalankan pada periode pertama kepemimpinannya. Ia mengaku tidak akan mengambil honor atau gaji sebagai Lurah selama menjabat. “Jika nanti saya kembali diberikan amanah oleh warga Kanigoro, saya tetap pada prinsip saya seperti periode sebelumnya, tidak akan mengambil honor atau gaji sebagai Lurah selama menjabat. Biarlah honor itu untuk kepentingan masyarakat dan pembangunan kalurahan,” tegas Suroso saat ditemui redaksi di rumahnya, Selasa (08/09/2026).

Bagi Suroso, jabatan lurah bukan semata-mata tentang penghasilan. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: mengabdi kepada masyarakat dan tanah kelahiran. Ia mengatakan, selama periode sebelumnya, honor yang seharusnya menjadi haknya tersebut ia alokasikan kembali untuk berbagai kepentingan sosial, keagamaan, serta membantu warga yang membutuhkan. “Alhamdulillah di periode kemarin saya bisa menjalankan itu. Niat saya mengabdi, bukan mencari gaji. Saya ingin membuktikan bahwa jabatan itu amanah,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tentu menjadi bagian dari dinamika Pilur Kanigoro 2026. Sebab, dalam sebuah kontestasi politik tingkat kalurahan, setiap calon tentu memiliki cara masing-masing untuk meyakinkan masyarakat. Dan Suroso memilih kembali menawarkan satu hal yang menurutnya sudah ia praktikkan: pengabdian.

Ketika Kompetisi Panas, Pesan Damai Justru Mengemuka

Menariknya, di tengah persaingan tiga calon yang diprediksi ketat, Suroso justru tidak mengajak warga untuk saling berhadap-hadapan. Sebaliknya, ia menitipkan pesan agar pesta demokrasi tidak berubah menjadi sumber perpecahan.

Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang tidak boleh terjadi adalah ketika perbedaan pilihan membuat hubungan antartetangga, saudara, bahkan sesama warga Kanigoro menjadi renggang. “Pilur ini adalah pesta demokrasi. Beda pilihan itu biasa. Saya berpesan untuk seluruh warga Kanigoro, dari Gebang sampai Kranon, mari kita jaga Pilur ini tetap aman, damai, dan guyub rukun,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa siapa pun yang nantinya memenangkan pemilihan tetap akan menjadi Lurah bagi seluruh masyarakat Kanigoro. “Siapapun yang terpilih nanti adalah Lurah kita semua. Jangan sampai karena Pilur, persaudaraan kita retak,” lanjutnya.

Pesan itu menjadi penting, terutama ketika kontestasi politik semakin dekat. Sebab, pemenang Pilur nantinya hanya satu orang. Tetapi masyarakat Kanigoro tetap harus hidup bersama setelah pesta demokrasi selesai.

Rumah tetap bersebelahan. Jalan kampung tetap dilalui bersama. Gotong royong tetap membutuhkan kebersamaan. Dan pembangunan kalurahan tetap membutuhkan seluruh warga, bukan hanya mereka yang memilih calon tertentu. Karena itu, Suroso menutup pesannya dengan kalimat yang sederhana, tetapi sarat makna “Kompetisi boleh panas, tapi hati harus tetap dingin. Jaga persatuan demi Kanigoro yang lebih maju.”

26 Oktober 2026, Hari Penentuan

Setelah tiga calon resmi ditetapkan, perhatian warga kini beralih pada tahapan berikutnya. Panitia Pilur Kanigoro menjadwalkan kampanye dan pemungutan suara pada 26 Oktober 2026. Hari itu nantinya menjadi momentum bagi warga Kanigoro untuk menentukan siapa yang dipercaya memimpin kalurahan pada periode mendatang.

  • Ruslan membawa nomor urut 1.
  • Siswo Kasmiyanto berada di nomor urut 2.
  • Sementara Suroso, sang petahana, berada di nomor urut 3.

Masing-masing tentu memiliki pendukung dan harapan. Tetapi satu hal yang harus menjadi pemenang sejati dalam Pilur Kanigoro adalah demokrasi dan persaudaraan warga. Sebab setelah surat suara dicoblos dan hasil penghitungan diumumkan, kehidupan masyarakat harus kembali berjalan.

Beda pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk berbeda dalam bergotong royong. Berbeda pilihan tidak boleh menghapus persaudaraan. Dan siapa pun yang akhirnya mendapatkan mandat warga, tugas terbesarnya justru baru dimulai: membawa Kanigoro melangkah lebih maju. Tiga calon telah siap. Satu kursi telah menanti.

Kini, keputusan ada di tangan warga Kanigoro. Suara Anda menentukan masa depan. Dan pada 26 Oktober 2026 nanti, Kanigoro akan mencatat satu nama sebagai pemimpin baru untuk periode berikutnya. (Red)

__Terbit pada
September 10, 2026
__Kategori
News