JALAN 3,5 MILIAR DI SLEMAN JADI SOROTAN, ASPAL DAN BAREM TERLIHAT TIDAK RAPI, PUBLIK MENANTI HASIL AKHIR PROYEK JALAN LOSARI-GAYAMHARJO

Proyek ruas Jalan Lembahbang-Gayamharjo di Kabupaten Sleman dikerjakan selama 120 hari kalender dengan target selesai 26 Oktober 2026. Pantauan lapangan pada 18 Agustus menemukan bagian pekerjaan yang tampak belum rapi dan perlu penyempurnaan.

Gunungkidul TV — Dari kejauhan, papan proyek itu tampak seperti penanda biasa. Namun ketika kamera mendekat, angka Rp.3,538 miliar yang tercantum di dalamnya membuat publik tentu layak bertanya: seperti apa kualitas jalan yang sedang dibangun dengan anggaran sebesar itu? Papan informasi proyek milik Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) tersebut menyebut pekerjaan Peningkatan Jalan Paket 7 Losari-Gayamharjo, ruas Jalan Lembahbang-Gayamharjo.

Kontrak pekerjaan tercatat senilai Rp3.538.000.000 sudah termasuk PPN 11 persen, dengan tanggal kontrak 29 Juni 2026. Masa pelaksanaan ditetapkan selama 120 hari kalender, mulai 29 Juni hingga 26 Oktober 2026. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Bima Sakti, dengan konsultan pengawas PT Wastu Anopama. Namun, angka-angka di atas kertas kini bertemu dengan kondisi nyata di lapangan.

Kamera Media Gunungkidul TV Menemukan Sejumlah Catatan

Saat jurnalis Gunungkidul TV mendatangi lokasi proyekan pada Selasa (18/08/2026), proses pekerjaan masih berlangsung. Dari pantauan visual di lapangan, sejumlah bagian pekerjaan terlihat belum rapi dan masih membutuhkan pembenahan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi permukaan aspal. Pada sejumlah bagian, hasil pengerjaan terlihat belum menunjukkan kerapian sebagaimana yang diharapkan dari sebuah proyek peningkatan jalan.

Bagian barem atau bahu jalan juga terlihat belum tertata secara maksimal. Temuan visual tersebut tentu belum serta-merta menjadi kesimpulan mengenai kualitas teknis keseluruhan proyek. Namun, kondisi di lapangan cukup menjadi alasan bagi publik untuk mempertanyakan apakah pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, standar mutu, serta target kualitas yang tercantum dalam kontrak. Apalagi, proyek tersebut masih memiliki waktu pelaksanaan hingga 26 Oktober 2026. Artinya, masih terdapat ruang bagi pelaksana pekerjaan untuk melakukan perapian, penyempurnaan, maupun perbaikan terhadap bagian-bagian yang dinilai belum memenuhi standar sebelum pekerjaan dinyatakan selesai dan diterima.

Rp3,5 Miliar Bukan Angka Kecil

Pembangunan jalan bukan sekadar soal membentangkan aspal dari satu titik ke titik lainnya. Di balik jalan tersebut ada mobilitas masyarakat, kendaraan pengangkut hasil pertanian, aktivitas ekonomi, akses pendidikan, pelayanan publik hingga konektivitas antarwilayah. Karena itu, ketika sebuah proyek menggunakan anggaran mencapai Rp3,538 miliar, ekspektasi masyarakat tentu bukan hanya jalan yang selesai dibangun.

Masyarakat menginginkan jalan yang rapi, kuat, aman, nyaman, dan memiliki umur layanan yang baik. Terlebih pada papan proyek juga tertulis pesan “Kegiatan ini terselenggara berkat partisipasi Anda dalam membayar pajak.” Kalimat sederhana tersebut justru membawa pesan besar. Ada uang publik di dalam proyek ini. Ada kontribusi masyarakat. Dan ada tanggung jawab untuk memastikan setiap rupiah menghasilkan infrastruktur yang berkualitas.

Jangan Hanya Kejar Selesai

Persoalan pembangunan jalan sering kali bukan hanya apakah proyek selesai tepat waktu. Pertanyaan yang lebih penting adalah Apakah kualitasnya sesuai? Apakah permukaan aspal sudah dikerjakan dengan standar yang semestinya? Apakah sambungan dan tepian jalan rapi? Apakah barem atau bahu jalan telah dikerjakan dengan baik? Apakah pekerjaan memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam kontrak?

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana pengawasan terhadap proses pengerjaannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu membutuhkan jawaban teknis dari pihak yang berkompeten. Karena itu, kondisi yang ditemukan Gunungkidul TV di lapangan sebaiknya menjadi bahan evaluasi, bukan sekadar polemik. Jika memang terdapat bagian pekerjaan yang belum sesuai, masih ada kesempatan untuk diperbaiki sebelum proyek dinyatakan selesai.

Publik Berhak Mengawasi

Keterbukaan informasi dalam pembangunan infrastruktur menjadi bagian penting dari pelayanan publik. Masyarakat tidak perlu menjadi ahli konstruksi untuk ikut mengawasi pembangunan. Cukup dengan melihat, mencatat, mendokumentasikan dan menyampaikan temuan secara proporsional. Sementara untuk memastikan apakah sebuah pekerjaan memenuhi standar teknis, diperlukan pemeriksaan dan penjelasan dari pihak yang memiliki kewenangan serta kompetensi teknis.

Dalam konteks proyek Jalan Losari-Gayamharjo ini, perhatian publik menjadi semakin relevan karena papan proyek secara terbuka mencantumkan nilai kontrak, waktu pelaksanaan, penyedia jasa dan konsultan pengawas. Informasi itu sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawal proses pembangunan.

Masih Ada Waktu untuk Berbenah

Tanggal 18 Agustus 2026 bukanlah akhir dari pekerjaan. Batas kontrak masih sampai 26 Oktober 2026. Dengan demikian, sorotan terhadap kondisi jalan saat ini semestinya menjadi momentum untuk memastikan setiap kekurangan yang terlihat selama proses pengerjaan dapat segera dibenahi. Sebab ukuran keberhasilan proyek bukan sekadar ketika papan proyek berdiri dan pekerjaan dinyatakan selesai.

Ukuran sebenarnya adalah ketika masyarakat menggunakan jalan tersebut setiap hari dan tidak perlu bertanya lagi apakah kualitasnya sudah benar-benar layak.

Anggaran 3,538 Miliar, Jalan Bagus atau Sekadar Jalan Selesai?

Pada akhirnya, publik tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Masyarakat hanya ingin melihat uang pajak kembali dalam bentuk pembangunan yang berkualitas. Jalan yang halus. Bahu jalan yang rapi. Konstruksi yang kuat. Keselamatan pengguna yang terjamin. Dan pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kini bola berada di tangan pelaksana, pengawas dan pihak terkait. Masih ada waktu hingga 26 Oktober 2026 untuk menjawab sorotan tersebut dengan tindakan nyata. Bukan dengan sekadar mengatakan proyek selesai, tetapi dengan menunjukkan bahwa proyek benar-benar dikerjakan dengan kualitas terbaik. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengingat berapa besar angka yang tertulis di papan proyek. Masyarakat akan mengingat satu hal Seberapa bagus jalan yang mereka gunakan setelah proyek ini selesai?

Gunungkidul TV mengabarkan fakta dari lapangan, membuka ruang pengawasan publik, dan mengawal pembangunan agar benar-benar kembali kepada masyarakat.

__Terbit pada
Agustus 18, 2026
__Kategori
News