GUNUNGKIDUL MAU BIKIN GEGER SEPAK BOLA NASIONAL? INI GEBRAKAN SULISTIYO ARIBOWO KETUA ASKAB PSSI YANG BARU
Askab PSSI Askab Gunungkidul membidik kekuatan baru di Sepak bola pantai dan liga pelajar. Sementara liga pelajar dipacu untuk berburu talenta muda. Dari lapangan pelajar hingga hamparan pasir pantai, kepengurusan baru ASKAB PSSI Gunungkidul periode 2026–2030 membawa misi memperluas pembinaan talenta sekaligus mengawinkan olahraga dengan potensi pariwisata daerah.
Gunungkidul TV — Bola itu bundar. Tetapi perjalanan untuk menemukan pemain hebat tidak pernah sesederhana permainan 90 menit di lapangan. Di Gunungkidul, perjalanan tersebut kini memasuki babak baru. Kepengurusan baru Asosiasi Kabupaten (ASKAB) PSSI Gunungkidul periode 2026–2030 resmi dilantik pada Minggu (27/9/2026). Sulistiyo Aribowo dipercaya memimpin organisasi sepak bola Kabupaten Gunungkidul untuk empat tahun ke depan.
Pelantikan bukan sekadar pergantian kepengurusan. Ada pekerjaan rumah besar yang menanti: bagaimana menciptakan ekosistem sepak bola yang mampu melahirkan talenta secara berkelanjutan, memperkuat kompetisi usia pelajar, sekaligus memanfaatkan karakter geografis Gunungkidul yang memiliki garis pantai panjang. Dari sinilah sepak bola pantai dan liga pelajar menjadi dua program yang mendapat perhatian khusus.
Membawa Sepak Bola Pantai dari Gunungkidul ke Panggung Nasional
Sulistiyo melihat Gunungkidul memiliki modal yang tidak dimiliki semua daerah. Hamparan pantai yang membentang luas bukan hanya destinasi wisata. Jika dikelola secara serius, kawasan pesisir juga dapat menjadi ruang tumbuh cabang olahraga sekaligus magnet kegiatan olahraga. Karena itu, sepak bola pantai menjadi salah satu agenda yang ingin dikembangkan dalam kepengurusan ASKAB PSSI Gunungkidul periode 2026–2030. “Saya berharap Gunungkidul dapat menjadi pionir dalam pelaksanaan sepak bola pantai di tingkat nasional serta terus menjaring talenta terbaik melalui kompetisi pelajar,” kata Sulistiyo usai pelantikan.
Gagasan tersebut menarik karena sepak bola tidak lagi hanya dibayangkan berlangsung di atas rumput hijau. Gunungkidul memiliki peluang untuk menghadirkan warna berbeda: pertandingan di atas pasir, dengan latar kawasan pantai yang selama ini menjadi salah satu kekuatan pariwisata daerah. Jika konsisten dikembangkan, sepak bola pantai berpotensi menjadi lebih dari sekadar kompetisi. Ia bisa menjadi tontonan, ruang pembinaan atlet, sekaligus bagian dari agenda sport tourism Gunungkidul.
Liga Pelajar Jadi Mesin Pencari Talenta
Di sisi lain, pembinaan usia muda menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Kompetisi liga pelajar diproyeksikan menjadi salah satu pintu untuk menemukan bibit-bibit pemain sepak bola sejak usia dini. Dari kompetisi antarsekolah, talenta-talenta muda diharapkan memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mendapatkan pengalaman bertanding. Sebab, pemain hebat tidak lahir secara instan.
Mereka tumbuh dari latihan, kompetisi, disiplin, pembinaan dan kesempatan untuk bermain. Karena itu, keberadaan kompetisi pelajar bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih jauh, kompetisi menjadi ruang seleksi alami untuk menemukan pemain potensial yang kelak dapat memperkuat klub, daerah maupun jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Estafet Kepemimpinan di ASKAB PSSI Gunungkidul
Pelantikan pengurus baru berlangsung dalam suasana khidmat. Pengambilan sumpah janji pengurus dipimpin Ketua ASPROV PSSI DIY, Dessy Arfianto. Setelah prosesi tersebut, acara dilanjutkan dengan penandatanganan surat keputusan serta penyerahan bendera pataka PSSI. Bendera pataka diserahkan Ketua Umum ASKAB PSSI Gunungkidul periode 2022–2026, Joko Pitoyo, kepada Sulistiyo Aribowo.
Momen tersebut menjadi simbol estafet kepemimpinan sekaligus dimulainya tanggung jawab baru bagi jajaran pengurus periode 2026–2030. Dessy Arfianto mengingatkan bahwa membangun sepak bola tidak bisa dilakukan sendirian.
PSSI membutuhkan koordinasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, klub, KONI serta berbagai pemangku kepentingan olahraga lainnya. Sinkronisasi tersebut menjadi penting agar pembinaan atlet berjalan lebih terarah dan prestasi daerah dapat terus ditingkatkan, termasuk ketika menghadapi kompetisi olahraga seperti Porda. Sebagai bentuk dukungan awal, ASPROV PSSI DIY juga menyerahkan bantuan bola secara simbolis kepada ASKAB PSSI Gunungkidul.
Jangan Lupakan Sepak Bola Putri
Ada satu pesan penting yang juga menjadi perhatian dalam kepengurusan baru. Prestasi sepak bola putri Gunungkidul harus dipertahankan. Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntaringsih, mengingatkan agar capaian sepak bola putri yang sebelumnya berhasil meraih medali emas tidak berhenti sebagai catatan prestasi masa lalu.
Prestasi tersebut justru harus menjadi pijakan untuk melahirkan generasi berikutnya. “Kita semua berharap pengurus baru memiliki konsistensi dan kerja keras dalam melahirkan atlet berbakat yang menjunjung tinggi sportivitas serta mampu mengharumkan nama Gunungkidul di kancah yang lebih luas,” ujar Endah.
Pesan tersebut sekaligus memperluas perspektif pembinaan sepak bola Gunungkidul. Sepak bola bukan hanya milik pemain putra. Talenta perempuan juga membutuhkan ruang latihan, kompetisi dan pembinaan yang berkelanjutan.
Ketika Sepak Bola Bertemu Pariwisata
Menariknya, agenda olahraga Gunungkidul juga diarahkan untuk bersinggungan langsung dengan sektor pariwisata. Bupati mendorong ASKAB PSSI bersama ASPROV dan KONI membangun kolaborasi untuk mengembangkan konsep sport tourism.
Gunungkidul memiliki banyak kawasan wisata yang berpotensi menjadi ruang penyelenggaraan kegiatan olahraga. Fasilitas olahraga yang tersedia dapat dikembangkan dan dipadukan dengan daya tarik wisata daerah. Bayangkan sebuah kompetisi olahraga berlangsung di kawasan wisata, pemain datang bertanding, keluarga ikut menyaksikan, sementara wisatawan mendapatkan hiburan tambahan. Di titik inilah olahraga tidak hanya berbicara mengenai skor dan medali.
Ada pergerakan masyarakat, kunjungan wisatawan, aktivitas ekonomi, promosi daerah dan peluang bagi pelaku usaha lokal. Sepak bola pantai bahkan bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk konsep tersebut.
Empat Tahun untuk Membuktikan
Kini bola berada di kaki kepengurusan baru ASKAB PSSI Gunungkidul. Periode 2026–2030 akan menjadi ruang pembuktian apakah gagasan mengenai sepak bola pantai, liga pelajar, pembinaan sepak bola putri dan sport tourism dapat diterjemahkan menjadi program nyata. Tantangannya tentu tidak ringan. Diperlukan kompetisi yang berkelanjutan, pembinaan yang konsisten, pelatih yang berkualitas, dukungan fasilitas, serta kolaborasi antara pemerintah, PSSI, klub, sekolah, KONI dan masyarakat. Namun satu hal sudah dimulai: estafet kepemimpinan telah berjalan.
Dari lapangan sekolah hingga lapangan pasir di kawasan pantai, dari pemain muda hingga sepak bola putri, Gunungkidul kini memiliki ruang yang luas untuk membangun masa depan sepak bolanya. Karena mungkin, bintang sepak bola Gunungkidul berikutnya bukan sedang bermain di stadion besar. Bisa jadi, ia sedang menggiring bola di lapangan sekolah. Atau bahkan sedang berlari mengejar bola di atas pasir pantai Gunungkidul. (Red)




