HARI JADI GUNUNGKIDUL KE-196, INILAH JADWAL LENGKAP DARI FESTIVAL, KONSER, NIGHT CARNIVAL HINGGA PUNCAK ACARANYA
Jangan sampai terlewat! Beragam kegiatan Hari Jadi Gunungkidul digelar mulai 22 September hingga 14 Oktober 2026, dengan agenda sosial, budaya, olahraga, keagamaan, UMKM dan hiburan.
Gunungkidul TV — Pertengahan Bulan September ini hingga Oktober 2026 menjadi bulan yang istimewa bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Bukan sekadar perayaan seremonial, Hari Jadi ke-196 Gunungkidul dikemas dalam rangkaian kegiatan yang menyentuh berbagai sisi kehidupan masyarakat mulai dari layanan kesehatan, bakti sosial, olahraga, UMKM, seni tradisi, kegiatan keagamaan, konser amal, hingga pesta budaya. Mengusung tema Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine, peringatan Hari Jadi ke-196 tahun ini membawa pesan tentang kebersamaan, kesehatan, ketenteraman, sekaligus semangat membangun Gunungkidul melalui keterlibatan masyarakat.
Menurut Muh Arkham Mashudi Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul, rangkaian kegiatan sudah dilaksanakan mulai Selasa (22/09/2026) hingga 14 Oktober 2026, dengan berbagai agenda yang tersebar di sejumlah wilayah. “Rangkaian kegiatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196 tahun di tahun ini, kegiatan sudah berlangsung sejak hari Selasa kemarin (22/09/2026), kata Mh. Arkham Mashudi Ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul.
Dimulai dari Kesehatan dan Kepedulian Sosial
Cerita peringatan Hari Jadi ke-196 dimulai dari kegiatan yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat di Hari Selasa (22/09/2026), yak i pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat dan penyandang disabilitas digelar di Balai Kalurahan Selang mulai pukul 09.00 WIB. Sehari berselang, semangat berbagi berlanjut melalui bakti sosial di Kapanewon Purwosari. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut melibatkan sejumlah unsur, di antaranya Baznas Gunungkidul, Dinas Pendidikan, Kagama Gunungkidul, serta DPD IKA UNDIP DIY.
Dari layanan kesehatan hingga aksi sosial, rangkaian awal ini seolah menjadi penanda bahwa Hari Jadi bukan hanya tentang panggung dan kemeriahan, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat secara langsung bagi masyarakat.
Mengenang Para Pemimpin, Merawat Ingatan Sejarah
Pada Jumat (25/09/2026), suasana peringatan bergeser pada penghormatan terhadap perjalanan sejarah pemerintahan Gunungkidul. Mulai pukul 06.00 WIB, dilaksanakan korve makam Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul di lima makam Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul. Siang harinya, pukul 13.00 WIB, agenda dilanjutkan dengan anjangsana ke rumah Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, S.Sos.
Tradisi semacam ini menjadi ruang untuk mengenang para tokoh yang pernah mengabdikan diri bagi Gunungkidul sekaligus menghubungkan masa lalu dengan perjalanan daerah hari ini.
Dari Pengajian hingga Gunungkidul Tourism Fest
Sabtu besok (26/09/2026), menjadi salah satu hari yang padat agenda. Pagi hari, masyarakat dijadwalkan mengikuti pengajian akbar di Bangsal Sewokoprojo mulai pukul 06.00 WIB. “Selain dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul juga sekaligus menjadi even doa bersama karena di hari Sabtu (26/09/2026) masyarakat ke-31 kalurahan se Kabupaten Gunungkidul mengadakan kegiatan demokrasi memilih lurah”, kata ketua Panitia Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul.
“Semoga kegiatan pesta demokrasi warga di 31 kalurahan se Kabupaten Gunungkidul berjalan lancar, tertib, dan terpilih pemimpin lurah yang terbaik dipilih warganya,“ tambahnya.
Sabtu malamnya, suasana berubah menjadi lebih meriah. Mulai pukul 19.30 WIB, masyarakat akan disuguhi Gunungkidul Tourism Fest di Rest Area Cingkrang. Perpaduan antara kegiatan keagamaan dan festival pariwisata memperlihatkan warna perayaan Hari Jadi yang berusaha merangkul berbagai segmen masyarakat.
Alun-alun Wonosari Bersiap Menjadi Panggung Budaya
Memasuki akhir September, denyut perayaan semakin terasa. Festival Nasional Campursari akan dijadwalkan berlangsung Senin hingga Rabu, (28–30/09/2026) mulai pukul 19.00 WIB di Lapangan Alun-alun Wonosari. Bukan hanya musik dan hiburan. Pada Rabu (28/09/2026), masih di kawasan Alun-alun Wonosari juga akan diramaikan Bazar UMKM yang menghadirkan berbagai produk, antara lain keris, topeng, blangkon, serta produk kerajinan lainnya. Bagi pelaku UMKM, momentum ini bukan sekadar memeriahkan Hari Jadi. Festival menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat sekaligus membuka ruang transaksi dan promosi. Di tengah gemerlap panggung, produk-produk tradisi justru mendapatkan ruang untuk tampil dan dikenal lebih luas.
Sementara itu, Kamis (29/09/2026) dijadwalkan menjadi agenda ziarah makam Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul di wilayah Gunungkidul. Kegiatan serupa berlanjut hingga Jumat (30/09/2026) dengan ziarah ke makam Bupati dan Wakil Bupati yang berada di luar Kabupaten Gunungkidul.
Pantai Baron, Gamelan dan Malam Tirakatan
Memasuki h-1 dari hari jadi Kabupaten Gunungkidul yakni yakni Sabtu (03/10/2026), kemeriahan kembali berpindah ke kawasan pantai. Mulai pukul 08.00 WIB, Perform Senam Kreasi dan Kenduri Agung sekaligus Pasar Murah digelar di Pantai Baron. Ketika malam datang, nuansa tradisional mengambil alih. Dan Malam harinya Pukul 19.00 WIB digelar Gaung Gamelan (Gongso Agung) di kalurahan atau kelompok kesenian kalurahan se-kabupaten Gunungkidul.
Dilanjutkan dengan Satu jam kemudian, suasana menjadi lebih khidmat melalui Malam Tirakatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo. Dari pantai hingga gamelan, dari pasar murah hingga tirakatan, rangkaian tersebut menggambarkan bagaimana identitas Gunungkidul dibangun dari banyak warna: masyarakat, tradisi, budaya dan kebersamaan.
Perbaikan Jalan, Bendung hingga Rumah Tidak Layak Huni
Hari Jadi juga tidak hanya menghadirkan kegiatan budaya dan hiburan. Pada Selasa, 6 Oktober 2026, dijadwalkan kegiatan peresmian RTLH serta sejumlah proyek infrastruktur. Beberapa pekerjaan yang masuk dalam agenda tersebut antara lain rekonstruksi Jalan Bogor–Playen, rehabilitasi Jalan Playen–Weleri, serta rehabilitasi Bendung–Pulutan.
Agenda ini menjadi bagian lain dari wajah peringatan Hari Jadi pembangunan fisik yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mobilitas dan aktivitas masyarakat.
Konser Amal hingga Gunungkidul Night Carnival
Setelah berbagai agenda sosial, budaya dan pembangunan, hiburan kembali menjadi magnet masyarakat. Pada Jumat (09/10/2026) digelar Konser Amal Om Lorenza dan Bazar UMKM di Alun-alun Wonosari mulai pukul 19.00 WIB. Sehari kemudian, Sabtu (10/10/2026) suasana diprediksi semakin meriah dengan Gunungkidul Night Carnival.
Agenda yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut mengambil lokasi dengan start Simpang Tiga Kepek 2 Wonosari Kranon dan finish di Taman Parkir Wonosari. Malam itu, ruang publik akan menjadi panggung perayaan yang mempertemukan masyarakat, seni, kreativitas dan semangat kebersamaan.
Dua Hari Sebelum Puncak, Alun-alun Mulai Bersiap
Setelah rangkaian kegiatan yang berlangsung hampir sebulan, perhatian kemudian mengarah pada puncak peringatan. Pada Senin (12/10/2026), mulai pukul 08.00 WIB dilaksanakan Gladi Kotor Upacara Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Alun-alun Wonosari.
Persiapan dilanjutkan sehari kemudian melalui Gladi Bersih, Selasa, 13 Oktober. Hingga akhirnya, pada Rabu, 14 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, seluruh rangkaian mencapai akhirnya melalui Upacara Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Alun-alun Wonosari.
Bukan Sekadar Ulang Tahun Daerah
Jika ditarik dari awal hingga akhir, rangkaian Hari Jadi ke-196 Gunungkidul memiliki wajah yang beragam. Ada masyarakat yang mendapatkan layanan kesehatan. Ada penyandang disabilitas yang mendapat perhatian. Ada kegiatan sosial, pengajian dan doa bersama. Ada pelaku UMKM yang memperoleh ruang promosi. Ada seniman yang kembali menghidupkan tradisi. Ada masyarakat yang menikmati festival dan konser. Ada pula agenda pembangunan infrastruktur yang menjadi bagian dari perjalanan daerah.
Semua bertemu dalam satu tema Gayeng Guyub – Waras Ragane, Tentrem Atine.
Hari Jadi Gunungkidul tahun ini pada akhirnya bukan hanya tentang menghitung usia sebuah daerah. Lebih dari itu, menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan Gunungkidul, mengenang mereka yang pernah mengabdi, merayakan kekayaan budaya, menggerakkan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat kebersamaan. Dari Selang hingga Purwosari, dari Alun-alun Wonosari hingga Pantai Baron, dari suara gamelan hingga kemeriahan Night Carnival, Gunungkidul akan menuliskan satu lagi cerita dalam perjalanan panjangnya.
196 tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak perjalanan, ingatan, budaya, dan harapan untuk Gunungkidul yang semakin guyub, sehat, tenteram, dan terus bergerak maju. (Red)







