MAHASISWA NON FORMAL UNY PRAKTIK KEPENDIDIKAN BERIKAN EDUKASI 4 TERLALU KEPADA ORANG TUA BALITA Di BKB RAHAYU NITIKAN BARAT GUNUNGKIDUL
Edukasi Mahasiswa Non Formal UNY Praktik Kependidikan di BKB Rahayu Semanu Dorong Keluarga Lebih Sadar tentang Kesehatan Ibu dan Anak
Gunungkidul TV — Merawat balita bukan hanya soal memastikan anak tumbuh sehat, cukup makan, dan mendapatkan kasih sayang. Di balik aktivitas pengasuhan sehari-hari, ada pula pengetahuan penting yang perlu dimiliki orang tua, salah satunya tentang kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Hal itulah yang menjadi perhatian dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) Rahayu Nitikan Barat, Kapanewon Semanu, Senin, 7 September 2026.
Sebanyak 10 orang tua yang memiliki anak usia balita mengikuti kegiatan edukasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan Program Studi Pendidikan Nonformal. Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Tidak sekadar mendengarkan penjelasan, para peserta juga diajak memahami persoalan kesehatan keluarga yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah konsep 4 Terlalu yakni empat kondisi yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kehamilan, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak.
Empat istilah tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat pesan penting tentang bagaimana keluarga mempertimbangkan kesehatan ibu, anak, serta kesiapan keluarga dalam merencanakan kehamilan.
Dari “4 Terlalu” Menuju Keluarga yang Lebih Siap
Dalam penyampaian materi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai berbagai risiko yang berkaitan dengan kehamilan pada usia yang terlalu muda maupun terlalu tua. Pembahasan juga menyentuh pentingnya memperhatikan jarak antarkehamilan serta jumlah kehamilan. Pesan yang dibangun bukan sekadar memberikan informasi, tetapi mendorong orang tua agar semakin memahami pentingnya perencanaan keluarga.
Materi disampaikan secara langsung dengan pendekatan yang komunikatif. Peserta diberi kesempatan untuk berinteraksi sehingga informasi kesehatan tidak berhenti sebagai teori, melainkan dapat dikaitkan dengan pengalaman dan kondisi keluarga masing-masing. Kegiatan tersebut turut didampingi rekan mahasiswa dari Balai KB serta melibatkan ibu-ibu BKB Rahayu Nitikan Barat.
Bagi keluarga yang sehari-hari berhadapan langsung dengan tumbuh kembang anak, informasi semacam ini menjadi bagian penting dari pendidikan keluarga. Sebab, kesehatan anak tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat kesehatan ibu, kesiapan orang tua, pola pengasuhan, hingga bagaimana sebuah keluarga merencanakan masa depannya.
Pendidikan Nonformal yang Hadir di Tengah Keluarga
Kegiatan di BKB Rahayu Nitikan Barat juga menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas dengan papan tulis dan buku pelajaran. Di tengah masyarakat, pendidikan nonformal dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kebutuhan warga. BKB menjadi salah satu ruang tempat orang tua memperoleh pengetahuan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga.
Dari forum sederhana bersama para orang tua balita, informasi mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga dapat dibicarakan secara terbuka dan lebih mudah dipahami. Kegiatan ini juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, terutama melalui upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Pengetahuan yang Tidak Berhenti di Ruang Pertemuan
Ada satu harapan sederhana dari kegiatan tersebut: pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti ketika pertemuan selesai. Orang tua diharapkan dapat membawa pulang informasi tentang “4 Terlalu”, membicarakannya bersama pasangan dan keluarga, serta menjadikannya salah satu bahan pertimbangan dalam perencanaan keluarga.
Dari satu pertemuan, informasi dapat berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari sepuluh peserta, pesan kesehatan bisa diteruskan kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar. Di situlah kekuatan pendidikan berbasis masyarakat bekerja. Bukan selalu tentang kegiatan besar dan jumlah peserta yang banyak. Terkadang, perubahan pengetahuan justru dimulai dari ruang sederhana, dari percakapan antarsesama orang tua, dan dari kesadaran bahwa keluarga sehat membutuhkan pengetahuan yang terus tumbuh.
BKB Rahayu Nitikan Barat pun menjadi salah satu ruang kecil yang memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan keluarga dapat hadir dekat dengan masyarakat mencerahkan, bermanfaat, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dan dari sana, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan: merencanakan keluarga bukan sekadar soal jumlah anggota keluarga, tetapi juga tentang kesiapan, kesehatan, dan masa depan yang ingin dibangun bersama. (Red)







