MEMAHAMI KONSEP DIRI ORANG TUA UNTUK MENDUKUNG PENGASUHAN YANG POSITIF
Edukasi Konsep Diri Orang Tua di Semanu: Dari Berbagi Pengalaman hingga Belajar Menjadi Orang Tua yang Lebih Positif
Gunungkidul TV — Mengasuh anak bukan sekadar tentang memberi makan, menemani bermain, atau memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Di balik proses pengasuhan, ada satu hal yang sering kali terlupakan: bagaimana orang tua memahami dirinya sendiri. Pertanyaan sederhana seperti “Sudahkah saya mengenal diri saya sebagai orang tua?” ternyata bisa menjadi pintu masuk untuk membangun pola pengasuhan yang lebih positif.
Hal itulah yang menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan pembinaan kader Poktan Bina Keluarga Balita (BKB) yang digelar di Balai KB Semanu, Rabu (05/09/2026). Sebanyak 14 ibu kader BKB mengikuti kegiatan yang tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tentang lika-liku mendampingi tumbuh kembang anak. Kegiatan diawali dengan pembinaan kader Poktan BKB yang disampaikan oleh Ibu Asar selaku Koordinator Balai KB Semanu. Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan sosialisasi bertema Memahami Konsep Diri Orang Tua dalam Mengasuh Anak. Pesannya sederhana, tetapi penting: sebelum membentuk perilaku anak, orang tua perlu terlebih dahulu mengenali dirinya sendiri.
Orang Tua Juga Perlu Belajar
Dalam materi tersebut, para kader diajak memahami pentingnya mengenal dan menghargai diri sendiri sebagai bagian dari proses menjalankan peran sebagai orang tua. Kepercayaan diri juga menjadi salah satu kunci. Menjadi orang tua bukanlah pekerjaan yang memiliki buku petunjuk sempurna. Setiap keluarga mempunyai situasi, tantangan, dan pengalaman yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu terus belajar.
Belajar bisa dilakukan melalui berbagai cara. Mulai dari mengikuti penyuluhan, membaca, berdiskusi dengan sesama orang tua, hingga mencari informasi dari tenaga kesehatan dan kader. Konsep inilah yang kemudian ditekankan sebagai pembelajaran sepanjang hayat. Sebab, anak terus bertumbuh. Tantangan pengasuhan pun ikut berubah. Apa yang berhasil dilakukan ketika anak masih balita belum tentu sama ketika anak memasuki tahap perkembangan berikutnya.
Bukan Sekadar Ceramah
Suasana sosialisasi pun berlangsung cukup cair. Para ibu kader mengikuti materi dengan saksama. Beberapa peserta bahkan turut menanggapi pembahasan dengan menceritakan pengalaman mereka sendiri ketika menghadapi berbagai situasi dalam mengasuh anak. Di titik inilah kegiatan menjadi lebih dari sekadar penyampaian materi. Pengalaman satu kader menjadi bahan pembelajaran bagi kader lainnya.
Ada cerita, ada tanggapan, ada pengalaman yang mungkin pernah dialami bersama, dan ada pula refleksi tentang bagaimana orang tua selama ini berkomunikasi dengan anak. Pembelajaran akhirnya berlangsung dua arah. Tidak hanya narasumber yang berbicara, tetapi peserta juga mendapatkan ruang untuk berbagi.
Salah satu ibu kader bahkan memberikan apresiasi terhadap cara penyampaian materi dengan celetukan yang cukup menghibur. Penyampaianmu asik, jadi nggak ngantuk. Kalimat sederhana itu menjadi gambaran bahwa edukasi tentang pengasuhan tidak harus selalu berlangsung kaku. Materi serius pun bisa disampaikan dengan cara yang ringan, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari Materi, Berlanjut ke Post-Test
Setelah sesi sosialisasi selesai, Mas Anjas memandu para ibu kader untuk mengerjakan post-test dari Kemendukbangga. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses melihat kembali pemahaman peserta setelah mengikuti materi. Di akhir sesi, salah seorang kader juga menyampaikan refleksi sekaligus kesimpulan mengenai materi yang telah dibahas.
Ada satu benang merah yang kemudian mengemuka: menjadi orang tua bukan berarti harus selalu sempurna. Yang lebih penting adalah kemauan untuk mengenali diri, mau belajar, berkomunikasi secara positif, dan terus memperbaiki cara mendampingi anak.
Pengasuhan Positif Dimulai dari Orang Tua
Kegiatan pembinaan kader BKB di Semanu ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Keduanya memiliki kaitan erat dengan upaya menciptakan keluarga yang mampu memberikan lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan mendukung proses belajar anak. Sebab, pengasuhan positif tidak hanya berbicara tentang bagaimana anak diperlakukan. Ia juga berbicara tentang bagaimana orang tua mengelola dirinya sendiri.
Ketika orang tua mampu mengenali emosi, menghargai dirinya, membangun kepercayaan diri, dan menerapkan komunikasi yang positif, suasana keluarga diharapkan menjadi lebih tenang dan mendukung. Dari ruang sederhana di Balai KB Semanu, pesan itu kembali diingatkan: anak memang perlu belajar, tetapi orang tua juga tidak pernah berhenti belajar. Dan mungkin, salah satu bentuk pengasuhan terbaik bukanlah menjadi orang tua yang selalu benar, melainkan menjadi orang tua yang bersedia terus belajar menjadi lebih baik.







