PENGABDIAN UGM DI PALIYAN GUNUNGKIDUL DORONG PERTANIAN GROGOL CERDAS DENGAN TEKNOLOGI GEO MEMBRAN
Gunungkidul TV – Di tengah hamparan lahan Kembang Tani, Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Jumat (22/5/2026), tersimpan sebuah kisah yang lebih besar daripada sekadar berakhirnya program pengabdian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Hari itu menjadi penanda lahirnya optimisme baru bahwa lahan kering Gunungkidul pun mampu menjadi lumbung pangan yang produktif.
Bertempat di Aula Kembang Tani atau Danarjati Farm, para mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, hingga masyarakat berkumpul dalam acara evaluasi sekaligus penyampaian laporan kegiatan pengabdian yang telah berlangsung di empat kalurahan, yakni Grogol, Pampang, Mulusan, dan Karangduwet.
Suasana hangat terasa sejak awal kegiatan. Hadir mewakili Bupati Gunungkidul, Staf Ahli Bupati Wibawanti Wulandari, S.P., bersama jajaran pimpinan UGM, Direktur PT WIKA, Panewu Paliyan, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Paliyan, para lurah, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur yang selama ini turut mendukung pelaksanaan program pengabdian. Namun perhatian para tamu bukan hanya tertuju pada laporan kegiatan mahasiswa. Mereka justru dibuat terpukau oleh sebuah inovasi yang dinilai mampu mengubah wajah pertanian Gunungkidul.
Dalam paparannya, dosen pembimbing Prof. Fatchan memperkenalkan teknologi budidaya padi menggunakan lapisan geo-membran, sebuah sistem pertanian cerdas yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan lahan kering dan keterbatasan air. Selama ini, musim kemarau menjadi persoalan klasik yang membatasi produktivitas pertanian di Gunungkidul. Namun melalui teknologi geo-membran, air dapat dipertahankan lebih lama di area persawahan sehingga kebutuhan irigasi menjadi jauh lebih efisien.
Hasilnya sangat menjanjikan. Petani berpeluang menanam padi hingga tiga kali dalam setahun, menghemat penggunaan air, pupuk, serta tenaga kerja, sekaligus meningkatkan produktivitas panen secara signifikan. Bahkan, beras premium hasil budidaya di lahan Kembang Tani telah berhasil diproduksi dan diserahkan secara simbolis kepada para tamu undangan sebagai bukti nyata bahwa inovasi tersebut telah memberikan hasil yang dapat langsung dirasakan masyarakat.
Staf Ahli Bupati Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Gadjah Mada yang dinilai tidak hanya melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai kewajiban akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi modal penting dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Kabupaten Gunungkidul.
Harapan serupa juga disampaikan Pemerintah Kalurahan Grogol melalui Carik Kalurahan. Pihaknya berharap pendampingan dari UGM, khususnya Prof. Fatchan beserta tim, dapat terus berlanjut ketika program Lumbung Mataraman mulai diterapkan dengan sistem budidaya padi geo-membran. Pendampingan tersebut dinilai penting agar inovasi yang telah berhasil diuji tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Menjelang berakhirnya acara, seluruh tamu undangan diajak menuju hamparan sawah Kembang Tani. Dengan mengenakan caping dan memegang ani-ani, mereka secara simbolis melaksanakan panen raya padi geo-membran.
Suasana penuh senyum dan rasa syukur menyelimuti area persawahan. Bulir-bulir padi yang menguning seolah menjadi saksi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan inovasi. Pengabdian mahasiswa UGM di Paliyan pun resmi berakhir. Namun yang mereka tinggalkan bukan sekadar laporan kegiatan, melainkan sebuah warisan pengetahuan, teknologi, dan harapan baru bagi masa depan pertanian Gunungkidul.
Dari lahan yang selama ini dikenal kering, kini tumbuh keyakinan bahwa dengan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan semangat gotong royong, Gunungkidul mampu menjadi salah satu contoh pertanian modern yang tangguh, produktif, dan berkelanjutan. (Red)

