DUA SRIKANDI ISI KURSI STRATEGIS PENEGAK HUKUM GUNUNGKIDUL, BABAK BARU KOLABORASI DIMULAI

Bertempat di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Jumat (2/10/2026) malam, ada pemandangan yang tak biasa. Dua posisi strategis penegakan hukum di Gunungkidul kini dipercayakan kepada dua perempuan.

Gunungkidul TV — Malam itu, suasana Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, terasa berbeda. Bukan sekadar karena jajaran pejabat dan tokoh masyarakat memenuhi ruangan. Ada sebuah pergantian penting yang menjadi perhatian: dua kursi strategis dalam penegakan hukum di Kabupaten Gunungkidul kini ditempati dua sosok perempuan.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar pisah sambut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Gunungkidul sekaligus malam pengantar tugas Kapolres Gunungkidul. Pergantian ini menjadi penanda berakhirnya masa tugas AKBP Damus Asa sebagai Kapolres Gunungkidul dan Dr. Budhi Purwanto sebagai Kajari Gunungkidul.

Pada saat yang sama, dua wajah baru diperkenalkan. AKBP Rosana Albertina Labobar, S.I.K., M.Si. dipercaya memimpin Polres Gunungkidul, sementara Shinta Ayu Dewi RR, S.H., M.H. mengemban amanah sebagai Kajari Gunungkidul. Keduanya hadir membawa babak baru, dengan satu tantangan yang sama: menjaga Gunungkidul tetap aman, tertib, dan kondusif melalui kolaborasi lintas institusi.

Dari Apresiasi untuk Pejabat Lama hingga Harapan untuk Pemimpin Baru

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih hadir bersama jajaran Forkopimda, Sekda dan kepala perangkat daerah, TNI-Polri, Kejaksaan, tokoh agama, tokoh masyarakat serta sejumlah undangan lainnya. Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan penghargaan kepada AKBP Damus Asa dan Dr. Budhi Purwanto atas pengabdian mereka selama berada di Gunungkidul. “Atas nama Pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Gunungkidul, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi, kerja keras, serta sinergitas yang luar biasa selama bertugas di Gunungkidul,” ujar Endah.

Menurutnya, menjaga kondusivitas daerah bukan pekerjaan satu institusi. Dibutuhkan gotong royong, komunikasi, dan sinergi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, TNI-Polri, tokoh masyarakat hingga seluruh elemen warga. Dan malam itu, perhatian tertuju pada hadirnya dua pimpinan perempuan yang akan mengisi posisi penting tersebut. “Kehadiran Ibu-Ibu sekalian sebagai sosok pimpinan perempuan di jajaran penegak hukum, memberikan kepemimpinan yang inspiratif serta angin segar bagi penguatan kolaborasi di Kabupaten Gunungkidul,” kata Endah.

Delapan Bulan di Gunungkidul, Damus Asa Tinggalkan Kesan Mendalam

Bagi AKBP Damus Asa, Gunungkidul bukan sekadar tempat bertugas. Delapan bulan berada di Bumi Handayani meninggalkan kesan yang menurutnya sulit dilupakan. Ia mengaku berat meninggalkan masyarakat Gunungkidul yang dikenal guyub dan menjunjung tinggi nilai tepa seliro. “Datang ke Gunungkidul membawa sebagian tugas dan pengabdian. Kami meninggalkan Gunungkidul membawa kenangan, membawa persahabatan, persaudaraan, dan membawa rasa bangga bisa bergabung dengan keluarga besar di Gunungkidul,” ungkap Damus.

Sementara itu, Dr. Budhi Purwanto yang bertugas sejak Januari 2026 juga membawa kesan serupa. Ia menggambarkan masyarakat Gunungkidul sebagai masyarakat yang adem dan mampu menjaga keselarasan. “Banyak daya tariknya, terutama karena masyarakatnya itu adem. Semuanya bisa memaknai adanya sebuah keselarasan, memayu hayu hayuning bawana,” ujarnya. Budhi selanjutnya mendapat amanah baru sebagai Asisten Intelijen di Kejati DIY.

Kapolres Baru Punya Cara Unik Mendekati Warga

Memasuki tugas baru, AKBP Rosana Albertina Labobar langsung menunjukkan semangat untuk membangun kedekatan dengan masyarakat. Ia menyatakan siap memberikan kemampuan terbaik untuk membantu Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Namun ada satu hal menarik yang membuat suasana malam itu mencair.

Rosana ternyata sedang belajar bahasa Jawa. Bukan sekadar belajar lewat percakapan. Ia bahkan membawa sebuah buku kecil untuk mencatat kosakata baru yang ditemuinya ketika turun ke lapangan. “Saya sudah mulai belajar bahasa Jawa, Bu. Saya punya buku kecil di mana setiap saya ketemu Pak Lurah, Pak Dukuh, kata-kata barunya saya catat,” ujar Rosana.

Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan para tamu. Cara sederhana itu sekaligus memperlihatkan satu pesan penting: membangun keamanan tidak selalu dimulai dari kantor, tetapi juga dari kemampuan untuk hadir dan berkomunikasi dekat dengan masyarakat.

Kajari Baru: Kejaksaan Bukan Sekadar Penindak

Semangat membangun kolaborasi juga disampaikan Kajari Gunungkidul yang baru, Shinta Ayu Dewi RR. Kembali bertugas di wilayah DIY, Shinta menegaskan bahwa Kejaksaan tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan hukum. Kejaksaan, menurutnya, juga memiliki peran untuk mendampingi pemerintah daerah melalui fungsi Jaksa Pengacara Negara. “Harapan kami sebagai salah satu aparat penegak hukum, kita bisa beriringan berjalan bersama. Dan tentunya tidak melihat kami hanya sebagai jaksa, tapi kami di sini ada yang namanya Jaksa Pengacara Negara,” ungkap Shinta.

Pesan itu menjadi bagian penting dari babak baru hubungan antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum: bukan hanya soal penindakan, tetapi juga pencegahan, pendampingan, serta penguatan tata kelola pemerintahan.

Dua Srikandi, Satu Tantangan

Pergantian pimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun bagi Gunungkidul, malam pisah sambut di Bangsal Sewokoprojo lebih dari sekadar pergantian jabatan. Ada harapan baru yang ikut disematkan.

Di satu sisi, masyarakat melepas dua pejabat yang telah meninggalkan jejak pengabdian. Di sisi lain, dua pimpinan perempuan datang membawa energi dan pendekatan baru. Bupati Endah menegaskan, fondasi kerja sama yang selama ini telah terbangun harus terus diperkuat. Sebab menjaga Gunungkidul tetap aman dan membangun pemerintahan yang baik membutuhkan kerja bersama.

Dua srikandi kini menempati dua kursi strategis penegakan hukum di Bumi Handayani. Tantangannya tentu tidak ringan. Namun dari Bangsal Sewokoprojo malam itu, satu pesan mengemuka: pergantian pemimpin boleh terjadi, tetapi semangat kolaborasi untuk Gunungkidul yang adil, makmur, lestari, dan berkeadaban harus terus berjalan. (Red)

__Terbit pada
Oktober 3, 2026
__Kategori
News