PERTALITE NAIK RP13.500 MULAI 26 SEPTEMBER? KABAR VIRAL TERNYATA HOAKS, INI PENJELASAN PEMERINTAH
Poster digital bikin geger media sosial. Harga Pertalite disebut melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp13.500 per liter mulai Sabtu (26/9). Namun pemerintah memastikan BBM subsidi tidak naik hingga penghujung 2026.
Gunungkidul TV – Kabar soal harga Pertalite yang disebut bakal naik menjadi Rp13.500 per liter mulai Sabtu, 26 September 2026, sempat membuat ruang media sosial ramai. Sebuah poster digital beredar dan mencatut foto Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Isinya menyebut pemerintah akan menaikkan harga BBM subsidi dengan alasan meningkatnya harga minyak dunia sekaligus untuk mengurangi beban subsidi negara. 
Bagi masyarakat yang setiap hari menggantungkan mobilitas pada sepeda motor maupun kendaraan roda empat, angka Rp13.500 tentu bukan sekadar angka. Jika benar terjadi, kenaikan Rp3.500 per liter atau sekitar 35 persen dari harga Rp10.000 tentu berpotensi ikut mengerek pengeluaran harian masyarakat. Tak heran jika kemudian muncul ajakan di media sosial untuk membeli BBM lebih awal.
Namun, sebelum buru-buru antre di SPBU karena takut harga berubah, ada satu hal penting yang perlu diketahui. Kabar tersebut dinyatakan tidak benar.
Pemerintah: BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memberikan penjelasan mengenai kondisi harga BBM di tengah pergerakan harga minyak dunia. Dalam keterangannya setelah menghadiri MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9/2026), Bahlil membedakan mekanisme harga BBM nonsubsidi dengan BBM subsidi.
Untuk BBM nonsubsidi, harga mengikuti perkembangan pasar global yang salah satunya tercermin melalui Indonesian Crude Price (ICP). Artinya, ketika harga minyak dunia dan ICP meningkat, harga BBM nonsubsidi dapat mengalami penyesuaian. Sebaliknya, apabila harga minyak turun, harga juga dapat dikoreksi. Namun mekanismenya berbeda untuk BBM subsidi.
Bahlil secara tegas menyampaikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan hingga akhir 2026. “Harga minyak subsidi sampai dengan akhir tahun tidak akan ada kenaikan. Udah itu deal, itu perintah Pak Presiden Prabowo,” tegas Bahlil.
Pernyataan tersebut juga diberitakan sejumlah media pada 22–24 September 2026. Kementerian ESDM sebelumnya pun telah menyampaikan komitmen pemerintah untuk mempertahankan harga BBM subsidi hingga akhir tahun. Dengan demikian, klaim bahwa Pertalite akan berubah menjadi Rp13.500 per liter mulai 26 September 2026 tidak sejalan dengan keterangan pemerintah terbaru. Juru Bicara Kementerian ESDM juga menyebut informasi kenaikan Pertalite tersebut sebagai hoaks.
Bukan Sekadar Harga, Pemerintah Bicara Soal Stok
Di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah juga menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting: ketersediaan pasokan BBM. Bahlil menyebut cadangan BBM nasional dijaga pada standar minimal sekitar 18 hingga 21 hari.
Pemerintah, kata dia, memastikan ketahanan stok tetap menjadi perhatian agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi. Jadi, persoalan BBM saat ini bukan hanya soal berapa harga yang tertera di papan SPBU, tetapi juga bagaimana menjaga pasokan energi tetap aman ketika harga minyak dunia bergerak dinamis.
Mengapa Isu Kenaikan Mudah Viral?
Poster yang beredar memiliki semua unsur yang mudah membuat masyarakat bereaksi. Ada angka harga baru. Ada tanggal yang sangat spesifik. Ada foto pejabat pemerintah. Dan ada alasan yang terdengar masuk akal: harga minyak dunia naik dan subsidi negara perlu dikurangi.
Persoalannya, tampilan sebuah poster tidak otomatis membuat informasi di dalamnya menjadi resmi. Di era media sosial, informasi mengenai harga kebutuhan pokok dan energi sangat mudah menyebar hanya dalam hitungan menit. Apalagi jika disertai kalimat ajakan atau imbauan untuk segera bertindak. Karena itu, masyarakat perlu melihat sumber pertama informasi tersebut dan membandingkannya dengan keterangan resmi pemerintah atau badan usaha terkait.
Bahlil: Masyarakat Mampu Jangan Gunakan BBM Subsidi
Di balik polemik harga Pertalite, pemerintah juga kembali mengangkat persoalan ketepatan sasaran subsidi. Bahlil mengimbau masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas agar tidak menggunakan BBM subsidi.
Menurutnya, ketika masyarakat yang sebenarnya mampu menggunakan BBM subsidi, terjadi pergeseran konsumsi yang berpotensi mengurangi porsi BBM yang seharusnya dinikmati masyarakat yang memang membutuhkan. “Yang mampu, yang pendapatannya bagus, ekonominya menengah ke atas, mobilnya bagus, ya janganlah pakai BBM subsidi,” ujar Bahlil.
Ia juga menyinggung temuan penggunaan BBM subsidi dalam jumlah besar oleh kendaraan dengan tangki yang telah dimodifikasi di Makassar. Pemerintah menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan bagaimana subsidi energi dapat disalurkan secara lebih tepat sasaran.
Jadi, Apakah Pertalite Naik Rp13.500 Besok?
Jawabannya: tidak berdasarkan informasi resmi pemerintah yang tersedia hingga 25 September 2026. Klaim bahwa Pertalite naik menjadi Rp13.500 per liter mulai Sabtu, 26 September 2026, telah dibantah.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru memastikan BBM subsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Masyarakat pun tidak perlu panik atau melakukan pembelian berlebihan hanya karena poster yang beredar di media sosial. Yang lebih penting adalah memastikan informasi harga BBM berasal dari sumber resmi dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital, terkadang yang paling cepat menyebar bukanlah informasi yang paling benar.
Satu poster bisa membuat panik. Satu klarifikasi bisa mengembalikan ketenangan. Dan untuk urusan harga BBM, jangan sampai keputusan diambil karena takut oleh kabar yang ternyata tidak benar. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.