PILUR NGLORO SAPTOSARI GUNUNGKIDUL TELAH USAI, HERI YULIANTO PUTRA ASLI NGLORO MENGUNGGULI AGUS HADI PURWOTO DENGAN SELISIH MUTLAK 

Dari suasana tegang di Balai Kalurahan hingga konvoi kendaraan yang memenuhi jalanan, Pilur Ngloro 2026 berakhir dengan kemenangan Heri Yuliyanto. Putra asli Ngloro itu meraih suara terbanyak dalam pertarungan dua calon yang sejak awal menyedot perhatian warga.

Gunungkidul TV — Sore belum benar-benar beranjak ketika suasana di Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, mendadak berubah. Sabtu (26/09/2026) di Balai Kalurahan Ngloro dipenuhi warga. Wajah-wajah tegang tampak di antara kerumunan. Ada yang berdiri sambil sesekali berbincang, ada pula yang memilih diam, menunggu setiap angka hasil penghitungan suara.

Hari itu, satu pertanyaan menggantung di tengah masyarakat: Siapa yang akan memimpin Ngloro? Jawabannya perlahan muncul dari proses penghitungan suara. Nama Heri Yuliyanto terus berada di posisi teratas.

Ketegangan yang sejak pagi memenuhi suasana akhirnya pecah menjadi sorak-sorai. Tepuk tangan menggema. Wajah-wajah yang sebelumnya penuh kecemasan berubah menjadi senyum dan kegembiraan. Bagi pendukung Heri, momen tersebut menjadi penanda berakhirnya penantian panjang.

Dua Calon, Satu Kursi Lurah

Pilur Ngloro tahun ini menghadirkan pertarungan dua nama. Agus Hadi Purwoto, warga dari Tanjungsari, maju sebagai salah satu calon Lurah Ngloro. Sementara itu, Heri Yuliyanto merupakan warga asli Ngloro yang lahir dan tumbuh di wilayah tersebut. Perbedaan latar belakang kedua calon tersebut membuat kontestasi Pilur Ngloro menjadi perhatian tersendiri.

Di tengah masyarakat, pembicaraan mengenai siapa yang akan memimpin Ngloro berlangsung sejak tahapan pemilihan dimulai. Namun pada akhirnya, pilihan berada sepenuhnya di tangan warga melalui bilik suara.

TPS demi TPS menjadi tempat masyarakat menentukan pilihannya. Dan ketika hasil mulai direkapitulasi, kabar kemenangan Heri perlahan menyebar dari satu sudut Ngloro ke sudut lainnya.

Ketegangan Berubah Menjadi Konvoi

Begitu hasil penghitungan diketahui, suasana Ngloro berubah drastis. Anak-anak muda yang sejak pagi mengikuti perkembangan Pilur mulai bergerak. Kendaraan dikeluarkan. Barisan terbentuk. Klakson mulai bersahutan. Pawai kemenangan pun spontan bergerak menyusuri jalanan. Bendera-bendera kecil dikibarkan.

Suara mesin kendaraan bercampur dengan teriakan kegembiraan. Tidak ada panggung megah. Tidak ada pesta yang dirancang jauh-jauh hari. Yang ada hanyalah luapan emosi warga setelah menyaksikan sebuah proses demokrasi di tingkat kalurahan mencapai penghujungnya. Dari Balai Kalurahan, rombongan kemudian bergerak menuju kediaman Heri Yuliyanto.

Ketika Kemenangan Disambut Air Mata

Sesampainya di rumah, suasana kembali menghangat. Heri menyambut kedatangan warga dan para pendukungnya. Pelukan terjadi. Jabat tangan berganti-ganti. Dan di tengah kegembiraan itu, air mata haru pun tak terbendung.

Bagi Heri, perjalanan menuju kursi Lurah Ngloro akhirnya sampai pada satu titik penting. Namun bagi masyarakat, kemenangan tersebut sekaligus membawa pesan yang jauh lebih besar: setelah seluruh tahapan pemilihan selesai, tantangan berikutnya adalah bagaimana kepercayaan masyarakat itu dijawab melalui kerja nyata. Sebab bilik suara hanya menentukan pilihan. Setelah itu, masyarakat menunggu bukti.

Jalan Ngloro sore itu akhirnya kembali perlahan sepi. Suara klakson yang sebelumnya bersahutan mulai menjauh. Tetapi satu cerita baru telah dimulai. Heri Yuliyanto kini menghadapi babak berikutnya: memimpin Ngloro dan membuktikan bahwa kemenangan dalam Pilur bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab.

Dan Sabtu (26/09/2026), akan tercatat sebagai salah satu hari yang sulit dilupakan warga Ngloro hari ketika penantian panjang berakhir dengan sorak kemenangan dan iring-iringan warga menuju rumah calon yang memperoleh kepercayaan mereka. (Red)

__Terbit pada
September 26, 2026
__Kategori
News