RATUSAN JAMAAH CABEAN NGESTIREJO GUNUNGKIDUL MEMBLUDAK !! NGAJI SENI GAYENG REGENG BIKIN DAKWAH TERASA SEJUK DAN MENGHIBUR
Lagu-lagu penuh makna, tausiyah renyah, dan suasana hangat kebersamaan menjadikan Ngaji Seni di Cabean sebagai wajah dakwah yang menghibur sekaligus mencerahkan.
Gunungkidul TV – Malam yang sejuk di kawasan Cabean berubah menjadi lautan kehangatan. Semilir angin yang biasanya mengundang orang untuk beristirahat justru menjadi saksi berkumpulnya ratusan jamaah dari berbagai daerah yang datang dengan satu tujuan: mengikuti Ngaji Seni Gayeng Regeng, sebuah pengajian yang memadukan dakwah Islam dengan sentuhan seni budaya yang sarat makna. Sejak sore hingga malam, halaman lokasi acara dipenuhi masyarakat dari berbagai usia. Tidak hanya warga sekitar Cabean, sejumlah jamaah bahkan datang dari luar daerah demi menikmati nuansa pengajian yang berbeda dari biasanya. Wajah-wajah penuh semangat tampak memenuhi setiap sudut lokasi, membuktikan bahwa dakwah yang dikemas secara kreatif mampu menarik perhatian masyarakat luas.
Malam itu, panggung dihidupkan oleh penampilan grup seni budaya Islami JSI Kamilasyada di bawah pimpinan Kang Jay. Melalui alunan musik yang lembut dan syair yang menyentuh hati, para vokalis Kang Jay, Anto, Ummu, dan Tini mengajak jamaah merenungi makna kehidupan. Lagu-lagu seperti Lancaran Hasbunallah, Renungan Wengi, Pepeling, Dipikir-Dipikir, hingga Samara bukan sekadar hiburan. Setiap bait yang dilantunkan membawa pesan tentang pentingnya mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, serta menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana syahdu semakin terasa ketika Ustadz Romli Akbar asal Wonogiri menyampaikan tausiyah. Dengan gaya khas yang santai, komunikatif, dan penuh humor, beliau mengajak jamaah memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara hablum minallah hubungan dengan Allah SWT dan hablum minannas, yakni hubungan baik dengan sesama manusia. Menurutnya, ibadah tidak cukup hanya diwujudkan melalui ritual semata. Rasa syukur harus hadir dalam hati, terucap melalui lisan, dan dibuktikan lewat tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang lain. “Hubungan baik dengan sesama dimulai dari keluarga, kemudian tetangga, hingga kehidupan bermasyarakat. Itulah salah satu cermin keimanan seorang muslim,“ pesan Ustadz Romli di hadapan jamaah.
Materi yang disampaikan terasa ringan namun mengena. Berbagai analogi sederhana dipadukan dengan humor segar membuat jamaah larut dalam suasana. Tawa sesekali pecah, lalu berganti keheningan ketika lantunan lagu kembali mengalun. Perpaduan inilah yang membuat pengajian berlangsung hidup dan jauh dari kesan membosankan. Kesuksesan penyelenggaraan acara juga disambut rasa syukur oleh Ketua Panitia, Anwarudin. Ia mengaku jumlah jamaah yang hadir melampaui perkiraan panitia. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, kehadiran jamaah melebihi target yang kami perkirakan. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, lancar, dan penuh keberkahan,“ ungkapnya.
Antusiasme serupa juga dirasakan para jamaah. Salah satunya Bu Titik yang datang bersama rombongan dari Bintaos, Tepus. Baginya, setiap penampilan JSI Kamilasyada selalu menghadirkan suasana yang berbeda. “Kalau JSI Kamilasyada tampil, Insyaallah saya selalu berusaha hadir. Pengajiannya nyaman, gembira, dan benar-benar menenangkan hati,“ tuturnya.
Fenomena Ngaji Seni “Gayeng Regeng” menunjukkan bahwa dakwah dapat dikemas dengan cara yang kreatif tanpa kehilangan esensi. Seni budaya menjadi jembatan yang mendekatkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat secara lebih hangat, membumi, dan mudah diterima oleh semua kalangan. Di tengah derasnya arus hiburan digital, kegiatan seperti ini menjadi oase yang menyegarkan. Bukan hanya menghadirkan hiburan yang bernilai, tetapi juga memperkuat ukhuwah, menanamkan pesan moral, dan mengajak masyarakat untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Ngaji Seni Gayeng Regeng pun menjadi bukti bahwa dakwah yang disampaikan dengan kelembutan, budaya, dan kegembiraan mampu menyentuh hati, menginspirasi banyak orang, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Red)

