DETIK-DETIK GEMPA MENGGUNCANG RSA UGM !! SIMULASI BESAR PENANGANAN BENCANA LIBATKAN PULUHAN INSTANSI DI SLEMAN
Ini Bukan bencana sungguhan, tetapi latihan yang terasa nyata. Dari alarm darurat, evakuasi pasien, hingga kobaran api, seluruh elemen bergerak cepat demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa.
Gunungkidul TV – Suara alarm darurat tiba-tiba memecah suasana pagi di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Ahad (19/7/2026). Dalam hitungan detik, para tenaga kesehatan, petugas keamanan, relawan, hingga tim tanggap darurat berlarian menuju titik-titik yang telah ditentukan.
Pasien dievakuasi, jalur penyelamatan dibuka, sementara kepulan asap dan skenario kebakaran membuat suasana rumah sakit seolah benar-benar berada dalam kondisi darurat.
Namun, semua itu bukanlah bencana yang sebenarnya.
Itulah gambaran simulasi kesiapsiagaan bencana berskala besar yang digelar RSA UGM sebagai bagian dari komitmen membangun rumah sakit yang tangguh menghadapi berbagai kondisi darurat, mulai dari gempa bumi hingga kebakaran. Kegiatan yang diinisiasi Direksi RSA UGM dan dikoordinasikan Tim Hospital Disaster Plan tersebut melibatkan seluruh sivitas hospitalia serta berbagai instansi lintas sektor. Simulasi dirancang sedekat mungkin dengan kondisi nyata agar setiap unsur mampu menguji kesiapan sistem, sumber daya manusia, hingga koordinasi antarlembaga.
Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSA UGM, dr. Novi Zain, menjelaskan bahwa latihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian penting dari peningkatan mutu pelayanan sekaligus menjamin keselamatan pasien. Menurutnya, rumah sakit harus selalu siap menghadapi situasi yang datang tanpa peringatan. Karena itu, seluruh sistem diuji agar mampu memberikan pelayanan yang cepat, aman, efektif, dan tetap terkendali dalam kondisi paling kritis sekalipun.
Dalam simulasi tersebut, peserta menghadapi skenario gempa bumi tektonik-vulkanik berkekuatan besar dengan durasi sekitar 60 detik. Getaran gempa kemudian memicu dampak lanjutan berupa kebocoran gas yang berkembang menjadi ledakan dan kebakaran di area rumah sakit. Begitu status Code Disaster dinyatakan aktif, seluruh prosedur penanganan bencana langsung dijalankan. Sistem komando rumah sakit bekerja, petugas bergerak sesuai tugas masing-masing, alarm berbunyi, jalur evakuasi dibuka, hingga proses triase korban berlangsung sebagaimana situasi kedaruratan yang sesungguhnya.
Atmosfer simulasi terasa begitu realistis. Setiap tenaga kesehatan dituntut mengambil keputusan secara cepat dan tepat, sementara koordinasi antar tim menjadi kunci agar proses penyelamatan berjalan tanpa hambatan. Yang menarik, simulasi ini tidak hanya menguji kemampuan internal RSA UGM, tetapi juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi lintas sektoral. Berbagai instansi strategis hadir sebagai peserta sekaligus evaluator. Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengawasi kesiapan sistem pelayanan kesehatan dan rujukan saat bencana.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mensimulasikan pendirian tenda darurat dan koordinasi evakuasi skala besar. Personel Polsek Gamping mengamankan area vital dan mengatur pembatasan akses, sedangkan PMI Kabupaten Sleman, Forum Komunikasi Komunitas Relawan Kabupaten Sleman, puskesmas, serta Sleman Emergency Services (SES) melakukan simulasi mobilisasi korban dari luar rumah sakit.
Tim PK5L UGM turut berperan dalam pengondisian lapangan dan respons awal terhadap potensi kebakaran, sehingga seluruh skenario berjalan secara terpadu.
Ketua Tim Hospital Disaster Plan sekaligus Kepala Instalasi Gawat Darurat RSA UGM, Eko Purnomo, Ph.D., Sp.BA., Subsp.D.A.(K), menegaskan bahwa latihan berskala besar ini menjadi bukti nyata keseriusan RSA UGM dalam membangun budaya kesiapsiagaan. Menurutnya, rumah sakit modern tidak cukup hanya memiliki fasilitas medis yang lengkap. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan seluruh sumber daya ketika menghadapi situasi yang dapat mengancam keselamatan banyak orang.
Melalui latihan ini, setiap petugas memperoleh pengalaman langsung menghadapi tekanan, memperkuat koordinasi, sekaligus mengevaluasi setiap prosedur agar semakin efektif apabila bencana benar-benar terjadi. Di akhir kegiatan, jajaran Direksi dan seluruh sivitas hospitalia RSA UGM menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan, petugas keamanan, relawan, BPBD, PMI, Kepolisian, Dinas Pemadam Kebakaran, instansi pemerintah, hingga berbagai mitra yang terlibat dalam menyukseskan simulasi tersebut. Keberhasilan latihan ini menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan hanya tanggung jawab rumah sakit, melainkan hasil dari sinergi berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama, yakni melindungi keselamatan masyarakat.
RSA UGM juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir apabila di kemudian hari menjumpai kegiatan serupa. Simulasi merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapan menghadapi kondisi darurat, dan seluruh informasi resmi akan selalu disampaikan melalui kanal komunikasi resmi RSA UGM. Di wilayah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki potensi gempa bumi dan aktivitas vulkanik cukup tinggi, latihan semacam ini bukan sekadar formalitas. Simulasi menjadi investasi keselamatan yang sangat berharga, karena ketika bencana benar-benar datang, kesiapan adalah faktor yang menentukan antara kepanikan dan penyelamatan nyawa.Artikel ini telah disusun dengan gaya news feature, bernarasi kuat, ramah pembaca portal berita, SEO-friendly, serta memiliki unsur human interest yang berpotensi menarik perhatian pembaca di media digital. (Red)

