JANGAN CUMA GAYA, HARUS PAHAM UANG !! SABTU BESOK IKUTI JAGONGAN MUDA #21 BERTEMPAT BANGSAL SEWOKOPROJO GUNUNGKIDUL
Gunungkidul TV – Pagi di Bangsal Sewokoprojo, Gunungkidul, Sabtu (11/4/2026) mendatang, tak hanya akan diisi oleh sapaan hangat dan obrolan santai khas anak muda. Di balik suasana pendopo yang kental dengan nuansa budaya Jawa itu, sebuah percakapan penting tentang masa depan akan bergulir tentang uang, pilihan hidup, dan bagaimana generasi muda menata arah langkahnya.
Melalui gelaran Jagongan Muda #21, Komunitas Gunungkidul Menginspirasi kembali membuka ruang belajar yang tidak kaku, namun sarat makna. Mengusung tema “Smart Money, Smart Future: Generasi Muda Melek Finansial”, kegiatan ini menjadi refleksi dari kebutuhan zaman—di mana literasi finansial bukan lagi sekadar tambahan, melainkan bekal utama.
Di tengah arus gaya hidup digital, kemudahan transaksi, hingga maraknya investasi instan, generasi muda sering dihadapkan pada dua sisi mata uang: peluang dan jebakan. Tidak sedikit yang terjebak dalam konsumsi berlebih, pinjaman online, hingga keputusan finansial yang diambil tanpa pemahaman matang.
Jagongan Muda hadir menjembatani itu.
Bukan sekadar seminar, acara ini dikemas dalam format talkshow interaktif dan sharing session yang dekat dengan keseharian peserta. Diskusi akan mengalir ringan, namun tetap tajam—membahas bagaimana mengelola pemasukan, mengatur pengeluaran, hingga membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini. Dua narasumber dihadirkan untuk memperkaya perspektif. Dari dunia akademik, hadir Dr. Catarina Wahyu Dyah Purbaningrum, S.E., M.Pd., yang dikenal aktif mendorong penguatan karakter generasi muda. Sementara dari sisi praktis dan regulasi, Priscila Shinta K.D.P dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan membedah realitas finansial yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk risiko dan peluang di era digital.
Pertemuan ini bukan hanya tentang teori, tetapi tentang pengalaman dan realita. Peserta diajak berdialog, bertanya, bahkan berbagi cerita. Sebab, seringkali pelajaran paling berharga justru lahir dari kisah nyata—tentang gagal mengelola uang, terlilit utang, atau sebaliknya, berhasil bangkit dan mandiri secara finansial. Menariknya, Jagongan Muda tetap mempertahankan ciri khasnya: suasana hangat dan inklusif. Tak ada jarak antara pembicara dan peserta. Semua duduk dalam satu ruang, setara, saling mendengar dan menguatkan.
Selain ilmu, panitia juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari konsumsi, e-sertifikat, hingga doorprize menarik. Namun lebih dari itu, nilai utama yang dibawa pulang adalah kesadaran bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa bijak seseorang mengelolanya. Antusiasme peserta diperkirakan tinggi, mengingat kegiatan ini tidak dipungut biaya alias gratis, namun dengan kuota terbatas. Hal ini menjadi bukti bahwa isu literasi keuangan semakin mendapat perhatian, khususnya di kalangan generasi muda Gunungkidul.
Pada akhirnya, Jagongan Muda bukan sekadar acara. Ia adalah gerakan kecil yang terus tumbuh mengajak anak muda untuk tidak hanya bermimpi besar, tetapi juga berpikir strategis. Karena di dunia yang terus berubah, mereka yang mampu mengelola sumber daya, termasuk uang, adalah mereka yang lebih siap menghadapi masa depan.
Dan dari pendopo sederhana di jantung Gunungkidul itu, percakapan tentang masa depan pun dimulai. Sebuah langkah kecil, menuju generasi yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya.







