LAUTAN OBOR DAN GEMA TAKBIR PECAH DI KALURAHAN BANDUNG GUNUNGKIDUL RATUSAN WARGA TUMPAH RUAH SAMBUT IDUL FITRI 1447 H
Gunungkidul TV – Langit malam di Kalurahan Bandung, Kamis (19/03/2026), tampak berbeda dari biasanya. Udara terasa lebih hangat, bukan karena suhu, melainkan oleh semangat kebersamaan yang mengalir di setiap sudut kampung. Gema takbir mulai menggema, bersahut-sahutan, menandai datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
Ratusan warga dari delapan padukuhan tumpah ruah ke jalanan, mengikuti tradisi takbir keliling yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Mereka berjalan beriringan, menyusuri rute yang mengelilingi kalurahan, membawa obor, lampion, dan beragam atribut bernuansa Islami yang berpendar indah dalam gelap malam.
Cahaya-cahaya kecil itu seakan menjadi simbol harapan bahwa setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan, kini tibalah saat kemenangan yang dirayakan bersama. Di tengah keramaian, lantunan takbir, tahmid, dan tahlil terus berkumandang, menciptakan suasana religius yang menyentuh. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam irama yang sama, menyatukan langkah dan suara dalam harmoni kebersamaan. Tak hanya menjadi perayaan, momen ini juga menjadi ruang pertemuan sosial yang hangat, mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Bandung, Mawal Edi Tri Kusmantya, bersama jajaran aparat keamanan seperti Bhabinkamtibmas dan Babinsa, serta tokoh-tokoh agama setempat. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus memastikan keamanan. “Partisipasi warga malam ini luar biasa. Ini bukan sekadar tradisi, tapi juga bentuk syiar Islam dan momentum mempererat kebersamaan,” ujar Mawal di sela kegiatan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, keberhasilan takbir keliling tidak hanya diukur dari kemeriahannya, tetapi juga dari kedisiplinan dan rasa saling menghormati antar peserta maupun pengguna jalan. Di balik kemeriahan itu, peran jaga warga menjadi elemen penting yang sering luput dari sorotan. Mereka sigap mengatur arus peserta, memastikan keamanan, dan menjaga agar kegiatan tetap berjalan tertib hingga usai. Berkat kolaborasi ini, takbir keliling berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.
Bagi masyarakat Kalurahan Bandung, malam takbiran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ruang budaya, spiritualitas, dan kebersamaan yang menyatu dalam satu peristiwa. Tradisi ini tidak hanya dirawat, tetapi juga diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kearifan lokal yang memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Saat langkah terakhir peserta kembali ke titik awal, gema takbir masih terasa menggantung di udara. Malam itu pun menutup kisahnya dengan satu pesan sederhana namun mendalam: bahwa kebersamaan adalah cahaya yang tak pernah padam, selama terus dijaga dan dirawat bersama. (Red)







