LEBIH DARI SEKADAR TRADISI, SADRANAN MBAH JOBEH GUNUNGKIDUL SATUKAN 13 PADUKUHAN DI RONGKOP

Gunungkidul TV – Langit Kamis Kliwon di Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, tampak cerah. Sejak pagi, jalan-jalan desa mulai dipenuhi warga yang mengenakan pakaian adat Jawa. Di tangan mereka tersusun aneka hasil bumi yang dirangkai menjadi gunungan, simbol kemakmuran sekaligus ungkapan syukur yang telah diwariskan turun-temurun.

Suasana sakral dan meriah itu kembali hadir dalam Tradisi Sadranan Petilasan Mbah Jobeh, sebuah warisan budaya yang terus hidup dan dijaga masyarakat Kalurahan Petir. Tidak kurang dari 13 padukuhan turut ambil bagian dalam kirab budaya yang menjadi agenda tahunan sekaligus identitas masyarakat setempat.

Dari Pendopo Kalurahan Petir, rombongan kirab bergerak menuju Petilasan Mbah Jobeh. Langkah demi langkah para peserta diiringi semangat kebersamaan yang terasa begitu kuat. Gunungan hasil bumi yang diarak bukan sekadar rangkaian sayur, buah, dan hasil panen, tetapi juga menggambarkan harapan, doa, serta rasa syukur masyarakat atas rezeki yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Bagi warga Petir, Sadranan bukan hanya sebuah tradisi. Di balik prosesi yang berlangsung setiap tahun ini tersimpan nilai luhur tentang gotong royong, penghormatan kepada leluhur, dan ikatan sosial yang terus dipelihara lintas generasi.

Ratusan warga yang memadati jalur kirab tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Anak-anak, remaja, hingga orang tua menyatu dalam satu perayaan budaya yang memperlihatkan betapa kuatnya akar tradisi di tengah derasnya arus modernisasi. Kehadiran Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat Kalurahan Petir. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi konsistensi warga yang terus menjaga tradisi sehingga Kalurahan Petir mampu menyandang predikat sebagai Desa Mandiri Budaya. Menurut Endah, tradisi seperti Sadranan Petilasan Mbah Jobeh merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai. Selain menjadi identitas daerah, kegiatan tersebut juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Semangat serupa juga disampaikan Lurah Petir, Sarju Ia menegaskan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan antarwarga dari seluruh padukuhan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masyarakat Petir membuktikan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan. Justru melalui pelestarian budaya, mereka mampu memperkuat identitas desa sekaligus membuka peluang pengembangan potensi wisata berbasis budaya dan kearifan lokal.

Puncak kekhidmatan terjadi ketika prosesi doa bersama digelar di Petilasan Mbah Jobeh. Dipimpin oleh Juru Kunci Petilasan, Mbah Noto Sukamto, doa-doa dipanjatkan sebagai harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, kemakmuran, serta keberkahan dalam menjalani kehidupan. Keheningan yang menyelimuti lokasi petilasan menjadi momen refleksi yang menyatukan seluruh peserta. Di tempat yang sarat sejarah tersebut, nilai spiritual dan budaya berpadu menjadi satu, menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tengah kehidupan perkotaan. Namun, Sadranan Petilasan Mbah Jobeh tidak berhenti pada nuansa sakral semata. Setelah prosesi adat selesai, kemeriahan kembali terasa melalui pementasan Jathilan Panji Mudo Lelono dari Padukuhan Cabe. Atraksi seni tradisional yang enerjik itu langsung menyedot perhatian masyarakat dan tamu undangan.

Irama gamelan yang berpadu dengan gerak dinamis para penari menciptakan suasana meriah sekaligus menjadi pengingat bahwa seni tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Tradisi Sadranan Petilasan Mbah Jobeh hari ini bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah bukti bahwa budaya dapat terus hidup ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga dan mewariskannya. Dari kirab gunungan, doa bersama, hingga pentas kesenian rakyat, seluruh rangkaian acara menjadi simbol kuat bahwa warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirawat dan dibanggakan.

Di Kalurahan Petir, budaya bukan sekadar peninggalan sejarah. Budaya adalah identitas, kebanggaan, dan masa depan yang terus dihidupkan oleh masyarakatnya dari generasi ke generasi. (Red)

__Terbit pada
Agustus 6, 2026
__Kategori
News