BUKAN HANYA SEKADAR PERAYAAN MAULID NABI !! KANG JAY BONGKAR 4 KUNCI HIDUP BERKAH, RATUSAN JAMAAH PADATI MUSHOLA MIFTAHUL JANNAH GUNUNGKIDUL

Pengajian Akbar di Padukuhan Ploso 2 berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Sekitar 200 jamaah mendapat siraman rohani sekaligus paket sayur dan Mushaf Al-Qur’an melalui gerakan sedekah dan wakaf.

Gunungkidul TV — Malam itu, halaman Mushola Miftahul Jannah di Ploso 2 Sumberwungu Tepus berubah menjadi lautan manusia. Selepas azan dan salat Isya berjamaah, warga dari berbagai usia berdatangan. Tokoh masyarakat, orang tua, generasi muda hingga anak-anak dari dua padukuhan larut dalam suasana hangat dan penuh kekhusyukan. Mereka hadir bukan sekadar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di tengah kehidupan yang terus bergerak dan tantangan zaman yang semakin kompleks, warga diajak kembali menengok keteladanan Rasulullah sebagai pedoman menjalani kehidupan.

Malam itu, Remaja Islam Mushola Miftahul Jannah (Risma) menggelar Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan penceramah Kang Jay JSI Kamilasyada. Kehadiran Kang Jay membuat suasana pengajian semakin hidup. Pesan-pesan keagamaan disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga jamaah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak merenung dan bercermin.

Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni

Dalam tausiyahnya, Kang Jay mengingatkan bahwa Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Peringatan tersebut harus menjadi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata. Menurutnya, menjadi umat Nabi Muhammad SAW berarti memiliki tanggung jawab untuk membumikan ajaran dan akhlak beliau. Keteladanan itu dapat dimulai dari hal sederhana, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Menjadi pengikut Rasulullah berarti siap membumikan nilai-nilai kebaikan yang beliau ajarkan. Keberhasilan dan kedamaian hidup kita sangat ditentukan oleh sejauh mana kita mampu meneladani beliau,” tutur Kang Jay di hadapan jamaah.

Pesan tersebut kemudian dipertegas melalui empat sifat utama Rasulullah SAW yang disebut sebagai sifat wajib bagi Rasul: Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.

Empat Sifat Rasul, Empat Bekal Kehidupan

Pertama, Siddiq — kejujuran. Kang Jay mengajak jamaah membangun kehidupan dengan berpegang teguh pada kebenaran. Kejujuran bukan hanya tentang ucapan, tetapi juga kesesuaian antara perkataan, sikap dan perbuatan. Kedua, Amanah yakni dapat dipercaya. Setiap manusia memiliki tanggung jawab. Baik sebagai orang tua, anak, pekerja, pemimpin maupun anggota masyarakat. Amanah berarti mampu menjaga kepercayaan dan menunaikan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, Tabligh yakni menyampaikan kebaikan. Kebaikan, menurut Kang Jay, jangan berhenti pada diri sendiri. Setiap orang dapat menjadi penyebar pesan kedamaian, saling mengingatkan dalam kebaikan dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Dan keempat adalah Fathonah yakni cerdas dan bijaksana. Kecerdasan tidak hanya digunakan untuk mengejar keberhasilan duniawi. Akal dan hati harus berjalan bersama agar seseorang mampu menghadapi persoalan dengan bijaksana serta mengambil keputusan yang membawa kemaslahatan.

Empat sifat tersebut, apabila benar-benar menjadi karakter masyarakat, diyakini mampu membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis, tenteram dan penuh keberkahan.

Dari Siraman Rohani hingga Berbagi Sayuran

Menariknya, pengajian Maulid Nabi di Mushola Miftahul Jannah tidak hanya menghadirkan siraman rohani. Malam penuh keberkahan itu juga diisi dengan aksi sosial. Kang Jay turut menyalurkan program sedekah sayur serta wakaf Mushaf Al-Qur’an, hasil kerja sama dengan percetakan Al-Ansa Jogja. Sekitar 200 jamaah, yang didominasi kaum ibu, mendapatkan paket sayur segar sekaligus mushaf Al-Qur’an. Senyum jamaah pun menjadi pemandangan tersendiri. Pesan agama yang diterima melalui tausiyah seakan dilengkapi dengan kepedulian nyata yang bisa langsung dirasakan masyarakat.

Bagi warga, keberkahan malam itu tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga membawa manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Sesepuh Takmir Mushola Miftahul Jannah, Pak Widodo, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kami sangat bersyukur atas siraman rohani dan jasmani yang dihadirkan malam ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur sayur dan para wakif mushaf Al-Qur’an. Bantuan ini sangat bermanfaat dan membawa kebahagiaan tersendiri bagi jamaah kami,” ungkapnya.

Ketika Anak Muda Menghidupkan Masjid

Di balik meriahnya pengajian, ada semangat generasi muda yang patut mendapat perhatian. Remaja Islam Mushola Miftahul Jannah menjadi bagian penting dalam mengemas kegiatan tersebut secara rapi dan menarik. Kreativitas anak muda berpadu dengan semangat dakwah, menghadirkan ruang bagi warga untuk berkumpul, belajar dan mempererat silaturahmi. Inilah wajah lain dari peringatan Maulid Nabi. Bukan sekadar mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menghadirkan semangat beliau melalui tindakan nyata: jujur, amanah, menyebarkan kebaikan dan berpikir bijaksana.

Malam semakin larut ketika pengajian ditutup dengan doa bersama. Jamaah menengadahkan tangan, memohon keberkahan, keselamatan dan kebaikan bagi seluruh warga. Dari Mushola Miftahul Jannah, pesan Maulid Nabi pun menemukan maknanya yang sederhana namun mendalam: mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, tetapi dengan berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan. Sebab, ketika nilai-nilai itu tumbuh di tengah keluarga, masyarakat dan generasi muda, sebuah pengajian tidak berhenti ketika lampu mushola dipadamkan. Pesannya ikut pulang bersama jamaah menjadi bekal untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. (Red)

__Terbit pada
Agustus 25, 2026
__Kategori
News