MERAWAT SEMANGAT KADERISASI DEMI KEBERLANJUTAN DAKWAH MUHAMMADIYAH YANG BERKEMAJUAN
Muhammadiyah Jangan Sampai ’Gemuk’ Amal Usaha, Tetapi ’Kurus’ Kaderisasi. Lebih dari seabad Muhammadiyah berdiri. Tantangan terbesar hari ini bukan sekadar bagaimana memperbanyak sekolah, kampus, rumah sakit, atau amal usaha, tetapi memastikan masih ada generasi yang mau meneruskan gerakan dakwah ini dengan ideologi, ketulusan, dan semangat berkemajuan.
Gunungkidul TV — Sebuah gerakan besar hampir selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana. Pada 18 November 1912, di Kauman, Yogyakarta, KH Ahmad Dahlan memulai gerakan Muhammadiyah. Tidak ada gedung pencakar langit. Tidak ada jaringan lembaga pendidikan yang membentang dari kota hingga pelosok negeri. Tidak ada rumah sakit dan perguruan tinggi dalam jumlah besar. Yang ada adalah gagasan, keteladanan, ilmu, dan sekelompok manusia yang bersedia bergerak.
Dari kesederhanaan itulah sebuah gerakan tumbuh. Lebih dari satu abad kemudian, Muhammadiyah telah berkembang menjadi organisasi dengan ribuan amal usaha di berbagai bidang. Sekolah, madrasah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga ekonomi, hingga berbagai gerakan kemasyarakatan menjadi bagian dari wajah Muhammadiyah hari ini. Namun, di balik kemajuan itu ada satu pertanyaan yang layak terus diajukan: Apakah pertumbuhan amal usaha selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan kader? Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan capaian Muhammadiyah. Justru sebaliknya, pertanyaan ini penting agar kebesaran Muhammadiyah tidak berhenti pada banyaknya bangunan dan lembaga, tetapi tetap hidup sebagai gerakan dakwah.
Ketika Amal Usaha Besar, Tetapi Semangat Kaderisasi Menipis
KH Ahmad Dahlan memahami satu hal yang sangat mendasar: sebuah gagasan tidak akan bertahan hanya karena gagasan itu baik. Ia membutuhkan manusia yang mau menghidupkannya. Karena itulah pendidikan kader menjadi bagian penting dalam perjalanan awal Muhammadiyah. Beliau tidak sekadar menyampaikan pengetahuan. Murid-muridnya diajak berdiskusi, diajak berpikir, dan diajak mengamalkan apa yang telah dipelajari.
Kisah pembelajaran Surah Al-Ma’un menjadi salah satu contoh yang terus relevan. Ketika para murid telah mempelajari ayat tersebut, KH Ahmad Dahlan tidak berhenti pada hafalan dan pemahaman teks. Mereka diajak melihat realitas sosial: mencari orang miskin, membantu mereka, dan menghadirkan ajaran agama dalam kehidupan nyata. Di situlah pendidikan berubah menjadi gerakan.
Dari semangat kaderisasi tersebut, kemudian lahir berbagai wadah pembinaan generasi Muhammadiyah, mulai dari Hizbul Wathan, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, hingga Pemuda Muhammadiyah. Pesannya jelas: gerakan yang ingin berumur panjang harus mempersiapkan orang-orang yang akan melanjutkannya. Karena itu, menjadi relevan ketika dalam berbagai forum organisasi muncul kegelisahan tentang kaderisasi.
Jangan sampai Muhammadiyah menjadi “gemuk” dalam amal usaha, tetapi “kurus” dalam kaderisasi. Sebab sekolah, kampus, rumah sakit, dan berbagai lembaga yang besar tidak otomatis menjamin lahirnya kader yang memahami ideologi dan cita-cita gerakan.bAmal usaha bisa tumbuh secara administratif. Tetapi kader harus tumbuh secara ideologis, intelektual, spiritual, dan sosial.
Jangan Sampai Muhammadiyah Hanya Menjadi Tempat Bekerja
Ada persoalan lain yang juga perlu dibicarakan secara terbuka. Di tengah berkembangnya amal usaha, ada orang-orang yang bekerja di institusi Muhammadiyah, menerima penghasilan dari lembaga Muhammadiyah, tetapi belum tentu memahami sejarah, ideologi, tujuan, dan nilai-nilai gerakan Muhammadiyah. Jika hal itu dibiarkan, amal usaha berisiko kehilangan ruh gerakannya.
Lembaga memang tetap berjalan. Gaji tetap dibayarkan. Administrasi tetap dikerjakan. Target kelembagaan mungkin tetap tercapai. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah orang-orang di dalamnya ikut menghidupkan dakwah Muhammadiyah? Pesan yang sering dinisbatkan kepada KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan dari Muhammadiyah,” menjadi refleksi penting.
Amal usaha semestinya bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan pengabdian. Guru bukan sekadar mengajar.bDosen bukan sekadar memberikan kuliah. Tenaga kesehatan bukan sekadar memberikan pelayanan. Karyawan bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan. Semua dapat menjadi bagian dari ekosistem dakwah dan kaderisasi Muhammadiyah.
Generasi Muda Tidak Bisa Dikader Dengan Cara Lama Saja
Tantangan kaderisasi hari ini berbeda dengan masa lalu. Generasi muda tumbuh di tengah banjir informasi. Ponsel berada di tangan hampir setiap saat. Algoritma media sosial ikut menentukan apa yang mereka lihat, dengar, percaya, bahkan pertanyakan. Mimbar pengajian bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan.
Pertanyaan tentang agama, kehidupan, organisasi, bahkan ideologi bisa muncul dari TikTok, YouTube, Instagram, podcast, forum digital, dan berbagai platform lainnya.bKarena itu, kaderisasi Muhammadiyah juga harus hadir di ruang-ruang tersebut. Bukan dengan sekadar memindahkan materi pengajian ke media sosial. Tetapi dengan membangun ruang dialog yang membuat anak muda merasa didengar, dihargai, dan diberi kesempatan berpikir.
Kader tidak seharusnya hanya menjadi pendengar yang menerima semua materi tanpa ruang bertanya.bJustru kader yang berani bertanya, berdiskusi, bahkan menguji pemahaman, dapat tumbuh menjadi kader yang lebih matang. Kaderisasi bukan proses mencetak manusia agar seragam. Kaderisasi adalah proses menumbuhkan manusia agar memahami nilai, memiliki prinsip, dan mampu mengambil peran.
Darul Arqam Jangan Berhenti Di Sertifikat
Program seperti Darul Arqam dan Baitul Arqam memiliki posisi penting dalam kaderisasi Muhammadiyah. Namun, tantangannya adalah memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Jangan sampai seseorang datang mengikuti pengaderan, mengikuti seluruh sesi, mendapatkan sertifikat, lalu setelah itu tidak ada perubahan berarti dalam sikap maupun keterlibatannya.
Ukuran keberhasilan kaderisasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: “Sudah ikut pengaderan berapa kali?” Tetapi juga: “Setelah mengikuti pengaderan, apa yang berubah?”
Apakah semakin aktif? Apakah semakin peduli terhadap persoalan masyarakat? Apakah semakin memahami ideologi Muhammadiyah? Apakah semakin bersedia mengambil tanggung jawab? Apakah semakin siap berkhidmat tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi? Jika jawabannya tidak terlihat, mungkin ada yang perlu dibenahi dalam pola kaderisasi kita.
Ruang Kelas Bisa Menjadi ’Laboratorium’ Kaderisasi
Sebagai guru di sekolah Muhammadiyah, ruang kelas menurut saya merupakan salah satu ruang kaderisasi paling strategis. Sayangnya, ruang kelas sering dipandang hanya sebagai tempat transfer pengetahuan. Padahal, di sana terdapat generasi yang kelak akan menjadi pemimpin masyarakat. Mereka bukan hanya perlu diajari matematika, bahasa, sains, atau keterampilan kejuruan.
Mereka juga perlu dikenalkan pada nilai kejujuran, kepedulian sosial, keberanian berpikir, tanggung jawab, kerja sama, dan semangat berkontribusi. Nilai-nilai Muhammadiyah tidak harus selalu hadir dalam bentuk ceramah panjang. Ia bisa hadir melalui keteladanan guru melalui kegiatan sosial, mmelalui diskusi, melalui proyek kemanusiaan, melalui kepedulian terhadap lingkungan, melalui keberanian menyelesaikan persoalan masyarakat. Dengan demikian, sekolah Muhammadiyah bukan hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki kepedulian sosial dan semangat pengabdian.
Keluarga Juga Adalah Sekolah Kaderisasi
Kaderisasi tidak selalu lahir dari ruang pelatihan formal. Ada kader yang tumbuh karena melihat orang tuanya aktif di Muhammadiyah. Ada yang tumbuh karena sejak kecil terbiasa melihat keluarganya mengurus masjid, kegiatan sosial, pengajian, sekolah, atau aktivitas kemasyarakatan. Ada pula yang menemukan Muhammadiyah melalui pengalaman hidup dan perjumpaan dengan orang-orang yang memberikan keteladanan. Artinya, keluarga merupakan salah satu ruang penting dalam menjaga kesinambungan gerakan.
Kaderisasi tidak cukup dibicarakan dalam rapat. Ia harus hidup dalam keseharian. Sebab anak-anak muda lebih mudah menangkap keteladanan daripada slogan.
Muhammadiyah Membutuhkan Kader, Bukan Sekadar Pengguna Lembaga
Regenerasi kepemimpinan juga menjadi pekerjaan rumah. Jika anak muda terus ditempatkan hanya sebagai peserta kegiatan, panitia, atau pelaksana teknis tanpa ruang untuk mengambil keputusan dan memimpin, jangan heran apabila mereka merasa organisasi bukan milik mereka. Kaum muda membutuhkan ruang. Bukan sekadar ruang untuk hadir. Tetapi ruang untuk berpikir, berkreasi, mengambil keputusan, memimpin, melakukan kesalahan, belajar, dan memperbaiki diri.
Kaderisasi harus memberi kesempatan kepada generasi muda untuk mengalami langsung dinamika gerakan. Sebab seorang kader tidak lahir hanya karena membaca sejarah Muhammadiyah. Ia tumbuh ketika bersentuhan dengan persoalan nyata. Ketika harus mengambil tanggung jawab. Ketika belajar menghadapi perbedaan. Ketika bekerja bersama masyarakat. Dan ketika merasakan bahwa perjuangan organisasi memiliki makna bagi kehidupan.
Masa Depan Muhammadiyah Ditentukan Oleh Manusia Yang Mau Melanjutkan
Pada akhirnya, kebesaran Muhammadiyah tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak sekolah yang berdiri. Bukan hanya dari berapa banyak rumah sakit yang dibangun. Bukan pula semata-mata dari seberapa luas jaringan amal usahanya. Ada ukuran lain yang jauh lebih penting: Berapa banyak manusia yang bersedia melanjutkan gerakan ini dengan tulus? Sebab gedung dapat diwariskan. Aset dapat dikelola. Lembaga dapat diperbesar. Tetapi semangat gerakan harus terus ditanamkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Muhammadiyah telah melewati lebih dari satu abad. Pertanyaan kita bukan lagi sekadar “Seberapa besar Muhammadiyah hari ini?” Tetapi: “Muhammadiyah seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?”
Jika ingin tetap hidup dan relevan satu abad mendatang, maka kaderisasi tidak boleh menjadi agenda sampingan. Ia harus kembali ditempatkan sebagai jantung gerakan. Karena amal usaha tanpa kaderisasi dapat kehilangan ruh. Tetapi kaderisasi yang hidup akan selalu menemukan jalan untuk melahirkan amal usaha baru.
Maka, merawat kaderisasi bukan sekadar merawat organisasi. Merawat kaderisasi berarti merawat masa depan dakwah Muhammadiyah.
Ditulis oleh:
Eka Setiawan
Guru SMK Muhammadiyah Ponjong (Siswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah PWM DIY)







