SPEKTAKULER !! SANGGAR SURYA ASMARALOKA RESMI BERDIRI, JADI MOTOR BARU BUDAYA GUNUNGKIDUL

Gunungkidul TV – Malam turun perlahan di Kalangan, Kalurahan Ngipak. Langit Karangmojo membentang gelap, namun di sebuah sudut Padukuhan Kalangan 2, cahaya justru tumbuh hangat, hidup, dan penuh makna.

Di sana, bukan sekadar lampu yang menyala. Ada harapan yang dipantik, ada ingatan yang dihidupkan kembali, dan ada masa depan yang mulai ditenun dari jejak-jejak tradisi. Sabtu malam (28/03/2026), menjadi saksi lahirnya sebuah ruang bernama Sanggar Seni Surya Asmaraloka.

Namun lebih dari itu, malam itu adalah tentang pertemuan: antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan generasi muda, antara sunyi yang lama terpendam dan gemuruh yang akhirnya dilepaskan.

Segalanya dimulai dengan lirih.

Alunan musik tradisional mengalir seperti angin yang menyusup di sela pepohonan. Dari balik panggung, para penari melangkah pelan. Sintren hadir dengan nuansa magisnya, seolah membawa penonton memasuki dunia yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Disusul Gambang Suling, Kencana Wingka, hingga Nawung Sekar setiap gerak adalah cerita, setiap irama adalah ingatan.

Waktu seperti melambat.

Penonton tak sekadar menyaksikan, mereka larut. Mata mengikuti setiap lekuk tari, telinga menangkap tiap denting nada, sementara hati diam-diam dipenuhi rasa yang sulit diberi nama.

Lalu, malam berubah. Irama menguat, hentakan mulai terasa. Jaranan mengguncang tanah, Warok berdiri gagah dengan aura yang nyaris mistis, Ganong menari liar penuh energi, dan Sigrak Wanodyatama menutup rangkaian dengan ledakan semangat yang memecah sunyi. Sorak sorai pecah, menggema, membubung ke langit malam. Di titik itu, seni bukan lagi tontonan. Ia menjadi pengalaman. Ia menjadi denyut.

Di balik panggung, ada cerita yang lebih sunyi namun tak kalah kuat.

Pratisna atau yang lebih akrab disapa Mas Sibagz berdiri sebagai salah satu penjaga nyala itu. Bukan dengan sorotan lampu, melainkan dengan ketekunan yang telah ia rawat selama dua tahun terakhir. Sanggar ini, katanya, bukan sesuatu yang lahir dalam sekejap. Ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil, dari latihan sederhana, dari anak-anak muda yang memilih pulang untuk menjaga apa yang hampir hilang.

Sekitar 50 orang kini menjadi bagian dari perjalanan itu. Mereka datang dari lingkungan sekitar, membawa satu kesamaan: keinginan untuk tidak membiarkan budaya hanya menjadi cerita masa lalu. “Harapannya ini bisa jadi embrio,” ucapnya singkat.

Namun dari kesederhanaan kata itu, tersimpan sesuatu yang lebih besar tentang mimpi yang ingin terus tumbuh.

Malam itu, Kalangan tak lagi terasa kecil.

Puluhan sanggar dari berbagai penjuru Gunungkidul datang, membawa warna masing-masing. Mereka tidak bersaing, tidak pula berdiri sendiri. Mereka menyatu, seperti mozaik yang membentuk satu gambar utuh: kebudayaan yang hidup. Di antara mereka, hadir pula para tokoh mewakili pemerintah, budaya, hingga garis sejarah Keraton. Kehadiran R.M. Kukuh Hertriasning, cucu Sri Sultan HB VIII, menjadi pengingat bahwa tradisi bukan sekadar warisan, tetapi juga amanah.

Pesannya sederhana, namun menggema panjang: bahwa semangat ini tidak boleh berhenti di malam peresmian. Sementara itu, Kepala Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarta, melihat lebih jauh bahwa ruang seperti ini bukan hanya panggung seni, tetapi fondasi bagi masa depan kebudayaan daerah.

Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, di mana modernitas kerap menenggelamkan akar, Sanggar Surya Asmaraloka hadir sebagai jeda. Ia bukan penolakan terhadap perubahan, melainkan cara untuk tetap berdiri tegak di dalamnya.

Di sana, generasi muda belajar bukan hanya menari atau memainkan peran, tetapi juga memahami siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka akan melangkah.

Menjelang akhir, sebuah tumpeng dihadirkan

Dalam tradisi Jawa, ia bukan sekadar hidangan, melainkan simbol: tentang syukur, tentang kebersamaan, tentang harapan yang dipanjatkan dalam diam. Prosesi mbabar tumpeng dilakukan dengan khidmat, seolah merangkum seluruh energi malam itu ke dalam satu titik yang sakral. Namun bahkan ketika acara resmi usai, malam belum benar-benar selesai.

Pertunjukan terus berlanjut. Tawa, tepuk tangan, dan percakapan mengalir tanpa jeda. Orang-orang enggan pulang terlalu cepat—seakan tahu bahwa apa yang terjadi malam itu bukan sesuatu yang datang setiap hari.

Ketika akhirnya waktu bergerak menuju dini hari, satu hal menjadi jelas: Dari Kalangan, sebuah nyala telah lahir. Ia mungkin kecil, sederhana, dan jauh dari hiruk pikuk kota besar. Namun seperti api yang dijaga dengan kesabaran, ia punya potensi untuk membesar menerangi, menghangatkan, dan menuntun arah.

Sanggar Seni Surya Asmaraloka kini berdiri

Bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya para seniman, tetapi sebagai rumah bagi ingatan, ruang bagi harapan, dan panggung bagi masa depan budaya yang tak ingin padam.

__Terbit pada
Maret 30, 2026
__Kategori
News