SYAWALAN HPI GUNUNGKIDUL 2026 SATUKAN PELAKU WISATA, PERKUAT KOMITMEN PARIWISATA BERKELANJUTAN
Gunungkidul TV – Di tengah suasana hangat bulan Syawal, semangat kebersamaan terasa begitu kental di Kampung Jelok, Gunungkidul. Jumat, 27 Maret 2026 menjadi momentum istimewa bagi para pelaku wisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Gunungkidul untuk saling bersilaturahmi sekaligus memperkuat komitmen bersama membangun pariwisata yang berkelanjutan.
Kegiatan Syawalan ini bukan sekadar tradisi pasca lebaran. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang temu lintas sektor pelaku wisata yang selama ini menjadi tulang punggung industri pariwisata di Gunungkidul. Dalam suasana yang penuh keakraban, para peserta saling bertukar gagasan, pengalaman, hingga harapan untuk masa depan pariwisata daerah.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Pemuda Olahraga Gunungkidul yang diwakili oleh Sofyan Dwi Aryanto selaku Ketua Tim Kerja Promosi Wisata. Selain itu, turut hadir Ketua DPD HPI DIY, para Ketua DPC HPI se-DIY, serta berbagai elemen strategis lainnya seperti Ketua Badan Promosi Gunungkidul, PHRI, GKTC, PPJI, Pokdarwis, Desa Wisata, komunitas outbound, hingga para tour leader.
Keberagaman latar belakang peserta justru menjadi kekuatan utama dalam forum ini. Semua pihak duduk bersama tanpa sekat, menyadari bahwa kemajuan pariwisata Gunungkidul tidak bisa dibangun secara parsial, melainkan melalui kolaborasi yang solid.
Dalam sambutannya, Sofyan Dwi Aryanto menegaskan pentingnya sinergi antar pelaku wisata. Ia menyampaikan bahwa promosi wisata yang efektif tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kekompakan seluruh elemen di lapangan. “Gunungkidul punya potensi luar biasa. Tapi tanpa kebersamaan dan komitmen menjaga kualitas serta keberlanjutan, potensi itu tidak akan maksimal,” ungkapnya.
Sementara itu, perwakilan HPI menekankan bahwa pramuwisata memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membentuk citra destinasi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas, profesionalisme, serta etika pelayanan menjadi hal yang terus didorong.
Momentum Syawalan ini juga menjadi refleksi bersama. Bahwa di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan, tantangan juga semakin kompleks mulai dari pengelolaan destinasi, kualitas layanan, hingga isu keberlanjutan lingkungan.
Kampung Jelok yang menjadi lokasi kegiatan seakan menjadi simbol harmoni antara alam, budaya, dan masyarakat. Di tempat inilah, semangat gotong royong kembali diteguhkan. Bahwa pariwisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi juga tentang menjaga warisan, memberdayakan masyarakat, dan memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan doa bersama, menguatkan harapan agar silaturahmi yang terjalin tidak berhenti di momen Syawal saja, tetapi terus berlanjut dalam kerja nyata.
Dari Kampung Jelok, pesan itu mengalir jelas Pariwisata Gunungkidul akan semakin kuat jika semua pihak berjalan bersama, saling mendukung, dan memiliki visi yang sama membangun destinasi yang berdaya saing, berkarakter, dan berkelanjutan.







