DESA WISATA GROGOL PALIYAN BERSIAP NAIK KELAS, PEMBINAAN DISPAREKRAFPORA GUNUNGKIDUL FOKUS PADA HOMESTAY HINGGA PEMASARAN

Dari standar homestay hingga strategi pemasaran, pembinaan desa wisata di Grogol menjadi langkah memperkuat daya tarik wisata berbasis potensi lokal dan kesiapan masyarakat.

Gunungkidul TV — Desa wisata tidak cukup hanya memiliki panorama alam, tradisi, maupun potensi budaya. Di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin dinamis, pengelolaan yang profesional, fasilitas yang layak, serta kemampuan memasarkan potensi menjadi bagian penting agar sebuah desa wisata mampu tumbuh dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Semangat itulah yang menjadi bagian dari agenda Pembinaan Desa Wisata Agustus 2026 yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Pemuda Olahraga Kabupaten Gunungkidul yang berlangsung di Balai Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, Kamis (20/08/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Program PIS (Pagu Indikatif Sektoral) Kegiatan Pembinaan Desa Wisata yang digelar oleh Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul. Bukan sekadar pertemuan seremonial, agenda pembinaan ini dirancang untuk menyentuh sejumlah aspek penting dalam pengembangan Desa Wisata Grogol. Mulai dari kesiapan akomodasi, pengemasan potensi wisata, hingga strategi pemasaran menjadi materi utama yang akan dibahas.

Homestay Jadi Salah Satu Kunci

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah standar kelayakan homestay di desa wisata. Homestay bukan hanya tempat wisatawan menginap. Dalam konsep pariwisata berbasis masyarakat, keberadaan homestay dapat menjadi pintu masuk wisatawan untuk merasakan kehidupan lokal secara lebih dekat. Karena itu, kelayakan fasilitas, kenyamanan, kebersihan, pelayanan, serta kemampuan pengelola dalam memberikan pengalaman kepada wisatawan menjadi faktor penting.

Materi tersebut dijadwalkan disampaikan oleh Heru Purwanto pada pukul 10.30–11.15 WIB. Pembahasan kemudian berlanjut pada materi pemaketan di desa wisata yang dijadwalkan berlangsung pukul 11.15–12.00 WIB, dengan narasumber Mursidi.

Pemaketan menjadi bagian strategis karena potensi wisata yang berdiri sendiri sering kali belum cukup untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama. Atraksi, kuliner, budaya, pengalaman masyarakat, hingga akomodasi dapat dikemas menjadi satu rangkaian perjalanan yang lebih menarik. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang, melihat, kemudian pulang, tetapi memiliki alasan untuk menikmati lebih banyak pengalaman di Desa Wisata Grogol.

Melibatkan Pengelola dan Pokdarwis

Menariknya, pembinaan ini tidak hanya menyasar unsur pemerintah. Daftar undangan menunjukkan keterlibatan berbagai elemen yang berhubungan langsung dengan pengelolaan desa wisata. Mereka antara lain Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga, Panewu Paliyan, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Ketua Tim Kerja Kelembagaan, Ketua Tim Kerja ODTW, Ketua Tim Kerja Sarana Wisata, Lurah Grogol, Ketua Pokdarwis Kaloka Astha, serta Ketua Desa Wisata Grogol. Selain itu, turut diundang 14 anggota Pokdarwis Kaloka Astha dan 14 orang pengelola Desa Wisata Grogol.

Komposisi peserta tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan kerja bersama. Pemerintah berperan memberikan pembinaan dan penguatan kapasitas, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan sekaligus pelaku utama di lapangan.

Dari Potensi Lokal Menuju Produk Wisata

Grogol memiliki modal penting untuk dikembangkan sebagai destinasi berbasis masyarakat. Namun, potensi tidak akan otomatis berubah menjadi produk wisata tanpa pengelolaan yang terarah. Karena itu, pembinaan seperti ini menjadi ruang untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat kemampuan pengelola dalam menerjemahkan potensi lokal menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai jual.

Tidak kalah penting adalah bagaimana produk tersebut diperkenalkan kepada pasar. Di era digital, promosi desa wisata tidak lagi hanya mengandalkan spanduk, brosur, atau informasi dari mulut ke mulut. Cerita mengenai destinasi, visual yang menarik, paket perjalanan, pelayanan, hingga pengalaman wisatawan dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran. Dengan pemaketan yang tepat dan promosi yang konsisten, desa wisata memiliki peluang menjangkau wisatawan yang lebih luas.

Dibuka dengan Semangat Kebangsaan

Berdasarkan susunan acara, kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dengan registrasi peserta. Setelah itu, acara dilanjutkan pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sesi sambutan dijadwalkan berlangsung pukul 09.45–10.30 WIB, dengan agenda sambutan dari Lurah Grogol, Panewu Paliyan, serta Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga.

Setelah sesi materi, peserta mendapatkan kesempatan mengikuti diskusi dan tanya jawab pada pukul 12.00–12.30 WIB. Forum kemudian ditutup dan dilanjutkan ishoma. Sesi diskusi menjadi bagian penting karena persoalan pengembangan desa wisata tidak selalu sama di setiap wilayah. Pengelola di lapangan dapat menyampaikan tantangan, kebutuhan, maupun potensi yang perlu mendapatkan penguatan.

Membangun Wisata yang Menghidupkan Ekonomi Warga

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah desa wisata tidak semata-mata diukur dari jumlah wisatawan yang datang. Lebih jauh, desa wisata diharapkan mampu membuka ruang ekonomi bagi masyarakat. Homestay dapat menggerakkan ekonomi keluarga. Kuliner dapat menjadi produk unggulan. Produk kerajinan dapat memperoleh pasar baru. Pemandu lokal dapat memiliki kesempatan kerja. Sementara berbagai potensi budaya dan tradisi tetap hidup karena mendapatkan ruang dalam aktivitas pariwisata.

Di titik inilah pembinaan Desa Wisata Grogol menjadi relevan. Penguatan standar homestay, pemaketan produk wisata, kelembagaan, sarana, serta pemasaran merupakan mata rantai yang saling berkaitan. Jika dikelola secara konsisten, potensi tersebut dapat menjadi fondasi bagi Grogol untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih tertata dan berdaya saing. Bukan hanya membuat wisatawan datang, tetapi membuat mereka tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, dan membawa pulang cerita tentang Grogol.

Dari desa, pariwisata tumbuh. Dari masyarakat, ekonomi bergerak. Dan dari potensi lokal yang dikelola bersama, sebuah desa wisata dapat naik kelas. (Red)

__Terbit pada
Agustus 20, 2026
__Kategori
News