110 TAHUN KALURAHAN MERTELU GUNUNGKIDUL !! MENYUSURI JEJAK SEJARAH KALURAHAN DI LERENG GEDANGSARI YANG TERUS BERGERAK DI ERA DIGITAL
Lahir pada 17 Mei 1916, Kalurahan Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul, menyimpan perjalanan panjang lebih dari satu abad dari pemerintahan masa lalu, pergantian generasi, hingga transformasi pelayanan dan pemetaan digital menuju masa depan.
Gunungkidul TV — Ada wilayah yang tumbuh karena pembangunan. Ada pula wilayah yang menjadi kuat karena mampu menjaga ingatan tentang masa lalu, sembari terus bergerak menghadapi masa depan. Di kawasan Kapanewon Gedangsari Kabupaten Gunungkidul, perjalanan panjang itu dapat ditemukan di Kalurahan Mertelu.
Sekilas, Mertelu mungkin tampak seperti kalurahan biasa pada umumnya. Namun di balik kehidupan masyarakatnya hari ini, tersimpan kisah panjang yang telah melewati lebih dari satu abad. Jejak sejarah Mertelu bahkan membawa kita kembali ke 17 Mei 1916 tanggal yang dicatat sebagai tonggak berdirinya Kalurahan Mertelu.
Dari 1916, Mertelu Memulai Perjalanan
Pada awal abad ke-20, tata pemerintahan desa di wilayah Yogyakarta mengalami perubahan. Berbagai aturan pemerintahan desa menjadi pijakan terbentuknya pemerintahan lokal. Dalam catatan sejarah Kalurahan Mertelu, Rijkblad van Yogyakarta Nomor 12 Tahun 1916 menjadi salah satu dasar penting. Pada masa itu, Mertelu berada dalam wilayah Onderdistrik Nglipar. Dari sinilah perjalanan panjang pemerintahan Mertelu dimulai.
Nama-nama pemimpin pun silih berganti. Ki Sodimedjo tercatat sebagai lurah pertama dan memimpin pada 1916 hingga 1942. Kemudian estafet kepemimpinan diteruskan Sastro Redjo, sebelum Mertelu memasuki masa kepemimpinan panjang Wignyo Samsodjo yang berlangsung sejak 1946 hingga 1990. Empat dekade lebih bukanlah waktu yang singkat. Di tengah perubahan zaman, pemerintahan desa terus berjalan. Generasi berganti, masyarakat berkembang, sementara Mertelu tetap mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari perjalanan panjang Gunungkidul.
Dari Generasi ke Generasi
Memasuki era 1990-an, roda pemerintahan kembali mengalami pergantian. Setelah masa pelaksana tugas K. Broto Atmodjo, kepemimpinan Mertelu dilanjutkan Mudjikan, yang menjabat pada 1993 hingga 2012. Berikutnya, Bopo Tugiman memimpin pada 2012–2018. Kemudian di tahun 2018, kepemimpinan beralih kepada Sukirno.
Rangkaian pergantian tersebut menunjukkan satu hal penting yakni sejarah Kalurahan Mertelu bukan hanya tentang pergantian seorang lurah. Lebih dari itu, setiap periode kepemimpinan membawa cerita mengenai bagaimana masyarakat menghadapi perubahan sosial, pembangunan, kebutuhan pelayanan publik, serta tantangan zaman.
Sepuluh Padukuhan, Satu Identitas Kalurahan Mertelu
Hari ini, Mertelu merupakan salah satu dari 144 kalurahan yang masuk di Kabupaten Gunungkidul, termasuk bagian dari Kapanewon Gedangsari. Wilayahnya terbagi menjadi 10 padukuhan, yakni Piji, Mertelu Kulon, Mertelu Wetan, Mertelu, Gandu, Krinjing, Baturturu, Soko, Guyangan Kidul dan Guyangan Lor.
Dengan luas wilayah sekira 9,74 kilometer persegi, kehidupan masyarakat Mertelu tersebar dalam bentang wilayah perdesaan yang menjadi bagian dari karakter khas Gedangsari. Di tempat-tempat inilah kehidupan masyarakat berlangsung dari hari ke hari. Ada aktivitas pemerintahan. Ada kehidupan sosial. Ada kegiatan radisi dan budaya. Ada pula semangat warga untuk membangun wilayahnya. Karena sejatinya, sebuah kalurahan tidak pernah hanya dibangun oleh kantor pemerintah. Ia tumbuh dari rumah-rumah warga, jalan-jalan kampung, kegiatan masyarakat, gotong royong, tradisi, serta anak-anak muda yang menjadi generasi penerus.
Ketika Sejarah Tidak Lagi Hanya Menjadi Cerita
Salah satu hal menarik dari perjalanan Mertelu adalah upaya untuk tidak membiarkan sejarah berhenti sebagai cerita dari mulut ke mulut. Pemerintah Kalurahan Mertelu bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul pernah melakukan penulisan sejarah kalurahan. Hasilnya kemudian dibahas dalam Bedah Buku Sejarah Kalurahan Mertelu yang digelar di Taman Budaya Gunungkidul pada 9 Desember 2022. Langkah ini menjadi penting. Sebab ketika sebuah generasi mengenal sejarah tempat tinggalnya, mereka bukan sekadar mengetahui tanggal dan nama tokoh.
Mereka belajar memahami dari mana sebuah wilayah berasal. Mengapa pemerintahan terbentuk. Bagaimana masyarakat bertahan. Dan nilai apa yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari Sejarah Menuju Era Digital
Namun Kalurahan Mertelu tidak akan berhenti hanya dengan menatap masa lalu, di tengah perkembangan teknologi, pemerintahan kalurahan juga mulai bergerak menuju tata kelola yang semakin modern. Dokumentasi kegiatan pemerintahan menunjukkan adanya upaya memperkuat administrasi, pembaruan data serta pemetaan wilayah.
Bahkan pada 2026, dilakukan pengukuran batas wilayah padukuhan sebagai bagian dari penyusunan peta digital. Ini menjadi gambaran menarik tentang bagaimana sebuah kalurahan berusia lebih dari satu abad menghadapi era baru. Dulu, batas wilayah dan administrasi dicatat dengan cara yang jauh berbeda.bKini, teknologi digital menjadi bagian dari upaya memperjelas data dan memperkuat pelayanan pemerintahan. Perubahan zaman ternyata tidak harus menghapus sejarah. Justru teknologi dapat digunakan untuk membantu menjaga dan mendokumentasikannya.
Kalurahan Mertelu dan Tantangan Masa Depan
Lebih dari satu abad perjalanan tentu bukan akhir cerita. Justru setelah melewati begitu banyak perubahan, Mertelu kini menghadapi tantangan baru. Bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat? Bagaimana mengembangkan potensi ekonomi lokal? Bagaimana membuka ruang lebih luas bagi generasi muda? Bagaimana menjaga budaya dan sejarah agar tidak hilang di tengah arus modernisasi?
Dan yang tidak kalah penting bagaimana menjadikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat di seluruh padukuhan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan bersama. Pemerintah kalurahan memiliki peran penting. Tetapi masyarakat adalah kekuatan utamanya. Sebab Mertelu bukan hanya sebuah wilayah administratif. Kalurahan Mertelu adalah rumah bagi masyarakat yang telah menjaga kehidupan wilayah ini dari generasi ke generasi.
110 Tahun Lebih, Ceritanya Belum Selesai
Jika 17 Mei 1916 menjadi titik awal yang dicatat dalam sejarah, maka setiap hari setelahnya adalah halaman baru perjalanan Mertelu. Dari Ki Sodimedjo hingga para pemimpin setelahnya. Dari pemerintahan desa pada masa lalu hingga kalurahan di era digital. Dari administrasi manual hingga peta digital. Dari cerita para sesepuh hingga dokumentasi sejarah yang mulai dibukukan. Semua menjadi bagian dari satu perjalanan panjang.
Kalurahan Mertelu telah melewati lebih dari satu abad. Tetapi sejarahnya belum selesai. Karena sejarah sebuah kalurahan bukan hanya apa yang telah terjadi di masa lalu. Sejarah juga tentang apa yang dilakukan masyarakatnya hari ini dan warisan seperti apa yang akan ditinggalkan untuk generasi yang akan datang.
Dari lereng Kapanewon Gedangsari, Kakurahan Mertelu seakan mengirimkan satu pesan sederhana yakni masa lalu adalah akar. Hari ini adalah perjalanan. Dan masa depan adalah cerita yang sedang ditulis bersama.
Gunungkidul TV mengabarkan, menginspirasi, mencerahkan, dan mendokumentasikan narasi sejarah dan perkembangan masyarakat dan wilayah Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bukti bahwa kita bangga menjadi salah satu bagian dari Bangsa dan Warga Negara Indonesia dengan cara cerdas dan berbudaya.







