5 RIBU LITER AIR DISULAP JADI LAYAK KONSUMSI !! WATER TREATMENT POLDA DIY BANTU WARGA SIDOHARJO GUNUNGKIDUL HADAPI KEKERINGAN
Di tengah musim kekeringan, warga Sidoharjo tak hanya mendapat dropping air, tetapi juga teknologi pengolahan air yang membuat 5.000 liter air baku bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Gunungkidul TV – Ketika musim kemarau semakin panjang, setiap tetes air menjadi begitu berharga. Di sejumlah wilayah Gunungkidul, masyarakat harus kembali berhadapan dengan persoalan klasik: bagaimana mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Namun di Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Jumat (11/9/2026), bantuan air datang dengan cara yang sedikit berbeda.
Bukan sekadar mengirim air bersih dalam tangki, kali ini air baku yang tersedia di tampungan milik kalurahan diolah terlebih dahulu menggunakan perangkat water treatment milik Satuan Brimob Polda DIY. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Polda DIY, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pemerintah Daerah DIY sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi dampak kekeringan.
5.000 Liter Air Baku Diproses
Sebanyak sekitar 5.000 liter air baku yang tersimpan di tampungan Kalurahan Sidoharjo diproses menggunakan perangkat water treatment. Teknologi tersebut bekerja untuk membantu membersihkan air dari kotoran, zat-zat tertentu maupun mikroorganisme sehingga air hasil pengolahan dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai standar dan peruntukannya.
Salah satu parameter yang menjadi perhatian adalah tingkat keasaman atau pH air, yang dilakukan pengecekan secara berkala dengan kisaran 6,5 hingga 8,5. Setelah melalui proses pengolahan, air kemudian disalurkan kepada masyarakat yang datang membawa wadah penampung masing-masing. Hari ini, kurang lebih 300 galon berhasil disalurkan kepada warga. Pemandangan tersebut menjadi gambaran sederhana bagaimana teknologi bisa hadir di tengah persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: air.
Warga Datang Membawa Galon
Satu per satu warga mendatangi lokasi dengan membawa galon atau wadah penampung air. Bagi masyarakat yang sedang menghadapi keterbatasan air bersih, bantuan tersebut tentu memiliki arti penting. Air bukan sekadar kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menyangkut kesehatan, kebersihan dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari.
Antusiasme warga pun cukup tinggi. Namun tingginya kebutuhan sekaligus menjadi catatan tersendiri. Jika kegiatan serupa kembali dilaksanakan, pengaturan antrean dan penerima bantuan perlu dipersiapkan dengan baik agar proses distribusi tetap tertib dan tidak menimbulkan kerumunan.
Kolaborasi Hadir di Tengah Kekeringan
Kegiatan tersebut dihadiri Kapolsek Tepus AKP Suryanto, Panit Tipikor Polda DIY AKP Ibnu Ali, Kanit Binmas Polsek Tepus IPTU Sukrisno, KBO Samapta Polres Gunungkidul IPDA Widodo, Dantim Satbrimob Polda DIY IPDA Kusworo, Lurah Sidoharjo Evi Nurcahyani, S.I.P., serta masyarakat.
Personel Satbrimob Polda DIY bersama personel Polres Gunungkidul dan Polsek Tepus turut terlibat dalam pengamanan dan pelaksanaan kegiatan. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak selalu harus dilakukan dengan satu cara.
Ketika sumber air yang tersedia masih dapat diolah, teknologi water treatment dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu menyediakan air yang lebih layak bagi masyarakat.
Galon Bersih, Air Lebih Aman
Di balik bantuan air tersebut, ada satu hal penting yang tak boleh dilupakan: kebersihan wadah penampung. Masyarakat diimbau memastikan galon, jeriken maupun wadah lainnya yang digunakan untuk mengambil air benar-benar bersih sebelum diisi. Sebab, kualitas air yang sudah melalui proses pengolahan tetap harus dijaga setelah keluar dari mesin. Wadah yang kotor berpotensi mencemari kembali air yang telah diproses.
Edukasi sederhana ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga agar bantuan air benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Ketika Teknologi Bertemu Kepedulian
Kekeringan memang belum serta-merta selesai hanya dengan satu kali bantuan. Tetapi di tengah keterbatasan, kehadiran water treatment memberikan pesan bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi krisis air.
Hari itu, sekitar 5.000 liter air baku diproses. Ratusan galon dibawa pulang warga. Di tengah musim kemarau yang membuat air begitu berharga, teknologi akhirnya bukan sekadar mesin. Ia menjadi bagian dari ikhtiar mengubah air yang tersedia menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Dan dari Sidoharjo, Tepus, sebuah pesan sederhana kembali mengemuka: ketika air menjadi langka, kolaborasi dan kepedulian menjadi sama berharganya dengan setiap tetes air. (Red)







