CUMA SOAL KOMPOR, TAPI DAMPAKNYA NASIONAL !! PESAN BAHLIL INI BIKIN KAGET
Gunungkidul TV – Di tengah hiruk-pikuk aktivitas menjelang Lebaran, ketika dapur-dapur rumah tangga semakin sibuk dan konsumsi energi meningkat, sebuah pesan sederhana namun bermakna besar disampaikan oleh Bahlil Lahadalia. Bukan tentang kebijakan besar yang rumit, melainkan kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian: mematikan kompor tepat waktu.
Dalam konferensi pers daring dari Colomadu, Kamis (26/3/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu mengajak masyarakat untuk memulai gerakan penghematan energi dari dapur masing-masing. Baginya, ketahanan energi nasional bukan hanya urusan pemerintah atau industri besar, tetapi juga tentang keputusan sederhana yang diambil setiap hari oleh jutaan keluarga Indonesia. “Kalau masak pakai LPG, jika masakannya sudah matang, alangkah baiknya langsung dimatikan. Jangan boros,” ujarnya tegas, namun tetap membumi.

Pesan tersebut terasa relevan di momen seperti sekarang. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, konsumsi gas Elpiji (LPG) cenderung meningkat seiring tradisi memasak hidangan khas Lebaran. Di sinilah, menurut Bahlil, peran masyarakat menjadi sangat krusial. Bukan karena stok energi langka pemerintah memastikan pasokan dalam kondisi aman melainkan sebagai upaya menjaga keberlanjutan dalam jangka panjang.
Ada keyakinan yang ia tanamkan: perubahan kecil, jika dilakukan secara kolektif, mampu menciptakan dampak besar. Mematikan api kompor beberapa menit lebih cepat, misalnya, jika dilakukan oleh jutaan rumah tangga, dapat menghemat energi dalam skala nasional. Lebih jauh, pemerintah juga tidak tinggal diam. Di balik imbauan sederhana itu, terdapat langkah-langkah strategis yang tengah disiapkan. Salah satunya adalah kajian terhadap kebijakan Work From Home (WFH) sebagai upaya menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Wacana ini bukan tanpa alasan. Dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, menjadi faktor yang terus dipantau karena berpotensi memengaruhi rantai pasok energi dunia. Dalam situasi seperti ini, efisiensi menjadi kunci. “Semua kemungkinan bisa terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan penghematan terhadap BBM,” ungkap Bahlil dalam kesempatan terpisah di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Namun di balik berbagai skenario tersebut, pemerintah tetap memberikan kabar yang menenangkan. Menjelang Lebaran 2026, ketahanan energi nasional berada dalam kondisi terkendali. Stok BBM, LPG, hingga batu bara untuk pembangkit listrik dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat. Pemantauan pun dilakukan secara real-time untuk memastikan distribusi energi tetap lancar, sehingga masyarakat dapat menjalani aktivitas termasuk tradisi mudik dan perayaan Lebaran tanpa hambatan berarti.

Pada akhirnya, cerita tentang energi ini bukan sekadar soal angka, stok, atau kebijakan. Ini adalah tentang kolaborasi. Tentang bagaimana negara dan rakyat berjalan beriringan, menjaga apa yang dimiliki bersama.
Dari nyala api kecil di dapur rumah, hingga kebijakan nasional di tingkat kementerian semuanya terhubung dalam satu tujuan: memastikan energi Indonesia tetap cukup, berkelanjutan, dan berdaulat. Dan mungkin, dari langkah sederhana mematikan kompor tepat waktu, sebuah perubahan besar sedang dimulai. (Red)








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.