DITEMUKAN SITUS GROGOL PALIYAN GUNUNGKIDUL DIDUGA PENINGGALAN ERA MEGALITIKUM

Gunungkidul TV – Di balik rimbunnya pepohonan Alas Wana Budho, Padukuhan Gerjo, Kalurahan Grogol, Kapanewon Paliyan, tersimpan sebuah kisah yang seolah menghubungkan masa kini dengan peradaban ribuan tahun silam. Kawasan hutan yang selama ini tampak sunyi itu mendadak menjadi pusat perhatian setelah ditemukan sejumlah kubur batu yang diduga merupakan peninggalan era Megalitikum.

Penemuan ini bukan sekadar temuan arkeologi biasa. Bagi para peneliti, setiap lempengan batu yang tersusun rapi menyimpan potongan cerita tentang kehidupan masyarakat kuno yang pernah menghuni kawasan selatan Gunungkidul. Sementara bagi masyarakat, kabar tersebut menghadirkan rasa penasaran sekaligus kebanggaan karena wilayah mereka berpotensi menyimpan warisan budaya bernilai tinggi.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul, Agus Mantara, menjelaskan bahwa kubur batu ditemukan dalam kondisi insitu, yakni masih berada pada posisi aslinya dan belum mengalami perpindahan. Kondisi tersebut menjadi nilai penting dalam penelitian arkeologi karena dapat memberikan informasi yang lebih utuh mengenai tata cara penguburan masyarakat pada masa lampau. Hingga saat ini, sedikitnya tiga kubur batu telah teridentifikasi dalam satu klaster. Dua di antaranya berada berdekatan, sedangkan satu lainnya ditemukan pada titik yang relatif berjauhan. Melihat karakter kawasan dan kondisi tanah di sekitarnya, para peneliti menduga masih terdapat kubur batu lain yang masih tersembunyi di bawah permukaan.

Kubur batu tersebut berbentuk menyerupai peti yang disusun dari lempengan-lempengan batu. Struktur semacam ini dikenal sebagai salah satu bentuk tradisi penguburan kuno yang berkembang pada masa prasejarah di berbagai wilayah Nusantara. Meski demikian, asal-usul dan usia pasti situs tersebut masih menjadi teka-teki. Agus Mantara mengungkapkan bahwa hingga kini terdapat dua kemungkinan mengenai periodisasi temuan tersebut, yakni berasal dari masa klasik atau bahkan jauh lebih tua, yaitu masa prasejarah atau Megalitikum. Seluruh dugaan itu masih memerlukan penelitian ilmiah yang lebih mendalam sebelum dapat dipastikan kepada publik.

Untuk mengungkap misteri tersebut, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul akan menggandeng berbagai pihak, mulai dari arkeolog, akademisi hingga Tim Ahli Cagar Budaya. Hasil kajian nantinya akan menjadi dasar rekomendasi kepada Bupati Gunungkidul dalam menetapkan status benda cagar budaya sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Di sisi lain, Lurah Grogol, Latif Wahyudi, menjelaskan bahwa lokasi penemuan berada di kawasan hutan milik Perhutani. Pemerintah kalurahan telah berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Dinas Kebudayaan DIY, serta para arkeolog untuk memastikan langkah-langkah pelestarian dapat segera dilakukan. Ia berharap kawasan tersebut segera mendapatkan penetapan resmi beserta penanda lokasi agar keberadaannya lebih mudah dikenali sekaligus terlindungi. Tak kalah penting, masyarakat juga diimbau ikut menjaga dan mengamankan situs agar tidak mengalami kerusakan maupun kehilangan akibat ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Temuan di Alas Wana Budho menjadi pengingat bahwa Gunungkidul bukan hanya dikenal karena pantai, gua, dan bentang alam karstnya. Di balik tanah yang tampak biasa, tersimpan jejak-jejak peradaban yang masih menunggu untuk diungkap. Boleh jadi, kubur batu di Grogol hanyalah awal dari rangkaian penemuan yang lebih besar. Jika penelitian membuktikan bahwa situs ini benar berasal dari era Megalitikum, maka Gunungkidul kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu wilayah penting dalam peta sejarah peradaban Nusantara.

Kini, publik menanti hasil kajian para ahli. Sementara waktu terus berjalan, hutan yang dahulu sunyi itu perlahan berubah menjadi saksi bisu lahirnya babak baru dalam perjalanan sejarah Gunungkidul. (Red)

__Terbit pada
Mei 3, 2025
__Kategori
News